Gencatan Senjata Palsu, Pembunuhan Terus Berlanjut di Gaza
Oleh: Pudji Arijanti
(Pegiat Literasi untuk Peradaban)
SSCQMedia.Com—Kisah Gaza seolah tak pernah berakhir, seiring dengan deretan tragedi yang terus menyertainya. Ada satu pertanyaan besar yang belum juga terjawab: kapankah rakyat Gaza dapat hidup bahagia dan merdeka, menjalani hari-hari dengan tenang tanpa penindasan dan desingan peluru yang terus menghantui?
Gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat dikabarkan mulai berlaku pada Oktober 2025. Namun, faktanya, serangan militer Israel terhadap Jalur Gaza tidak juga berhenti. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat bahwa jumlah korban tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata diberlakukan telah melampaui 1.000 jiwa.
Di sisi lain, berbagai laporan menunjukkan bahwa zionis terus melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata. Sementara itu, Amerika Serikat sebagai mediator sekaligus sekutu utama Israel tetap memberikan dukungan politik dan militer kepada rezim tersebut. Kondisi ini semakin memperlihatkan bahwa gencatan senjata belum mampu menghentikan pembunuhan dan penderitaan rakyat Palestina (aljazeera.com, 24/6/2026).
AS Pembohong Abadi
Faktanya, gencatan senjata tidak benar-benar menghentikan agresi zionis terhadap rakyat Palestina. Sebaliknya, kesepakatan tersebut justru memberi kesan seolah-olah situasi telah mereda di hadapan dunia internasional, padahal serangan dan pembunuhan terhadap warga sipil terus berlangsung. Karena itu, gencatan senjata lebih tampak sebagai strategi politik untuk meredam tekanan dan opini publik dunia, sementara zionis tetap leluasa melanjutkan agresinya dengan dukungan negara-negara Barat.
Di sisi lain, Amerika Serikat seolah bertindak sebagai penjamin gencatan senjata. Padahal, kita mengetahui bahwa AS merupakan sekutu utama Israel sehingga jelas tidak dapat diposisikan sebagai pihak yang adil. Selama ini, AS tetap memberikan dukungan politik, diplomatik, maupun militer kepada Israel. Karena itu, mengandalkan negara penjajah dalam urusan umat Islam merupakan kesalahan fatal yang justru melanggengkan penjajahan.
Persoalan utama yang dihadapi umat Islam bukan semata-mata pelanggaran terhadap gencatan senjata, melainkan tidak adanya junnah (perisai) yang melindungi umat Islam, yakni Khilafah Islamiah. Kepemimpinan ini dipandang sebagai pelindung keamanan umat, penjaga darah dan kehormatan mereka, serta pembela wilayah kaum muslim. Karena itu, selama umat Islam tidak memiliki pelindung yang mampu menjalankan fungsi tersebut, dinilai tidak akan ada jaminan perlindungan yang kokoh bagi kaum muslim.
Hanya Jihad Fisabilillah
Umat Islam tidak boleh berharap kepada orang kafir dalam setiap urusannya. Sikap demikian dinilai sama dengan melanggengkan penjajahan. Terlebih lagi jika pembelaan terhadap Palestina hanya berharap pada resolusi PBB, hal itu diibaratkan bagai pungguk merindukan bulan. Karena itu, umat Islam harus mengambil solusi Islam dalam setiap lini kehidupan, termasuk dalam menyelesaikan persoalan Palestina.
Oleh sebab itu, penulis berpandangan bahwa satu-satunya solusi untuk mengusir penjajah zionis dari tanah Palestina adalah melalui jihad fisabilillah yang merupakan kewajiban syar'i. Dengan jihad fisabilillah, penderitaan rakyat Palestina akibat penjajahan diyakini dapat diakhiri. Jihad fisabilillah juga dipandang sebagai kekuatan besar yang mampu menyatukan umat dalam satu komando di bawah panji-panji Khilafah.
Umat harus memperjuangkan tegaknya kembali Khilafah. Khilafah dipandang sebagai perisai kaum muslim yang akan menjaga setiap jengkal tanah mereka. Di bawah panji "Laa ilaaha illallah", Khilafah diyakini memiliki kekuatan untuk menyatukan politik dan militer sehingga mampu membebaskan Palestina dari cengkeraman zionis beserta sekutunya.
Penutup
Pembebasan Palestina tidak hanya menjadi tanggung jawab rakyat Palestina, tetapi juga menjadi tanggung jawab seluruh umat Islam. Karena itu, umat tidak cukup hanya menunjukkan simpati, memanjatkan doa, atau memberikan bantuan kemanusiaan semata. Umat juga harus berjuang bersama mewujudkan persatuan dan kekuatan yang diyakini mampu mengakhiri penjajahan di seluruh negeri kaum muslimin.
Wallahualam bissawab. [Ni/WA]
Baca juga:
0 Comments: