Oleh: Zhiya Kelana
(Kontributor SSCQMedia.com)
SSCQMedia.com—Gencatan senjata diumumkan, dunia bertepuk tangan, tetapi bom tetap jatuh di Gaza. Darah anak-anak Palestina terus mengalir. Inilah bukti bahwa selembar perjanjian tidak pernah mampu menghentikan mesin pembunuh Zionis. Yang berhenti hanyalah sorotan kamera media, bukan peluru.
Gencatan Senjata, Nyawa Tetap Melayang
Lebih dari 1.000 orang tewas akibat serangan Israel di Gaza sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat (AS) diberlakukan pada Oktober 2025. Angka tersebut terus bertambah setiap hari. Pelanggaran dilakukan secara sistematis melalui serangan udara, pengepungan bantuan, hingga penembakan terhadap warga yang mengantre makanan (Al Jazeera, 18/6/2026).
Ironisnya, AS yang menjadi penjamin gencatan senjata justru menjadi sponsor utama pembantaian. Responsible Statecraft, pada 15 Juni 2026, merilis data bahwa bantuan militer AS kepada Israel terus mengalir tanpa henti, bahkan meningkat selama masa "gencatan senjata". Dengan demikian, satu tangan menandatangani perdamaian, sementara tangan yang lain mengirim rudal.
Damai di Atas Kertas, Genosida di Lapangan
Cara mereka menipu dunia adalah dengan berpura-pura menandatangani perjanjian damai, sementara kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik. Pembunuhan terhadap rakyat Gaza terus berlangsung. Ada beberapa poin yang perlu diperhatikan.
Pertama, gencatan senjata merupakan strategi Barat. Tujuannya bukan menghentikan pembunuhan, melainkan meredam kemarahan dunia. Saat opini global memanas, AS menawarkan "solusi" berupa gencatan senjata. Dunia merasa lega, demonstrasi mereda, dan pemberitaan pun berkurang. Sementara itu, Zionis tetap melakukan pembunuhan secara "terukur", misalnya 20 orang hari ini dan 30 orang keesokan harinya, agar tidak menjadi perhatian besar. Genosida pun dibungkus dengan prosedur.
Kedua, AS mustahil bersikap adil. Bagaimana mungkin penjajah menjadi juru damai? AS merupakan sekutu ideologis sekaligus militer Zionis. Menggantungkan nasib Gaza kepada AS sama saja dengan meminta serigala menjaga domba. Hasilnya telah terlihat, lebih dari 1.000 nyawa melayang setelah "perdamaian" diteken. Berharap kepada musuh merupakan bentuk bunuh diri politik.
Ketiga, umat tanpa perisai. Pelanggaran gencatan senjata hanyalah gejala. Penyakit utamanya adalah ketiadaan junnah, yaitu perisai pelindung umat. Sejak Khilafah diruntuhkan pada 1924, tanah Palestina menjadi sasaran penjajahan. Zionis berani karena mengetahui tidak ada satu pun tentara Muslim yang akan mengirim rudal balasan. Adapun PBB dan OKI dinilai hanya mengeluarkan kecaman melalui siaran pers. Lalu, bagaimana solusi dalam Islam?
Jihad dan Khilafah Solusi Hakiki
Allah Swt. berfirman, "Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS. Al-Baqarah: 190).
Ayat tersebut dijadikan dalil bahwa melawan penjajah merupakan kewajiban syar'i, bukan sekadar pilihan.
Pertama, berhenti berharap kepada pihak yang dipandang sebagai penjajah. Umat Islam dipandang tidak boleh menggantungkan urusan kepada AS, PBB, maupun lembaga yang dianggap mewakili sistem kufur lainnya. Mereka dinilai sebagai bagian dari persoalan, bukan solusi. Berunding dengan pihak yang dianggap sebagai pelaku pembunuhan demi memperoleh keadilan dipandang sebagai kehinaan. Palestina, menurut pandangan ini, hanya akan merdeka apabila umat mengambil solusi Islam, bukan solusi dari Washington.
Kedua, jihad fi sabilillah dipandang sebagai satu-satunya jalan. Zionis dipandang bukan sekadar tetangga yang bermasalah, melainkan penjajah bersenjata. Tidak ada sejarah yang menunjukkan bahwa penjajah pergi hanya karena selembar perjanjian. Mereka pergi karena dipaksa oleh kekuatan. Oleh sebab itu, jihad untuk mengusir Zionis dari tanah Palestina dipandang sebagai fardu ain bagi kaum Muslim yang berada di wilayah terdekat dan fardu kifayah bagi seluruh umat. Pelaksanaan jihad tersebut diyakini akan lebih ringan apabila umat bersatu di bawah satu komando.
Ketiga, Khilafah dipandang sebagai perisai umat. Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya imam (khalifah) itu adalah perisai. Orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya." (HR. Muslim).
Menurut pandangan penulis, tanpa Khilafah, Gaza akan menghadapi perjuangannya sendirian. Sebaliknya, dengan Khilafah, satu nyawa Muslim di Rafah diyakini akan dibalas dengan mobilisasi pasukan dari Jakarta hingga Istanbul. Karena itu, Zionis dipandang paling khawatir apabila umat membicarakan Khilafah.
Gencatan senjata palsu akan terus terjadi selama Khilafah belum tegak. Hari ini lebih dari 1.000 nyawa melayang, besok jumlahnya bisa mencapai 10.000, karena Zionis dinilai hanya memahami bahasa kekuatan. Dunia, menurut pandangan penulis, tidak lagi membutuhkan air mata dan donasi semata, melainkan kekuatan pasukan.
Oleh karena itu, tugas umat hari ini bukan mengirim proposal perdamaian kepada AS, melainkan berjuang mewujudkan Khilafah. Sebab, menurut pandangan penulis, hanya Khilafah yang akan mengirim pasukan, bukan sekadar surat protes. Hanya Khilafah yang akan membebaskan Al-Aqsa, bukan lembaga swadaya masyarakat. Sudah saatnya Gaza tidak lagi dikorbankan di meja perundingan. Saatnya umat bangkit, menyatukan barisan, dan menegakkan perisai.
Wallahualam bissawab. [An/Iwp]
Baca juga:
0 Comments: