Oleh: Ummu Fahhala
(Pegiat Literasi)
SSCQMedia.Com— Realitas di Gaza kembali menampar nurani dunia. Ketika istilah "gencatan senjata" digaungkan, yang tersisa di lapangan justru deru ledakan dan tangis kehilangan. Fakta menunjukkan bahwa sejak gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat diberlakukan pada Oktober 2025, korban tewas akibat serangan Israel telah melampaui 1.000 jiwa. Angka ini bukan sekadar statistik. Angka tersebut merupakan potret nyata dari kegagalan komitmen kemanusiaan global (Aljazeera, 18/06/2026).
Sementara itu, dukungan Amerika Serikat terhadap Israel terus mengalir dalam berbagai bentuk, termasuk bantuan militer yang konsisten. Hal ini memperkuat dugaan bahwa posisinya sebagai "penjamin perdamaian" tidak berdiri di atas prinsip netralitas, melainkan kepentingan strategis (Responsible Statecraft, 17/06/2026).
Dalam perspektif intelektual, fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah gencatan senjata benar-benar dimaksudkan untuk menghentikan kekerasan atau sekadar menjadi instrumen politik untuk meredam tekanan opini publik global? Jika kekerasan tetap berlangsung secara sistematis, istilah "gencatan" kehilangan makna substantifnya.
Solusi Islam
Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi keadilan memberikan panduan yang jelas dalam menyikapi kezaliman.
Allah Swt. berfirman,
"Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka …"
(QS. Hud [11]: 113)
Ayat ini mengandung peringatan keras agar kaum muslim tidak menggantungkan harapan kepada pihak yang jelas-jelas melakukan kezaliman. Ketergantungan semacam ini bukan hanya keliru secara strategis, tetapi juga bertentangan dengan prinsip akidah.
Lebih jauh, Rasulullah saw. bersabda,
"Imam (pemimpin) adalah perisai (junnah). Orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya."
(HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan pentingnya keberadaan kepemimpinan yang melindungi umat. Dalam konteks Gaza, ketiadaan kekuatan politik yang benar-benar melindungi kaum muslim menjadi salah satu faktor yang memperpanjang penderitaan. Masalahnya bukan semata-mata pelanggaran gencatan senjata, melainkan absennya perlindungan yang efektif bagi umat.
Namun demikian, penting untuk bersikap jernih dan proporsional. Solusi terhadap konflik yang kompleks tidak dapat direduksi menjadi narasi tunggal. Islam memang mensyariatkan pembelaan terhadap tanah dan kehormatan, tetapi juga menekankan hikmah, persatuan, dan pertimbangan maslahat yang luas.
Allah Swt. berfirman,
"Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah …"
(QS. Al-Anfal [8]: 61)
Ayat ini menunjukkan bahwa perdamaian tetap menjadi tujuan utama selama tidak menjadi kedok bagi kezaliman yang berkelanjutan. Di sinilah letak problem Gaza hari ini. Perdamaian yang ditawarkan tidak menghentikan agresi, melainkan hanya menunda atau mengatur ritmenya.
Dalam kerangka yang konstruktif, umat Islam perlu membangun kesadaran kolektif yang lebih matang. Pertama, tidak menggantungkan nasib sepenuhnya kepada kekuatan eksternal yang memiliki konflik kepentingan. Kedua, memperkuat solidaritas global umat dalam berbagai aspek, mencakup kemanusiaan, diplomasi, dan advokasi. Ketiga, mendorong hadirnya kepemimpinan yang mampu melindungi dan memperjuangkan kepentingan umat secara adil dan berdaulat.
Narasi tentang persatuan umat sering kali terdengar idealistis, tetapi memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam.
Allah Swt. berfirman,
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara …"
(QS. Al-Hujurat [49]: 10)
Persaudaraan ini bukan sekadar simbolik, melainkan harus terwujud dalam aksi nyata yang terukur dan berkelanjutan.
Khatimah
Pada akhirnya, tragedi Gaza menjadi cermin bagi dunia tentang bagaimana kekuatan politik dapat membungkus kepentingan dengan retorika perdamaian. Peristiwa ini juga menjadi cermin bagi umat Islam tentang pentingnya kemandirian, persatuan, dan kepemimpinan yang berfungsi sebagai pelindung.
Gencatan senjata yang sejati bukan sekadar berhentinya tembakan, melainkan terjaminnya kehidupan yang aman dan bermartabat. Selama hal itu belum terwujud, yang ada hanyalah jeda semu di tengah luka yang terus menganga. [Hz/Wa]
Baca juga:
0 Comments: