Oleh: Rya
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com – Sungguh mengejutkan hasil survei terhadap Generasi Z (Gen Z) di Indonesia. Survei tersebut menunjukkan bahwa 60 persen Gen Z merasa khawatir terhadap masa depan, 57 persen mengalami tekanan finansial, 42 persen terbebani ekspektasi sosial, dan 36 persen merasa tidak berdaya menghadapi situasi yang berada di luar kendali mereka (GoodStats, 8 April 2026).
Menurut Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, penyebab masalah kesehatan mental pada anak dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal. Faktor internal berkaitan dengan kondisi pribadi anak dan pola pengasuhan keluarga, sedangkan faktor eksternal berasal dari lingkungan sosial serta pengaruh media sosial (Tirto.id, 12 Maret 2026).
Ternyata, kecemasan yang dialami Gen Z tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga melanda berbagai negara di dunia. Setidaknya 262 juta Gen Z di dunia tidak bersekolah, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan. Mereka dirundung kecemasan terhadap masa depan (Kompas.id, 27 Februari 2026).
Krisis yang melanda Gen Z bukan hanya krisis kesehatan mental, tetapi juga krisis multidimensi yang memicu kecemasan. Akar persoalan tersebut dipandang berasal dari sistem kehidupan sekuler kapitalisme. Dalam sistem ini, manusia didorong mengejar standar kesuksesan material yang tinggi. Media sosial turut memperparah budaya saling membandingkan gaya hidup, sementara sistem ekonomi yang timpang membuat banyak generasi muda merasa semakin terhimpit.
Potensi besar mereka juga dilemahkan oleh berbagai fenomena yang dinilai merusak jati diri, seperti gaya hidup sekuler, tren pergaulan bebas, throning (berkencan untuk menaikkan status sosial), kohabitasi (kumpul kebo), zina, waithood (sengaja menunda pernikahan demi menikmati kebebasan), dan childfree (pasangan yang memutuskan tidak memiliki anak), serta berbagai fenomena lainnya.
Sayangnya, ketika Gen Z mengalami tekanan, mereka justru kerap dianggap berlebihan, manja, dan tidak tahan banting serta diberi stigma negatif oleh generasi sebelumnya. Padahal, persoalan yang mereka hadapi jauh lebih kompleks dibandingkan generasi terdahulu. Sementara itu, negara dinilai belum maksimal dalam melindungi dan membina generasi muda karena lebih berperan sebagai regulator. Di sisi lain, kecemasan dan sikap kritis Gen Z sesungguhnya dapat menjadi modal untuk mendorong perubahan menuju kondisi yang lebih baik apabila diarahkan dengan benar. Sebagian Gen Z pun mulai mempertanyakan arah hidup mereka dan menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan sistem yang mengatur kehidupan saat ini.
Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna yang berasal dari Allah Swt. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan sekaligus menawarkan solusi atas berbagai persoalan manusia. Dalam Islam, tujuan hidup bukan semata-mata meraih materi, melainkan menggapai rida Allah Swt. serta mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil 'alamin. Dengan demikian, kehidupan manusia akan dipenuhi ketenangan dan ketenteraman.
Pada masa kejayaan Islam, generasi muda memiliki karakter yang kuat dan kokoh. Mereka dibina dengan kepribadian Islam sehingga siap menghadapi berbagai keadaan. Mereka juga didorong untuk menguasai berbagai disiplin ilmu. Kondisi tersebut semakin kondusif dengan hadirnya negara sebagai pelindung sekaligus pelayan rakyat. Negara menjamin kebutuhan pokok berupa sandang, pangan, dan papan, serta memenuhi kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Dengan jaminan tersebut, para pemuda dapat berkembang secara optimal tanpa dihantui kecemasan terhadap masa depan.
Oleh karena itu, penting untuk mengarahkan para pemuda kepada kesadaran yang benar agar kegelisahan tidak berujung pada keputusasaan. Mereka harus menyadari bahwa dirinya merupakan agen perubahan yang siap mengemban Islam serta memiliki kepedulian terhadap umat dan dunia. Dengan demikian, bukan tidak mungkin kondisi yang lebih baik dapat segera terwujud.
Wallahualam bissawab. [My/En]
Baca juga:
0 Comments: