Headlines
Loading...

Oleh: Ratty S. Leman
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQMedia.com—"Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu, dan (jadikanlah) dari keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu. Tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan manasik (rangkaian ibadah) haji dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang." (QS Al-Baqarah: 128).

Kemarin saat Magrib, kita di Indonesia sudah memasuki 9 Zulhijah 1447 H. Doa-doa pun sudah bisa mulai dipanjatkan. Waktu yang paling afdal memang setelah Zuhur hingga Magrib nanti. Bahkan, kita dapat memperpanjang munajat hingga fajar keesokan harinya.

Saudara-saudara kita yang sedang berada di Mina menuju Arafah atau yang telah berada di Arafah baru memasuki 9 Zulhijah sekitar pukul 22.00 atau 23.00 WIB. Perbedaan waktu Indonesia dan Arab Saudi sekitar empat jam.

Pagi ini, pukul 06.00 WIB, di Arafah masih menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Adapun waktu wukuf dimulai setelah zawal (tergelincir matahari), yakni saat Zuhur nanti. Jika kita ingin memanfaatkan waktu berdoa bertepatan dengan waktu wukuf di Arafah, persiapkan diri sejak setelah salat Asar hingga Magrib tiba untuk berdoa dengan khusyuk.

Sahabat Surga Cinta Qur'an yang dirahmati Allah, sudahkah terasa getaran indah dari Padang Arafah sampai ke hati pagi ini?

Selepas tahajud tadi, di salah satu grup WhatsApp yang saya ikuti, terdapat sebuah Zoom dengan tema yang hampir sama dengan tema SSCQ, yakni "Getaran Arafah".

Jemaah diajak merasakan sensasi suasana Arafah, melangitkan doa-doa yang hari ini diharapkan tidak akan ditolak oleh Allah Swt. Hati ini bergetar, kulit merinding mendengarkan gema talbiyah. Terharu melihat para jemaah calon haji yang berangkat menuju Arafah.

Ya Allah, hamba ingin kembali merasakan getaran Arafah.

Air mata menetes saat mengingat perjalanan haji yang terasa belum sempurna. Saat itu saya tidak melaksanakan Tarwiyah. Suami yang sempat melaksanakannya pernah berkata, "Kita pasti merasakan kekurangan dalam ibadah kita. Kurang khusyuk, kurang afdal, kurang menjalankan sunah, kurang pandai memanfaatkan waktu, tidak bisa mabit di Muzdalifah dengan baik, dan berbagai kekurangan lainnya. Insyaallah haji kita diterima. Berbaik sangkalah kepada Allah. Kita sudah berusaha maksimal. Jika pada kenyataannya harus seperti itu, itulah ketentuan Allah."

Namun, hati ini tetap merasa iri kepada mereka yang bisa berulang kali berhaji tanpa daftar tunggu yang panjang. Apa gerangan amalan mereka, ya Allah, hingga Engkau berkenan memanggil mereka kembali lagi dan lagi ke Tanah Suci? Begitu mudah, seolah hendak pergi ke pasar kapan saja mereka mau.

Hari ini saya ingin getaran Arafah hadir dalam seluruh aktivitas saya. Sudah saya susun jadwal pagi, siang, sore, dan malam. Sudah saya tulis pula doa-doa yang hendak saya langitkan.

Hari ini saya ingin memiliki waktu khusus bersama Allah, bermunajat dan mencurahkan segala isi hati kepada-Nya. Jika selama ini saya hanya sering menyebut asma-Nya, hari ini saya ingin benar-benar berbicara kepada-Mu, ya Allah. Mengakui segala dosa, kesalahan, kekhilafan, dan kelalaian. Membuat komitmen baru untuk menyambut Tahun Baru Hijriah selepas bulan Zulhijah ini.

Rangkaian bulan haram, yaitu Zulqaidah, Zulhijah, dan Muharam, ingin saya isi dengan amal saleh yang Engkau ridhai. Bantulah hamba, ya Allah, menjadi insan yang lebih baik.

Getaran indah di Arafah saat berhaji dahulu juga, alhamdulillah, pernah saya rasakan. Saat itu, saat ini, dan semoga kelak saya dapat kembali ke Arafah atas izin Allah.

Malam menjelang wukuf itu terasa begitu syahdu. Hati begitu damai. Kalimat-kalimat indah berloncatan dalam benak dan pikiran.

"Ya Allah, malam ini saya benar-benar merasa mendapatkan rahmat-Mu."

Bulan bersinar terang tepat di atas kepala. Bintang-bintang seolah tersenyum di atas tenda-tenda Arafah. Hamba-Mu yang hina dina ini merasa mendapatkan sambutan dari-Mu.

"Selamat datang, hamba-Ku."

Saya semakin tenggelam dalam perenungan dan munajat.

"Terima kasih, ya Allah, atas segala nikmat yang tak pernah mampu saya hitung."

Malam itu saya berdoa sepuas hati, menumpahkan segala rasa kepada Rabb. Esoknya adalah Hari Arafah, hari ketika doa-doa begitu diharapkan untuk dikabulkan. Namun, siapa yang melarang kita berdoa pada malam itu? Meski tidak melaksanakan Tarwiyah terlebih dahulu, saya membiarkan diri menumpahkan seluruh isi hati kepada Allah Yang Maha Rahman lagi Maha Rahim.

Malam menjelang wukuf di Arafah itu terasa damai dan bening. Namun, di dalamnya ada tangisan kecil yang memecah sunyi malam.

"Izinkan saya mencintai-Mu, ya Allah, lebih dari apa pun. Tiada sekutu bagi-Mu."

Indahnya getaran Arafah menyelimuti diri ini saat itu, hari ini, dan semoga kelak saya dapat kembali merasakannya.

Amin ya Mujib as-Sailin.

Bogor, 26 Mei 2026

[Hz/UF]

Baca juga:

0 Comments: