Oleh: Isnawati
(Muslimah Penulis Peradaban)
SSCQmedia.com—Tidak ada takdir buruk dalam kehidupan manusia. Semua yang Allah tetapkan pasti mengandung kebaikan.
Namun, manusia sering keliru dalam memandang ketentuan Allah Swt. Ketika sesuatu terasa tidak menyenangkan atau tidak sesuai keinginan, ia langsung menyebutnya sebagai musibah atau azab. Bahkan, tak jarang menilai orang lain sebagai kurang berzikir, kurang bersedekah, atau belum maksimal dalam beramal.
Padahal, bisa jadi melalui ujian tersebut Allah sedang menyiapkan kebaikan yang besar. Sebaliknya, saat memperoleh kenikmatan, manusia merasa itu murni hasil usahanya, padahal bisa jadi itu adalah ujian yang melalaikan.
Begitulah manusia—mudah menilai, menyimpulkan, dan berbicara, padahal setiap jiwa memiliki cerita, setiap langkah diiringi doa dan air mata. Ketika salah dalam menyikapi, maka solusi yang diambil pun menjadi keliru.
Sesungguhnya, persoalan bukan terletak pada ketetapan Allah, melainkan pada manusia yang masih fakir ilmu.
Islam telah memberikan panduan yang jelas. Ketika menghadapi sesuatu yang terasa berat, seorang Muslim diperintahkan untuk tetap bersyukur dengan mengucapkan Alhamdulillah ‘ala kulli hal, yang berarti “segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan.”
Sikap ini bukan bentuk kepasrahan tanpa makna, melainkan wujud keyakinan bahwa Allah tidak pernah salah dalam menetapkan sesuatu. Begitu pula saat mendapatkan nikmat, seorang Muslim tetap mengucapkan alhamdulillah sebagai bentuk syukur agar nikmat tersebut tidak berubah menjadi bencana.
Dua sikap ini sangat penting diamalkan agar hati tetap tenang dan iman tetap terjaga.
Realitas hari ini menunjukkan banyak orang merasa kecewa saat diuji kesulitan, dan lupa diri ketika diberi kenikmatan. Padahal, dalam setiap ujian terdapat pelajaran yang Allah ajarkan, yaitu kesabaran bagi orang yang mau berpikir.
Ini bukan sekadar kalimat penghibur, tetapi sebuah kenyataan yang harus dipahami. Orang yang meyakini kekuasaan Allah tidak akan mudah runtuh. Kesulitan bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk menguatkan.
Sebaliknya, orang yang tidak memahami sifat Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang akan terus mengeluh dan merasa hidupnya tidak adil.
Di sinilah pentingnya peran masyarakat. Masyarakat tidak boleh diam melihat goyahnya iman seseorang. Ketika ada yang terpuruk, masyarakat harus hadir untuk menguatkan dan mengingatkan bahwa semua ini adalah ujian. Ketika ada yang lalai karena kenikmatan, masyarakat juga wajib mengingatkan agar tidak terjebak dalam kelalaian.
Inilah yang disebut amar makruf nahi mungkar, yaitu saling mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari keburukan.
Sayangnya, kondisi saat ini jauh dari ideal. Individualisme atas nama hak asasi semakin menguat. Banyak orang memilih diam—sebagian tidak peduli, sebagian lainnya justru menjadikan penderitaan orang lain sebagai bahan gunjingan.
Akibatnya, orang yang sedang diuji semakin kehilangan arah. Ia mencari jawaban sendiri dengan cara yang keliru. Tidak sedikit yang akhirnya menyalahkan hidup, bahkan menyalahkan Allah. Ini bukan karena takdirnya buruk, melainkan karena tidak adanya lingkungan yang menguatkan.
Masyarakat yang seharusnya menjadi penopang—tempat berbagi suka dan duka—justru berubah menjadi penonton, sehingga seseorang semakin tertekan.
Karena itu, masyarakat tidak boleh lepas tangan. Jika ingin kehidupan yang baik, budaya saling mengingatkan harus dihidupkan kembali. Jangan biarkan seseorang terjatuh sendirian, dan jangan biarkan kemungkaran dianggap biasa. Jika dibiarkan, kerusakan akan semakin meluas dan sulit dihentikan.
Namun, peran masyarakat saja tidak cukup. Negara memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar karena posisinya yang strategis. Negara tidak boleh hanya mengurus ekonomi dan pembangunan fisik, tetapi juga harus menjaga akidah umat.
Negara harus memastikan masyarakat hidup dalam sistem yang mendukung ketaatan, bukan justru mendorong kemaksiatan. Jika negara membiarkan pemikiran rusak berkembang, maka masyarakat akan mengalami kekacauan. Standar baik dan buruk menjadi kabur, sehingga manusia keliru dalam memahami hidup, termasuk dalam menyikapi takdir.
Faktanya, tidak sedikit kebijakan yang justru menjauhkan umat dari nilai-nilai Islam, bahkan memfasilitasinya. Misalnya, praktik riba yang dilegalkan dengan berbagai istilah. Hal ini berbahaya karena membuat masyarakat terbiasa dengan sesuatu yang salah.
Ketika dasar kehidupan sudah keliru, maka wajar jika banyak orang gagal memahami ujian hidup dengan benar.
Oleh karena itu, penerapan syariah bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Syariah memberikan aturan yang menyeluruh, tidak hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam seluruh aspek kehidupan. Dengan syariah, masyarakat akan dibentuk menjadi kuat secara iman, saling peduli, dan tidak mudah goyah dalam menghadapi ujian. Negara pun berperan aktif dalam menjaga arah kehidupan rakyatnya.
Semua ini hanya dapat berjalan secara sempurna dalam sistem Khilafah. Dalam sistem ini, negara berfungsi sebagai penjaga agama dan pengatur kehidupan sesuai dengan aturan Allah. Pendidikan diarahkan untuk membentuk keimanan, media dijaga agar tidak merusak, dan hukum ditegakkan untuk mencegah kemungkaran.
Dengan demikian, masyarakat tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan dipandu secara sistematis menuju kebaikan.
Ketika masyarakat kuat dan negara menjalankan perannya dengan benar, akan tercipta kehidupan yang saling menguatkan. Orang yang diuji tidak merasa sendirian, dan yang diberi nikmat tidak lupa diri. Semua saling mengingatkan karena Allah, bukan karena kepentingan pribadi.
Sungguh, tidak ada takdir buruk. Yang ada adalah manusia yang keliru dalam menyikapi takdir. Untuk memperbaikinya, tidak cukup hanya dengan memperbaiki diri sendiri. Masyarakat harus aktif saling menguatkan, dan negara wajib hadir menjaga akidah umat dengan menerapkan syariah secara menyeluruh.
Tanpa itu semua, manusia akan terus keliru, dan ujian hidup yang seharusnya membawa kebaikan justru berubah menjadi sebab kehancuran—baik bagi individu, masyarakat, maupun negara.
Wallahualam bissawab. [US/WA]
Baca juga:
0 Comments: