Headlines
Loading...

Oleh: Isnawati
(Muslimah Penulis Peradaban)

SSCQmedia.com—Ibadah haji bukan sekadar perjalanan spiritual tahunan yang dipenuhi lautan manusia berpakaian ihram. Haji adalah panggilan tauhid, panggilan untuk mengembalikan manusia kepada Allah secara utuh. Sayangnya, banyak umat Islam saat ini memahami haji hanya sebagai ritual fisik dan simbol status sosial. Tidak sedikit yang pulang dari Tanah Suci membawa gelar haji, tetapi belum membawa perubahan mendasar dalam cara berpikir, bersikap, dan menaati Allah. Padahal, makna paling penting dari ibadah haji adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam keyakinan, ketaatan, dan seluruh aspek kehidupan.

Fakta paling nyata dari ibadah haji terlihat pada seluruh rangkaian lafaz dan aktivitasnya yang menggambarkan puncak tauhid. Talbiyah yang terus diucapkan jemaah menjadi bukti yang sangat jelas:

"Labbaik Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wan ni‘mata laka wal mulk, la syarika lak."

Kalimat itu bukan sekadar bacaan yang diulang-ulang tanpa makna. Di dalamnya terdapat pengakuan mutlak bahwa segala puji, nikmat, dan kekuasaan hanyalah milik Allah semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Inilah inti tauhid yang menjadi dasar seluruh ajaran Islam.

Tauhid Penentu Kehidupan

Tauhid sangat menentukan kualitas seorang muslim. Tauhid ibarat fondasi sebuah bangunan. Jika fondasinya kuat, bangunannya akan kokoh. Sebaliknya, jika fondasinya rapuh, bangunan itu akan mudah runtuh. Begitu pula kehidupan seorang muslim. Ketika tauhidnya kuat, keimanannya akan kokoh, ibadahnya terjaga, dan ketaatannya kepada syariat akan semakin kuat. Namun, jika tauhidnya lemah, ia akan mudah meninggalkan salat, mengabaikan puasa, melakukan korupsi, menipu, dan bermaksiat tanpa rasa takut kepada Allah.

Inilah persoalan besar umat Islam saat ini. Banyak orang mengaku beriman kepada Allah, tetapi keyakinan itu belum benar-benar membentuk perilaku hidupnya. Ada yang rajin beribadah, tetapi masih berlaku zalim kepada sesama. Ada yang terlihat baik di hadapan manusia, tetapi berani melanggar aturan Allah ketika memiliki kesempatan. Hal ini menunjukkan bahwa masalah utamanya bukan sekadar kurangnya ilmu atau akhlak, melainkan lemahnya tauhid dalam hati.

Padahal, tanpa tauhid, seluruh amal tidak memiliki nilai di sisi Allah. Sebaik apa pun akhlak seseorang dan sebanyak apa pun amal salehnya, jika tidak dibangun di atas landasan tauhid, semuanya akan sia-sia seperti fatamorgana di tengah padang pasir. Terlihat indah dari kejauhan, tetapi kosong dan tidak memberikan manfaat ketika didekati. Karena itu, risalah para nabi sejak dahulu selalu dimulai dengan seruan tauhid sebelum menyampaikan aturan-aturan lainnya.

Haji juga mengajarkan bahwa tauhid memiliki hubungan yang sangat erat dengan persatuan umat Islam. Tauhid bukan hanya keyakinan bahwa Allah itu Esa, tetapi juga ketundukan terhadap seluruh aturan-Nya. Ketika jutaan manusia dari berbagai negara, suku, bahasa, dan warna kulit berkumpul di Tanah Suci, mereka meninggalkan identitas duniawi dan bersatu dalam kalimat yang sama. Talbiyah mereka sama, kiblat mereka sama, tujuan mereka sama, dan tempat wukuf mereka pun sama. Semua berdiri di Padang Arafah sebagai hamba Allah tanpa perbedaan status dan kedudukan.

Pemandangan itu menunjukkan bahwa umat Islam sejatinya adalah satu umat yang dipersaudarakan oleh iman dan tauhid. Tidak ada superioritas ras, bangsa, maupun kekayaan. Yang membedakan hanyalah ketakwaan. Namun, realitas umat Islam saat ini justru penuh perpecahan. Sesama muslim saling bermusuhan, saling menjatuhkan, bahkan mudah diadu domba oleh kepentingan dunia. Jika ditelusuri lebih dalam, akar masalahnya adalah rapuhnya tauhid.

Ketika tauhid melemah, ukhuwah pun ikut melemah. Padahal, Rasulullah saw. menggambarkan umat Islam seperti satu tubuh. Jika satu bagian sakit, bagian yang lain ikut merasakan. Sayangnya, banyak muslim saat ini justru bersikap acuh terhadap penderitaan saudaranya sendiri. Ada yang sibuk mengejar kepentingan pribadi, sementara umat dihimpit kemiskinan, penjajahan, dan kerusakan moral. Ini menjadi bukti bahwa tauhid belum benar-benar hidup dalam jiwa umat.

Tauhid Dasar Peradaban

Tauhid seharusnya juga melahirkan kesatuan kepemimpinan dan sistem kehidupan. Tauhidullah berarti meyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Tauhid qudwah berarti umat Islam hanya memiliki satu teladan, yaitu Nabi Muhammad saw. Kiblat umat Islam satu, yaitu Ka'bah. Kitab sucinya satu, yaitu Al-Qur'an. Maka, semestinya sumber aturan kehidupan juga satu, yaitu aturan Allah.

Namun, kenyataannya banyak negeri muslim justru mengambil sistem kehidupan dari kapitalisme, sosialisme, bahkan komunisme. Akibatnya, hukum Allah disingkirkan dan manusia lebih tunduk kepada aturan buatan manusia daripada syariat-Nya.

Dampaknya sangat nyata. Ketidakadilan merajalela, kesenjangan sosial semakin tajam, korupsi dianggap biasa, dan moral masyarakat terus mengalami kerusakan. Manusia kehilangan arah karena kehidupan dibangun bukan di atas tauhid, melainkan hawa nafsu dan kepentingan dunia. Padahal, Islam bukan hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara secara menyeluruh.

Selain itu, ibadah haji juga mengingatkan umat pada perjuangan Nabi Ibrahim a.s., Siti Hajar, dan Nabi Ismail a.s. Seluruh kisah itu berpusat pada tauhid dan ketaatan total kepada Allah. Secara logika manusia, meninggalkan istri dan anak di lembah tandus tampak tidak masuk akal. Demikian pula perintah menyembelih anak yang sangat dicintai terasa begitu berat. Namun, Nabi Ibrahim a.s. menjalankan semuanya dengan penuh keyakinan bahwa Allah tidak akan menzalimi hamba-Nya.

Dari sini, umat Islam harus memahami bahwa keimanan sejati bukan hanya percaya kepada Allah, tetapi juga tunduk kepada seluruh perintah-Nya. Ketaatan kepada Allah terkadang terasa berat menurut akal manusia, tetapi di balik itu selalu terdapat keberkahan dunia dan akhirat. Tidak ada ketaatan yang sia-sia. Justru kehancuran hidup manusia sering kali bermula ketika ia merasa lebih benar daripada aturan Allah.

Karena itu, solusi utama kebangkitan umat Islam bukan hanya pembangunan ekonomi atau kemajuan teknologi, melainkan mengokohkan kembali tauhid dalam kehidupan. Tauhid harus hadir dalam ibadah, akhlak, pendidikan, hukum, ekonomi, hingga kepemimpinan. Umat Islam harus kembali menjadikan Al-Qur'an dan sunah sebagai pedoman hidup secara kaffah, bukan sekadar simbol dan slogan.

Haji mengajarkan bahwa kekuatan umat lahir dari tauhid yang kokoh. Jika tauhid benar-benar hidup dalam hati kaum muslimin, persatuan akan terwujud, keadilan akan tegak, dan ketaatan kepada Allah akan menjadi jalan keselamatan dunia dan akhirat. Sebaliknya, selama tauhid hanya berhenti di lisan tanpa diwujudkan dalam kehidupan, umat Islam akan terus terpecah dan kehilangan kemuliaannya.

Wallahu a'lam bi ash-shawab. [US/AA]

Baca juga:

0 Comments: