Headlines
Loading...
Gen Z Depresi hingga Resistensi, Islam Solusinya

Gen Z Depresi hingga Resistensi, Islam Solusinya

Oleh: Najah Ummu Salamah
(Komunitas Penulis Peduli Umat)

SSCQMedia.Com—Isu kesehatan mental semakin banyak menjadi topik pembahasan dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan Generasi Z (Gen Z). Dibandingkan generasi sebelumnya, Gen Z lebih terbuka dalam membicarakan persoalan kesehatan mental. Mereka juga memiliki kesadaran yang lebih tinggi terhadap pentingnya menjaga kesehatan mental dengan mencari berbagai solusi, seperti berkonsultasi dengan psikolog, menjalani terapi, dan sebagainya.

Hasil penelitian Asia Care Survey 2024 mencatat bahwa stres dan burnout menjadi gangguan kesehatan mental yang paling banyak dialami, yakni mencapai 56 persen dari total responden. Gangguan tidur menempati urutan kedua dengan 42,6 persen responden. Selanjutnya, 28,2 persen responden mengaku khawatir mengalami gangguan kecemasan, 24,9 persen mengalami kesepian, 20,7 persen mengalami depresi, dan 9,1 persen mengalami gangguan kognitif (GoodStats.id, 1 Oktober 2024).

Berbagai faktor menjadi penyebab gangguan kesehatan mental. Berdasarkan survei, kekhawatiran terhadap masa depan menjadi pemicu utama dengan proporsi mencapai 60 persen. Selain itu, tekanan finansial menyumbang 57 persen, disusul ekspektasi sosial sebesar 42 persen serta perasaan tidak berdaya terhadap situasi di luar kendali sebesar 36 persen (GoodStats.id, 8 April 2026).

Krisis Multidimensi Pemicu Depresi

Penerapan sistem kapitalisme dinilai memicu krisis multidimensi, baik di bidang ekonomi, politik, sosial, keamanan, kesehatan, maupun media.

Di bidang ekonomi, sistem kapitalisme melahirkan ketidakpastian yang besar terkait karier, stabilitas ekonomi, hingga kondisi ekonomi global.

Di bidang politik, pertarungan ideologi dan peradaban menjadi sumber konflik serta peperangan di berbagai wilayah dunia, seperti Palestina, Iran, dan kawasan lainnya.

Sementara itu, perkembangan media sosial dan kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), justru memunculkan kekhawatiran baru berupa gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal.

Berbagai kondisi tersebut terjadi di banyak negara dan pada akhirnya memunculkan gelombang resistensi di kalangan Gen Z. Resistensi ini merupakan fenomena perlawanan kolektif anak muda terhadap tantangan ekonomi, politik, dan ancaman perkembangan AI.

Di tengah depresi dan kecemasan akibat sulitnya memperoleh pekerjaan, generasi ini memanfaatkan internet sebagai sarana menyampaikan protes secara kreatif, mulai dari tren berpakaian lokal hingga parodi politik global. Di India, misalnya, sebagai respons atas pernyataan seorang pejabat yang menghina pemuda pengangguran, Gen Z membentuk Cockroach Janta Party (Partai Kecoak) melalui Instagram. Aksi yang kemudian menjadi viral tersebut digunakan untuk mengekspresikan frustrasi sekaligus mengkritik kebijakan pemerintah secara kreatif (Kompas.id, 25 Mei 2026).

Padahal, Gen Z sejatinya memiliki potensi yang besar. Mereka semestinya dirangkul dan diberi ruang untuk berkontribusi dalam membangun masyarakat. Namun, negara dinilai justru abai dan membiarkan sistem sekuler kapitalisme merusak jati diri generasi muda.

Di sisi lain, generasi muda sering kali diberi stigma sebagai generasi rebahan, generasi lembek, atau generasi stroberi. Padahal, mereka justru lebih terbuka menerima realitas dan berupaya mencari solusi dibandingkan generasi sebelumnya.

Islam Satu-satunya Solusi

Islam merupakan agama sekaligus sistem kehidupan yang sempurna dan komprehensif. Allah Swt. mewajibkan setiap muslim menerapkan Islam secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan. Penerapan syariat Islam secara kaffah menjadi tanggung jawab khalifah dalam sistem Khilafah.

Penerapan syariat Allah Swt. di seluruh bidang kehidupan akan mendatangkan rahmat bagi seluruh alam. Kehidupan masyarakat menjadi lebih stabil, tenteram, aman, dan sejahtera sehingga berbagai persoalan yang dipicu oleh krisis multidimensi dapat diatasi. Allah Swt. berfirman,

"Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al-A'raf: 96).

Selain itu, sistem pendidikan Islam menjadikan akidah Islam sebagai landasan seluruh proses pendidikan. Tujuannya adalah mencetak generasi yang berkepribadian Islam, memiliki pola pikir dan pola sikap Islami, sekaligus menguasai berbagai tsaqafah Islam dan ilmu terapan untuk membangun peradaban. Seluruh pembiayaan pendidikan beserta sarana dan prasarananya menjadi tanggung jawab negara.

Negara juga menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok berupa sandang, pangan, dan papan bagi setiap warga negara. Lapangan pekerjaan serta bantuan modal dalam bentuk aset, properti, maupun tanah disalurkan melalui Baitul Mal kepada masyarakat yang membutuhkan, sebagaimana dipraktikkan pada masa Rasulullah saw. dan para khalifah setelah beliau.

Khilafah hadir sebagai pelindung sekaligus pelayan umat. Negara menjamin terpenuhinya kebutuhan masyarakat secara adil dan merata sehingga masyarakat dapat hidup sejahtera tanpa dihantui kecemasan terhadap masa depan.

Khatimah

Krisis multidimensi yang terjadi saat ini seharusnya menjadi titik balik bagi Gen Z untuk menyadari bahwa sistem sekuler kapitalisme merupakan akar persoalannya. Oleh karena itu, sudah saatnya generasi muda menjadikan Islam sebagai ideologi dan solusi, kemudian mendakwahkannya kepada seluruh umat manusia agar terwujud generasi emas, bukan generasi yang dipenuhi kecemasan.

Wallahu a'lam bish-shawab. [ry/Des]

Baca juga:

0 Comments: