Bergerak Menjadi Sehat dalam Berjuang untuk Dakwah
Oleh: Dra. Rahma
(Aktivis Muslimah)
SSCQMedia.Com—Kondisi kesehatan masyarakat Indonesia masih memprihatinkan. International Diabetes Federation (IDF) mencatat bahwa pada 2025 terdapat sekitar 20,4 juta penduduk Indonesia berusia 20–79 tahun yang hidup dengan diabetes. Angka tersebut menempatkan Indonesia pada peringkat kelima sebagai negara dengan jumlah penyandang diabetes terbanyak di dunia setelah China, India, Amerika Serikat, dan Pakistan. Di sisi lain, angka obesitas juga terus menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun.
Di Indonesia, meskipun sejumlah indikator kesehatan mengalami perbaikan, disparitas antardaerah masih menjadi tantangan besar, terutama di kawasan timur Indonesia. Selain persoalan obesitas dan diabetes, angka kematian ibu (Maternal Mortality Rate/MMR) juga masih menjadi perhatian. Berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, MMR tercatat sebesar 144 per 100.000 kelahiran hidup.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa MMR merupakan jumlah kematian perempuan usia 15–49 tahun yang terjadi pada masa kehamilan, persalinan, atau hingga 42 hari setelah persalinan per 100.000 kelahiran hidup. Capaian tersebut menunjukkan tren penurunan sebesar 45 poin dibandingkan hasil Long Form Sensus Penduduk 2020.
Selain itu, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) mencatat angka obesitas di Indonesia meningkat dari 10,5 persen pada 2007 menjadi 23,4 persen pada 2023.
Empat penyakit kronis, yaitu gagal ginjal, stroke, kanker, dan penyakit jantung, juga masih menghantui masyarakat Indonesia. Yang memprihatinkan, penderita penyakit-penyakit tersebut semakin banyak berasal dari kalangan usia muda. Padahal, para pemuda seharusnya dapat beraktivitas, berkarya, dan berkontribusi bagi umat, bukan justru harus bolak-balik menjalani perawatan di rumah sakit.
Kondisi kesehatan generasi muda yang terus menurun tentu tidak dapat dibiarkan. Sebab, bagaimana umat dapat berharap banyak jika generasi mudanya terus dibayangi berbagai penyakit yang menggerogoti kualitas hidup mereka?
Karena itu, diperlukan penanganan yang tepat agar generasi muda benar-benar menjadi harapan umat. Jika meneladani para sahabat Rasulullah saw., kita dapat melihat bagaimana para pemuda menjadi penyokong dakwah yang tangguh. Pada usia belasan tahun, mereka telah berada di garda terdepan dalam menyampaikan dan membela Islam di hadapan kaum kafir.
Salah satu contohnya adalah Usamah bin Zaid. Pada usia sekitar 18 tahun, ia telah dipercaya Rasulullah saw. memimpin pasukan besar yang di dalamnya terdapat para sahabat senior. Amanah tersebut tentu tidak hanya menuntut kemampuan kepemimpinan dan strategi militer, tetapi juga fisik yang kuat dan kesehatan yang prima. Usamah memenuhi seluruh kriteria tersebut.
Contoh lainnya adalah Mush'ab bin Umair. Sebelum masuk Islam, ia dikenal sebagai pemuda yang tampan, kaya, dan hidup dalam kemewahan. Namun, setelah memeluk Islam, ia rela meninggalkan seluruh kenyamanan demi membela agama Allah. Rasulullah saw. mempercayainya sebagai duta Islam di Yatsrib (Madinah) karena kecerdasan, kemampuan berdakwah, serta kondisi fisiknya yang mendukung. Diperkirakan saat itu usianya sekitar 25 tahun.
Sejarah juga mencatat keberhasilan Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel pada usia 21 tahun. Ia memilih pasukannya dari para pemuda yang memiliki kepribadian Islam yang kokoh, mental pantang menyerah, fisik yang kuat, serta kesehatan yang prima. Misi yang diembannya bukanlah misi biasa, melainkan mewujudkan kabar gembira yang pernah disampaikan Rasulullah saw. tentang penaklukan Konstantinopel.
Menariknya, pada tahap akhir seleksi pasukan, Muhammad Al-Fatih memilih orang-orang yang dikenal tidak pernah meninggalkan salat malam. Hal ini menunjukkan bahwa ketakwaan, kedisiplinan, kekuatan mental, dan kesiapan fisik merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Dari sini tampak bahwa dakwah dan jihad memerlukan pribadi yang memiliki keimanan yang kokoh sekaligus fisik yang sehat. Tidak mungkin sebuah pasukan dibangun dari orang-orang yang lemah karena sakit.
Dakwah dan jihad merupakan aktivitas mulia yang diwajibkan Allah Swt. kepada kaum muslim. Keduanya bukanlah aktivitas yang ringan. Dibutuhkan pembinaan Islam secara intensif untuk membentuk keimanan dan kepribadian Islam. Namun, pembinaan saja tidak cukup. Dakwah, terlebih jihad, juga memerlukan kekuatan fisik, kesehatan jasmani, dan kesehatan mental yang baik.
Oleh karena itu, para pemuda muslim hendaknya menjaga pola makan, pola hidup, serta menerapkan gaya hidup sehat sesuai tuntunan Islam yang telah dicontohkan Rasulullah saw.
Negara pun harus mengambil peran dalam menjaga kesehatan generasi mudanya, di antaranya melalui edukasi kesehatan, pengawasan terhadap peredaran makanan yang tidak sehat, serta kebijakan yang mendukung lahirnya generasi yang sehat dan kuat.
Dengan kepribadian Islam yang kokoh serta kesehatan yang prima, para pemuda akan siap ketika Islam membutuhkan mereka untuk berdakwah dan berjuang di jalan Allah.
Wallahualam bissawab.
[An/WA]
Baca juga:
0 Comments: