Headlines
Loading...

Oleh: Desi Ummu Idris
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQMedia.com—"Kurban apa pada Iduladha tahun ini?"

Pertanyaan semacam itu lumrah terdengar setiap kali Zulhijah tiba. Namun, bagaimana jika ditambahkan satu kata di depannya menjadi, "Presiden kurban apa tahun ini?" Masihkah terdengar sebagai pertanyaan biasa?

Beberapa waktu lalu, saya menjumpai sebuah konten di media sosial yang disampaikan dengan gaya satir oleh seorang kreator konten. Saya tidak akan menyebutkan namanya, tetapi beliau dikenal sebagai sosok emak-emak yang kerap menyampaikan kritik tajam terhadap pemerintah.

Mengomel mungkin hal yang biasa bagi seorang ibu. Namun, ketika omelan itu mampu membangunkan kesadaran umat, tentu menjadi sesuatu yang berbeda.

Saya termasuk orang yang mengapresiasi setiap upaya untuk membangun kesadaran umat. Bahkan hingga malam keempat Zulhijah ini, isi konten tersebut masih terngiang di benak saya. Benar juga, jika ada yang bertanya, "Presiden berkurban apa tahun ini?" sebagian orang mungkin akan menjawab, "Mengorbankan rakyatnya."

Bagaimana rakyat tidak merasa menjadi korban? Berbagai persoalan terus bermunculan. Nilai tukar dolar meningkat, daya beli masyarakat melemah, pembukaan hutan dilakukan secara besar-besaran, kualitas pendidikan masih menghadapi berbagai persoalan, ancaman kesehatan terus muncul, kejahatan seksual meningkat, serta berbagai bentuk kemaksiatan kian dinormalisasi. Daftarnya begitu panjang hingga rasanya tidak cukup jika dituliskan seluruhnya dalam satu tulisan.

Dari sekian banyak persoalan tersebut, yang paling disayangkan adalah ketika pemimpin yang memegang kendali kebijakan justru dinilai memberikan respons yang terkesan ringan terhadap berbagai kesulitan yang dirasakan masyarakat.

Zulhijah seharusnya menjadi bulan yang menghadirkan ketenangan dan refleksi diri. Namun, berbagai kabar yang berseliweran sering kali memancing emosi dan menghadirkan kegelisahan. Kadang muncul perasaan sedih melihat negeri yang begitu kaya sumber daya, memiliki masyarakat yang ramah dan penuh potensi, tetapi masih menghadapi berbagai persoalan yang membuat rakyat merasa menjadi korban kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada mereka.

Meski demikian, rakyat tidak sepenuhnya diam. Berbagai kritik dan aspirasi terus disampaikan, meskipun tidak selalu mendapat respons sebagaimana yang diharapkan. Sebagai seorang Muslim, menyampaikan kebenaran tetap menjadi bagian dari tanggung jawab.

Rasulullah saw. bersabda:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

Artinya, "Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim." (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Hadis ini mengajarkan bahwa menyampaikan kebenaran merupakan bagian dari kepedulian terhadap umat dan masyarakat.

Belajar dari Keteguhan Gaza

Keteguhan itu tampak jelas pada saudara-saudara kita di Gaza. Di tengah berbagai keterbatasan dan penderitaan yang mereka alami, mereka tetap berusaha bertahan dan menyuarakan kondisi yang terjadi di negeri mereka.

Para jurnalis terus meliput dan menyampaikan informasi kepada dunia. Mereka berharap suara rakyat Palestina didengar, keadilan ditegakkan, dan kesadaran umat manusia terus tumbuh.

Bayangkan suasana Zulhijah di Gaza. Takbir berkumandang di tengah tenda-tenda pengungsian. Anak-anak berusaha tetap tersenyum di tengah keterbatasan. Banyak keluarga menjalani Iduladha dalam kondisi yang jauh dari kata mudah, tetapi tetap berusaha mempertahankan keimanan dan harapan.

Di tengah berbagai ujian itu, mereka tetap memperjuangkan hak-hak mereka. Keteguhan dan kesabaran itulah yang menjadi pelajaran berharga bagi umat Islam di seluruh dunia.

Jangan Menjadi Penonton

Lalu, bagaimana dengan kita yang hidup di negeri dengan jumlah Muslim terbesar di dunia?

Allah Swt. berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 90:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

"Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan."

Ayat ini mengingatkan bahwa keadilan bukan hanya tugas penguasa, tetapi juga tanggung jawab setiap individu.

Pernahkah kita membayangkan bagaimana warga Gaza melewati Zulhijah dari tahun ke tahun dalam kondisi yang penuh keterbatasan? Bagaimana perasaan mereka yang belum dapat menjalankan ibadah haji atau mengunjungi Masjidil Aqsa karena berbagai hambatan yang mereka hadapi?

Meski demikian, mereka tetap berkurban, tetap berbagi, dan tetap menjaga harapan.

Sementara kita yang hidup dalam kondisi lebih aman sering kali hanya menjadi penonton. Kita menyaksikan berbagai peristiwa melalui layar gawai, lalu berlalu begitu saja tanpa mengambil peran apa pun.

Padahal, ada banyak cara untuk menunjukkan kepedulian. Melalui tulisan yang membangun kesadaran, bantuan yang disalurkan kepada mereka yang membutuhkan, menghadiri majelis ilmu, mendidik keluarga dengan nilai-nilai Islam, ataupun memanjatkan doa yang tulus di sepertiga malam.

Makna Kurban yang Sesungguhnya

Zulhijah mengajarkan bahwa kurban bukan sekadar menyembelih hewan. Kurban adalah tentang ketaatan, pengorbanan, dan keberanian menempatkan perintah Allah di atas kepentingan diri sendiri.

Karena itu, Zulhijah jangan hanya berhenti pada unggahan status atau cerita di media sosial. Jadikan momentum ini untuk memperbaiki diri, meningkatkan kepedulian, dan mengambil bagian dalam menyuarakan kebaikan.

Pada akhirnya, setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah dilakukan, bukan hanya atas apa yang diketahui.

Maka, tanyakan kepada diri sendiri:

"Zulhijah ini, sudahkah kita berkurban untuk sesuatu yang lebih besar daripada diri kita sendiri?"

Wallahu a'lam bishshawab.

#SahabatSurgaCintaQuran
#JurnalZulhijah1447H
#OptimalkanDetikZulhijahmu
#MomentumHajiKurban
#NapakTilasKeluargaNabiIbrahim
#SembelihIsmailIsmailDalamDiri
#Day03Part01

Bekasi, 21 Mei 2026

[My/EW]


Baca juga:

0 Comments: