Oleh: Isty Da'iyah
(Kontributor SSCQ Media)
SSCQMedia.com—Zulhijah 1447 Hijriah kembali menyapa. Kehadirannya selalu memunculkan asa yang bersemi dalam jiwa. Bulan yang penuh dengan peristiwa sarat makna ini senantiasa membawa harapan, kerinduan, dan rasa yang membuncah di dalam dada. Ada doa, cita, dan harap yang berpadu menjadi satu.
Hari ini, kenangan sepuluh tahun lalu kembali hadir dalam ingatan. Sebuah masa yang begitu kurindukan, saat Allah Swt. memanggilku untuk menjadi tamu-Nya di Tanah Suci. Rasa rindu itu semakin menguat setiap kali aku berpapasan dengan bus yang membawa rombongan jemaah haji menuju keberangkatan.
Tak jarang aku menahan air mata ketika melihat bus para tamu Allah melintas di hadapanku. Sering kali aku berhenti sejenak di tepi jalan hanya untuk menenangkan perasaan dan melangitkan doa. Anganku melayang pada sebuah perjalanan yang pernah menjadi kenyataan dan kini kembali menjadi impian. Perjalanan menuju bandara, lalu menuju Baitullah untuk menunaikan ibadah yang mulia.
Aku terus berusaha dan berdoa agar impian itu tidak berhenti sebagai angan semata. Sebab, dari waktu ke waktu, kerinduan kepada Tanah Suci semakin kuat bersemayam dalam sanubari. Hingga akhirnya aku teringat bagaimana Allah pernah mengabulkan doa-doaku sepuluh tahun yang lalu.
Allah Swt. berfirman,
"Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan atas rezeki yang telah diberikan-Nya kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan berikanlah sebagian lagi kepada orang-orang yang sengsara dan fakir."
(QS Al-Hajj [22]: 27–28)
Tidak dapat dimungkiri bahwa haji merupakan rukun Islam kelima. Namun, lebih dari itu, haji dan umrah adalah undangan istimewa dari Allah Swt. Banyak orang beranggapan bahwa haji hanya dapat dilakukan oleh mereka yang memiliki harta, jabatan, atau koneksi tertentu. Padahal, jika Allah belum mengundang seseorang, ia tidak akan mampu berangkat meskipun memiliki segala fasilitas.
Sebaliknya, ketika Allah telah mengundang, siapa pun akan dimampukan untuk memenuhi panggilan tersebut. Sebab, perjalanan haji adalah perjalanan spiritual yang sarat makna. Sebuah perjalanan yang penuh dengan air mata, perjuangan, harapan, dan penghambaan kepada Allah.
Ketika Zulhijah kembali datang, kerinduan kepada Baitullah semakin membuncah. Hingga saat ini, keinginan untuk kembali ke Tanah Suci masih tersimpan dalam doa-doa yang kupanjatkan. Aku tidak tahu kapan Allah akan kembali memanggilku, tetapi aku terus berharap agar dapat mengulang perjalanan yang pernah menghadirkan ketenangan luar biasa dalam hidupku.
Kerinduanku kepada Tanah Suci adalah kerinduan seorang hamba kepada Rabb-nya. Kerinduan yang lahir dari cinta dan harapan untuk semakin dekat dengan-Nya. Sama seperti kerinduanku akan hadirnya kehidupan yang senantiasa berada dalam naungan syariat dan petunjuk-Nya.
Rasulullah saw. bersabda,
"Umrah ke umrah berikutnya menjadi penghapus dosa di antara keduanya, sedangkan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga."
(HR Bukhari)
Orang yang memperoleh haji mabrur akan mendapatkan balasan surga. Namun, surga bukanlah sesuatu yang dapat diraih tanpa perjuangan. Al-Qur'an menjelaskan bahwa surga diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa. Salah satu ciri utama ketakwaan adalah menjadikan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup dalam seluruh aspek kehidupan.
Ketakwaan akan membentuk pribadi yang baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun dalam hubungan dengan Allah Swt. Karena itu, seseorang yang memperoleh haji mabrur semestinya mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Ia tidak hanya memperbaiki dirinya sendiri, tetapi juga membawa pengaruh positif bagi lingkungan dan masyarakatnya.
Melihat kondisi negeri yang saat ini masih memprihatinkan, bangsa yang mayoritas muslim tapi syariat Allah tidak ditegakkan.
Kerinduan kepada Baitullah semakin terasa mendalam. Kerinduan itu berpadu dengan harapan agar Allah senantiasa memberikan petunjuk dan kebaikan bagi kaum Muslim di mana pun berada.
Di awal Dzulhijjah ini, hanya doa yang bisa aku rangkai. Agar Allah segera izinkan aku kembali ke rumah-Nya, dan disegerakan tegakannya syariat-Nya.
Di awal Zulhijah ini, hanya doa yang mampu kurangkai. Semoga Allah kembali mengizinkanku menjadi tamu-Nya dan memberikan kesempatan untuk bersujud di hadapan Ka'bah yang mulia.
Ya Allah, lebih dari sepuluh tahun hamba berjalan di tengah berbagai ujian kehidupan. Tidak ada kebahagiaan dunia yang mampu menghapus kerinduan ini selain harapan untuk meraih rida-Mu dan surga-Mu.
Ya Allah Yang Maha Menggenggam segala urusan, betapa hamba merindukan panggilan-Mu. Betapa hamba mendambakan undangan-Mu. Kerinduan itu begitu dekat di dalam dada, menjadi doa yang terus mengalir dalam setiap sujud dan munajat.
Ya Allah, hamba masih mengingat saat berdiri di pelataran rumah-Mu. Saat hati bergetar, air mata mengalir, dan jiwa merasakan ketenangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Kini, setelah sepuluh tahun berlalu, kerinduan itu tidak pernah berkurang. Justru semakin tumbuh dan menguat dari musim ke musim.
Ya Rabb Yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa, berilah hamba kesempatan sekali lagi, atau bahkan berkali-kali lagi, untuk memenuhi panggilan-Mu. Izinkan hamba kembali menapaki jejak para tamu-Mu, menggapai pintu-pintu ampunan-Mu, dan merasakan kembali nikmat menjadi tamu di rumah-Mu yang suci.
Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Surabaya, 18 Mei 2026
[Hz/WA]
Baca juga:
0 Comments: