Headlines
Loading...

Oleh: Rita Mutiara
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQMedia.com—Di balik wajah-wajah ceria anak-anak Indonesia, tersimpan realitas yang memprihatinkan: krisis kesehatan mental yang terus membesar layaknya fenomena gunung es.

Data global dari World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa satu dari delapan orang di dunia mengalami gangguan kesehatan mental. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan alarm keras bahwa persoalan kesehatan mental jauh lebih luas daripada yang tampak di permukaan.

Di Indonesia, sinyal bahaya tersebut semakin nyata. Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026 menunjukkan bahwa hampir 10 persen anak Indonesia memiliki indikasi masalah kesehatan jiwa. Dari sekitar 7 juta anak yang telah menjalani skrining, Kementerian Kesehatan menemukan gejala kecemasan dan depresi dalam jumlah yang cukup signifikan.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, mengungkapkan bahwa 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala kecemasan, sedangkan 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi. “Ini menunjukkan masalah kesehatan jiwa itu besar sekali,” ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta.

Angka-angka tersebut menguatkan satu kesimpulan penting: kesehatan mental tidak dapat diabaikan. Persoalan ini merupakan isu serius yang berdampak langsung pada masa depan bangsa. Jika tidak ditangani dengan baik, gangguan kesehatan mental dapat menurunkan produktivitas, merusak kualitas hidup, bahkan mengganggu stabilitas sosial secara luas.

Anak-anak yang saat ini mengalami kecemasan dan depresi berpotensi tumbuh menjadi generasi yang kesulitan beradaptasi, kurang percaya diri, serta rentan menghadapi tekanan hidup. Padahal, menurut Kementerian Kesehatan, kesehatan mental adalah kondisi kesejahteraan ketika seseorang mampu menyadari potensinya, mengatasi tekanan hidup, bekerja secara produktif, dan berkontribusi kepada masyarakat. Dengan demikian, kesehatan mental bukan hanya berarti bebas dari gangguan, tetapi juga kemampuan menjalani hidup secara utuh dan bermakna.

Sayangnya, masih banyak masyarakat yang memandang kesehatan mental sebagai persoalan yang tidak terlalu penting sehingga sering kali diabaikan.

Gunung Es Kesehatan Mental

Di sinilah letak akar persoalannya. Pertama, rendahnya literasi kesehatan mental menyebabkan banyak orang tidak mengenali gejala awal gangguan psikologis. Kedua, stigma sosial masih cukup kuat sehingga individu yang mengalami masalah kesehatan mental cenderung memilih diam dan enggan mencari bantuan. Ketiga, akses terhadap layanan kesehatan mental masih terbatas, terutama di daerah terpencil.

Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat persoalan kesehatan mental terus tersembunyi seperti gunung es, yang sebagian besarnya berada di bawah permukaan dan tidak terlihat.

Islam sebagai Sumber Ketenangan

Dalam konteks ini, agama, khususnya Islam, memiliki peran penting sebagai sumber ketenangan batin sekaligus pedoman hidup. Islam tidak hanya mengatur aspek ibadah ritual, tetapi juga memberikan arah moral dan makna kehidupan.

Dengan seperangkat nilai yang jelas, Islam membantu individu membedakan antara yang baik dan yang buruk, sekaligus memberikan kepastian dalam menjalani kehidupan. Lebih dari itu, hubungan spiritual dengan Allah Swt. menjadi ruang bagi seseorang untuk mengadu, memohon pertolongan, dan berserah diri.

Praktik ibadah seperti salat, doa, dan zikir dapat memberikan ketenangan batin, mengurangi kecemasan, serta membantu menjaga stabilitas emosi. Dalam situasi penuh tekanan, spiritualitas dapat menjadi salah satu mekanisme yang membantu seseorang menghadapi berbagai persoalan hidup.

Selain aspek individual, Islam juga berfungsi sebagai perekat sosial. Nilai-nilai ukhuwah, tolong-menolong, dan kepedulian terhadap sesama menciptakan lingkungan yang suportif dan penuh empati. Lingkungan sosial yang sehat sangat penting dalam menjaga kesehatan mental karena individu tidak merasa sendirian saat menghadapi kesulitan.

Islam juga memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan mendasar tentang makna hidup, tujuan kehidupan, dan kehidupan setelah kematian. Keyakinan tersebut dapat menumbuhkan harapan, optimisme, dan keteguhan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Tanggung Jawab Bersama

Krisis kesehatan mental, khususnya pada anak-anak, tidak dapat diselesaikan melalui pendekatan parsial. Pemerintah perlu memperluas akses layanan kesehatan mental hingga ke sekolah dan komunitas, sekaligus meningkatkan edukasi publik untuk menghapus stigma yang masih berkembang di masyarakat.

Kurikulum pendidikan juga perlu memberikan ruang bagi literasi kesehatan mental sebagai bagian dari pembentukan karakter dan kesiapan menghadapi tantangan hidup.

Di sisi lain, masyarakat harus mulai lebih terbuka dan peduli terhadap persoalan ini. Orang tua, guru, dan lingkungan sekitar perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku anak yang dapat menjadi tanda awal munculnya gangguan kesehatan mental.

Pendekatan spiritual juga perlu diperkuat sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan batin dan membangun ketahanan mental yang kokoh.

Pada akhirnya, kesehatan mental bukan hanya urusan individu, melainkan tanggung jawab bersama. Jika ingin membangun generasi yang kuat, produktif, dan berdaya saing, maka menjaga kesehatan mental harus menjadi prioritas bersama sebelum gunung es itu benar-benar mencair dan menimbulkan krisis yang lebih besar.

Wallahu a'lam bishshawab. [My/EW]

Baca juga:

0 Comments: