Headlines
Loading...
Allah Menurunkan Hujan sebagai Rezeki, Bukan Bencana

Allah Menurunkan Hujan sebagai Rezeki, Bukan Bencana

Oleh: Rina Khusnia
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQMedia.com—Dalam sepekan terakhir, Kabupaten Pamekasan mengalami hujan deras disertai angin kencang yang melanda Desa Pakong Laok, Kecamatan Pakong, pada 20 Mei 2026. Peristiwa tersebut menyebabkan sejumlah pohon tumbang dan merusak beberapa bangunan. Empat warga terdampak, namun tidak ada korban jiwa. Kejadian ini segera ditangani oleh tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Selain itu, pihak berwenang juga telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi kekeringan dan berkurangnya ketersediaan air bersih akibat masuknya musim kemarau serta pengaruh fenomena El Nino. (MediaKompeten, 20 Mei 2025 https://share.google/JmiO0EKQeBrmqNGhL)

Tidak hanya di Kabupaten Pamekasan, berbagai wilayah di Nusantara juga mengalami beragam bencana alam, mulai dari banjir, kebakaran hutan dan lahan, hingga aktivitas gempa bumi dan gunung api yang meningkat seiring perubahan kondisi cuaca dan alam. Fenomena serupa juga terjadi di berbagai belahan dunia. Banyak negara dilanda badai, banjir bandang, hingga gelombang panas ekstrem. Berbagai peristiwa tersebut menunjukkan bahwa bencana alam telah menjadi tantangan bersama yang memerlukan perhatian serius, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Banyaknya bencana yang terjadi dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor alam dan faktor aktivitas manusia. Secara alami, pergerakan lempeng bumi, kondisi bentang alam, serta letak geografis suatu wilayah menyebabkan daerah tertentu lebih rentan mengalami gempa bumi, letusan gunung berapi, dan perubahan cuaca yang ekstrem. Selain itu, perubahan iklim global turut meningkatkan suhu bumi, mengubah pola curah hujan, serta memicu cuaca yang semakin tidak menentu sehingga kejadian banjir, kekeringan, badai, dan gelombang panas semakin sering terjadi.

Di sisi lain, aktivitas manusia juga berkontribusi terhadap meningkatnya risiko dan dampak bencana. Penebangan hutan secara berlebihan, pembangunan di kawasan rawan bencana, serta pengelolaan lingkungan yang tidak berkelanjutan menjadi faktor yang memperparah kerusakan alam dan meningkatkan potensi terjadinya musibah.

Bencana dan Kerusakan Akibat Ulah Manusia

Sesungguhnya, akar persoalan berbagai bencana yang terjadi tidak dapat dipandang hanya dari sisi fisik dan alam semata. Dalam pandangan Islam, persoalan ini juga berkaitan erat dengan perilaku manusia yang mengabaikan aturan dan petunjuk Allah Swt.

Banyak manusia yang sibuk mengejar keuntungan duniawi tanpa memperhatikan dampak yang ditimbulkan. Kerusakan lingkungan, eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, tindakan zalim, dan berbagai bentuk kemaksiatan menjadi bagian dari perilaku yang merusak keseimbangan kehidupan.

Allah Swt. telah mengingatkan bahwa kerusakan yang terjadi di darat dan di laut merupakan akibat dari perbuatan tangan manusia sendiri. Ketika manusia menjauh dari aturan-Nya dan mengabaikan amanah untuk menjaga bumi, keseimbangan alam pun terganggu. Berbagai musibah yang terjadi dapat menjadi peringatan agar manusia kembali kepada jalan yang benar dan memperbaiki perilakunya.

Islam Menjaga Keseimbangan Alam

Jika menengok sejarah penerapan Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, tampak bagaimana syariat mengatur pengelolaan sumber daya alam secara bertanggung jawab. Seluruh kekayaan alam dipandang sebagai amanah yang harus dikelola untuk kemaslahatan rakyat, bukan untuk kepentingan segelintir pihak.

Pemanfaatan hutan, sungai, tanah, dan berbagai sumber daya lainnya dilakukan berdasarkan aturan syariat yang melarang segala bentuk kerusakan dan eksploitasi berlebihan. Hak masyarakat terhadap kebutuhan dasar, seperti pangan, air bersih, dan tempat tinggal, juga dijamin oleh negara.

Dengan pengelolaan yang benar, keseimbangan alam dapat terjaga. Tanah menjadi subur, air tetap bersih, dan kekayaan alam dapat dimanfaatkan secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat. Kondisi seperti ini mendorong terwujudnya kehidupan yang aman, tenteram, dan penuh keberkahan.

Selama berabad-abad, syariat Islam diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam pandangan penulis, penerapan aturan Islam yang menyeluruh mampu menciptakan tata kelola kehidupan yang lebih memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian lingkungan.

Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt. dalam Surah Al-Qashash ayat 77:

"Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga bumi merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah Swt. dan tanggung jawab setiap manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Kapitalisme dan Kerusakan Lingkungan

Menurut pandangan penulis, kondisi masyarakat yang makmur, sejahtera, dan memiliki lingkungan yang lestari sulit diwujudkan selama pengelolaan kehidupan berorientasi pada keuntungan materi semata.

Dalam sistem kapitalisme sekuler, pertumbuhan ekonomi dan akumulasi keuntungan sering kali menjadi ukuran utama keberhasilan pembangunan. Akibatnya, eksploitasi sumber daya alam terus berlangsung tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan maupun dampak jangka panjang bagi masyarakat.

Ketika keuntungan menjadi tujuan utama, berbagai sumber daya yang seharusnya dijaga justru diperlakukan sebagai komoditas ekonomi. Dampaknya adalah kerusakan lingkungan yang semakin meluas, ketimpangan sosial yang meningkat, serta bencana yang terus berulang di berbagai wilayah.

Mewujudkan Kehidupan yang Penuh Berkah

Dalam pandangan Islam, kesejahteraan hakiki hanya dapat terwujud ketika seluruh aspek kehidupan diatur berdasarkan syariat Allah Swt. Aturan yang berasal dari Sang Pencipta diyakini mampu menghadirkan keadilan, menjaga keseimbangan alam, serta menjamin terpenuhinya kebutuhan masyarakat.

Dengan penerapan aturan yang berorientasi pada kemaslahatan umat, pengelolaan sumber daya alam akan dilakukan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Kehidupan masyarakat pun dapat berjalan dalam suasana yang aman, tenteram, dan penuh keberkahan.

Wallahu a'lam bishshawab. [ry/EW]

Baca juga:

0 Comments: