Jurnal Zulhijah
Gagal ke Tanah Suci, Temukan Hikmah Lain dari Haji
Oleh: Desi Ummu Idris
(Kontributor SSCQ Media)
SSCQMedia.com—Bagi sebagian orang, kegagalan merupakan sebuah kekecewaan. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Bu Husna dan suaminya.
Aku teringat Zulhijah tahun lalu ketika mendapati seseorang yang begitu tangguh menghadapi berbagai cobaan yang datang di bulan haram yang penuh makna.
---
Koper biru itu masih utuh di pojok kamar. Stiker “Jemaah Haji Kloter 24 Jakarta–Bekasi” masih menempel rapi. Mukena putih, kain ihram, dan buku manasik penuh penanda, semuanya sudah tersimpan di dalamnya. Tinggal berangkat. Namun, benda itu tak pernah ke mana-mana. Masih setia bersama pemiliknya.
Namanya Bu Husna. Kini usianya 50 tahun. Kami berkenalan sejak kepindahanku ke Klaster 70 dan menjadi tetangga dengannya. Tempat tinggal kami tidak jauh dari Perumahan Greenpark, Pondok Melati, Bekasi.
Bu Husna adalah sosok ibu yang sangat sabar dan penyayang. Apabila membaca Al-Qur’an, suaranya membuat hati tenang. Tajwidnya tertib, hafalannya kuat. Beliau pula yang mengajariku banyak hal, terutama dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar dan memahami ilmu agama.
Zulhijah 1446 H atau akhir Mei 2025 seharusnya menjadi tahun Bu Husna dan suaminya menunaikan rukun Islam yang kelima. Setelah 11 tahun menunggu, Bu Husna dan suaminya, Pak Andi, 55 tahun, akhirnya mendapatkan kuota haji. Nama mereka tercantum di Kloter 24 Embarkasi Jakarta–Bekasi.
Tabungannya cukup. Ketiga anaknya sudah mandiri, sedangkan dua lainnya masih menempuh pendidikan sekolah dasar. Beliau pernah berkata kepadaku, “Insyaallah, di usia yang sudah setengah abad ini akhirnya Allah memanggil kami sebagai tamu-Nya di Baitullah, Mbak,” sapanya kepadaku. “Kami ingin fokus ibadah saja di sisa umur ini sebelum fisik semakin lemah.”
Tiga bulan terakhir, setiap Sabtu dan Minggu mereka mengikuti manasik di Asrama Haji Bekasi. Pukul 05.30 mereka sudah berangkat dari rumah dengan sepeda motor. Panas maupun hujan tidak pernah membuat mereka absen. Bu Husna paling telaten. Buku manasiknya penuh stabilo. Beliau berlatih tawaf mengelilingi aula asrama haji sambil menghitung dengan tasbih. Beliau juga berlatih sai bolak-balik di koridor asrama sambil menggandeng Pak Andi. Katanya, “Agar di Tanah Suci lutut yang sudah berusia 50 tahun ini tidak terkejut.”
Dua pekan sebelum keberangkatan, beliau membawa buah tangan ke majelis di klaster kami: kurma dan kacang arab. “Doakan ya, Ibu-Ibu. Semoga mabrur. Dua pekan lagi insyaallah kami terbang ke Tanah Suci.” Matanya berbinar.
Manusia Punya Rencana, Allah Maha Berkehendak
Rencana keberangkatan ibadah haji sudah matang. Tinggal mengurus satu-dua surat keterangan medis Pak Andi yang masih sedikit terkendala. Rupanya, pada Zulhijah tahun lalu Allah memiliki rencana lain.
Hari Ahad, 25 Mei 2025, grup Klaster 70 mendadak riuh. Ada yang mengirim pesan, “Innalillahi, Pak Andi masuk RS Helsa Jatirahayu. Gula darah 600. Jempol kaki menghitam.”
Aku lemas membaca pesan WhatsApp itu. Segera aku menghubungi Bu Husna.
Suaranya datar dan letih. “Suami saya koma, Mbak. Diabetesnya semakin parah. Ada luka di jempol sejak sebulan lalu, tetapi beliau sembunyikan. Katanya agar tidak mengganggu manasik dan tidak membuat khawatir. Tadi pagi beliau tidak sadarkan diri. Napasnya juga sudah satu-satu karena tekanan darah cukup tinggi. Luka di kakinya pun mengalami infeksi. Dokter mengatakan harus diamputasi karena jaringannya sudah mati. Jika tidak, infeksinya akan naik ke jantung.”
Aku mengucap istigfar. Pak Andi adalah sosok yang ramah dan sabar. Beliau terlihat pendiam, tetapi terkadang suka bercanda dengan anak-anak kecil. Setiap Subuh, beliaulah yang mengumandangkan azan di musala dekat rumah. Tubuhnya agak gemuk. Tidak ada yang menyangka diabetesnya sudah komplikasi. Usia yang semakin lanjut ternyata tidak dapat diajak berkompromi.
Tiga hari kemudian, beliau sadar dan kondisinya cukup membaik. Jempol kaki kanan Pak Andi akhirnya diamputasi di RS Helsa Jatirahayu.
Saat kami sekeluarga menjenguknya, Bu Husna duduk di tepi ranjang sambil menggenggam tangan suaminya yang pucat. Napas Pak Andi tersengal dan terlihat sangat memprihatinkan.
H-8 keberangkatan jemaah haji, pihak KBIH Al-Hikmah Pondok Melati menghubungi Bu Husna.
“Bu, Bapak dinyatakan tidak istitaah secara kesehatan. Tidak mungkin berangkat. Lukanya memerlukan waktu dua bulan atau lebih untuk mengering. Beliau tidak boleh lelah dan tidak boleh berjalan jauh. Apalagi usia di atas 50 tahun. Suhu di Arafah mencapai 45 derajat dan sangat tidak aman.”
Bu Husna terdiam. Aturan dalam Islam jelas: seorang perempuan tidak boleh berhaji kecuali bersama mahram. Mahramnya hanya Pak Andi. Anak laki-lakinya berada jauh di luar pulau, sedangkan kakaknya sudah wafat. Tidak ada pilihan lain.
Bu Husna tersenyum, tetapi matanya berkaca-kaca.
“Haji adalah panggilan, tetapi syaratnya harus dipenuhi. Tanpa mahram, kita tidak boleh memaksakan diri. Ini aturan Allah. Jika dilanggar, hajinya tidak sah. Kita tentu ingin hajinya mabrur, bukan pergi haji dengan nekat. Lagi pula, saat ini yang paling penting adalah saya tetap berada di samping Bapak,” jelasnya kepadaku.
Manusia selalu punya rencana, tetapi Allah Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Maka, rencana Allah pasti yang terbaik bagi hamba-Nya.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 216, Allah Swt. berfirman:
«ÙˆَعَسٰٓÙ‰ اَÙ†ْ تَÙƒْرَÙ‡ُÙˆْا Ø´َÙŠْÙ€ًٔا ÙˆَّÙ‡ُÙˆَ Ø®َÙŠْرٌ Ù„َّÙƒُÙ…ْۚ ÙˆَعَسٰٓÙ‰ اَÙ†ْ تُØِبُّÙˆْا Ø´َÙŠْÙ€ًٔا ÙˆَّÙ‡ُÙˆَ Ø´َرٌّ Ù„َّÙƒُÙ…ْۗ ÙˆَاللّٰÙ‡ُ ÙŠَعْÙ„َÙ…ُ ÙˆَاَÙ†ْتُÙ…ْ Ù„َا تَعْÙ„َÙ…ُÙˆْÙ†َ»
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Hikmah di Balik Gagal Berangkat Haji
Jika diingat kembali, tahun lalu setiap sepekan sekali beliau menuntun Pak Andi kontrol ke RS Helsa. Sambil mendorong kursi roda, beliau bertalbiah pelan, “Labbaik Allahumma labbaik....”
Katanya, “Itu sai saya, Mbak. Bolak-balik dari Greenpark ke Helsa.”
Pada malam Arafah, beliau senantiasa menggelar sajadah di rumah untuk bermunajat. Beliau juga berpuasa pada 10 hari pertama Zulhijah dan selalu berdoa, “Ya Allah, saya gagal ke Ka’bah untuk menyempurnakan rukun Islam. Jika Engkau menunda undangan-Mu ke sana, jangan tunda lagi undangan-Mu untuk menjadikan kami hamba yang taat.”
---
Kini sudah satu tahun berlalu. Luka Pak Andi alhamdulillah telah mengering. Beliau sudah dapat kembali ke masjid dengan kursi roda. Koper biru itu kini digunakan untuk menyimpan sarung dan obat-obatan. Buku manasik Bu Husna masih tersimpan di meja.
Beberapa waktu lalu, saat kami kembali berkunjung ke rumahnya, beliau menceritakan lagi kisah perjuangannya untuk tetap sabar dan ikhlas ketika tahun lalu tidak jadi berangkat haji dan harus menghadapi ujian sakitnya sang suami.
Kami semua terdiam dan berucap dalam hati, “Masyaallah, sungguh mulia dan tangguh Bu Husna ini.” Ada yang mengusap mata karena haru dan bangga, sekaligus turut bersedih atas setiap pengorbanannya untuk sang suami tercinta. Aku pun ikut menangis. Sebab, aku menjadi saksi bahwa Bu Husna memang gagal berhaji tahun lalu, tetapi beliau lulus menjadi hamba yang taat. Lulus menjadi istri yang senantiasa mengikuti syariat.
Dari kisahnya, aku belajar bahwa undangan Allah itu ada dua. Pertama, undangan ke Baitullah dengan syarat-syarat-Nya. Kedua, undangan untuk tunduk sebagai seorang hamba. Bu Husna belum mendapat yang pertama tahun lalu. Namun, beliau insyaallah telah lulus pada undangan yang kedua. Siapa tahu, justru itulah yang lebih berat nilainya dalam timbangan amal di akhirat kelak.
Lantas, bagaimana dengan kita?
Sudahkah kita memaksimalkan seluruh potensi diri untuk menjadi hamba yang taat kepada syariat Allah? [Ni/UF]
Bekasi, 20 Mei 2026
Baca juga:
0 Comments: