Oleh: Dhevi Firdausi, S.T.
(Kontributor SSCQ Media)
SSCQmedia.com—Sebelumnya, mohon izin untuk sedikit bercerita. Pengalaman saya di ruang operasi, untuk tindakan steril potong tuba falopi. Pukul 22.00 masuk ruang operasi dengan tensi darah di angka 170. Sudah makan malam karena ada informasi penundaan jadwal operasi, padahal sebelumnya sudah berpuasa.
Obat bius lokal tidak cukup untuk menghilangkan rasa cemas. Cubitan alat-alat besi masih terasa. Alhamdulillah, setelah meminta beberapa kali, akhirnya dokter menyuntikkan bius total. Tertidur.
Tiba-tiba merasakan munculnya kilatan cahaya yang terasa hangat. Cahaya yang awalnya membuat silau mata itu tidak menimbulkan rasa panas sama sekali. Setelah cahaya yang terlihat laksana sinar matahari di pagi hari, muncullah hamparan bunga warna-warni.
Satu lahan dipenuhi warna kuning, lahan yang satunya lagi berwarna merah, sedangkan yang lainnya berwarna ungu. Daun-daunnya rimbun menghijau. Hamparan bunga tersebut seperti tak berujung, tak bertepi, luas sekali.
Namun, di kebun bunga itu tidak ada orang lain, sepi sendiri. Tak ada wangi bunga juga, hanya aneka warna indahnya bunga yang memanjakan mata. Jika diamati, suasananya mirip seperti taman wisata Santera di Kota Malang.
Awalnya indah, namun makin lama terasa ada yang kurang. Kondisi sendirian di tempat itu, tidak ada keluarga atau teman seorang pun. Rupanya tidak berlangsung lama, setelah itu ada kejadian selanjutnya.
Hamparan taman bunga yang warna-warni tersebut tiba-tiba menutup, ibarat menutupnya lembaran kertas buku sekolah. Tertutup dengan suasana gelap gulita, tanpa cahaya.
Beberapa menit lamanya tetap berada dalam kondisi gelap, hitam pekat. Tidak bisa melihat sekeliling sama sekali, meski mata ini sudah berusaha mencari tahu berada di tempat apa.
Untuk pertama kalinya, kedua mata terbuka. Terlihat beberapa dokter berdiri mengelilingi tubuh ini. Mereka mengucapkan kalimat yang sama, “Bu... bangun, Bu. Operasi sudah selesai.”
Dengan setengah sadar, mulut ini langsung mengucapkan istigfar, “Astaghfirullah...” Kemudian disusul dengan pertanyaan yang haus akan jawaban, “Dokter, kenapa saya dibangunkan?”
Mereka kemudian menguatkan, “Ayo bangun, Bu. Operasinya sudah selesai, Ibu harus bangun.” Dengan lancar, meski masih setengah sadar, mulut ini menjelaskan, “Dokter, saya tadi melihat kebun bunga. Kenapa saya dibangunkan? Sekarang taman bunga itu sudah tidak terlihat lagi.” Mendengar kalimat tersebut, para dokter terdiam sesaat.
Hingga salah satu dokter menegaskan, “Bangun, Bu. Ada anak-anak yang masih membutuhkan Ibu.” Seketika mulut ini terdiam. Berusaha melihat wajah dokter tersebut, meski tidak terlihat jelas karena masih dalam pengaruh obat bius. Setelah termenung beberapa saat, mulut ini mengucapkan, “Iya, Dokter. Terima kasih.”
Entah ada kendala apa yang dihadapi, para dokter di ruang operasi tidak menuliskan rekam medisnya. Yang jelas, terdapat fakta setelah perban luka di perut dibuka. Ternyata jahitan steril yang seharusnya hanya 3 cm lebarnya, secara teori, kini memiliki lebar hampir 10 cm. Luka yang hampir mirip dengan tindakan operasi caesar.
Bahkan, mendapati diri ini sudah berada di kebun bunga berwarna-warni, hamparan bunga luas tak bertepi, dilengkapi dengan hangatnya sinar mentari, meski kemudian dapat tersadar dan hidup kembali.
Kejadian ini ibarat wisuda yang tertunda. Bukan wisuda kuliah, tetapi wisuda kehidupan. Karena hidup di dunia hanyalah sementara. Akhiratlah rumah terakhir kita, umat manusia.
Dunia adalah tempat manusia diuji oleh Sang Pencipta. Jika diuji dengan rezeki harus mampu bersyukur, jika diuji dengan musibah harus mampu bersabar. Berhasil lulus wisuda artinya lulus dari ujian kehidupan, berhasil meraih pintu surga-Nya.
Belum berhasil wisuda saat ini artinya harus mengulang lagi “mata kuliah”. Bukan mata kuliah di perguruan tinggi, tetapi mata kuliah kehidupan duniawi. Sampai akhirnya, di ujung waktu nanti, berhasil lulus melewati semua ujian kehidupan dan wisuda untuk benar-benar meraih taman surgawi.
Hamparan taman bunga yang tergambar di ruang operasi hanyalah laksana iklan. Ketika kebun bunga tersebut belum berhasil dinikmati saat ini, maka harus lebih mempersiapkan diri untuk menyambut waktu wisuda berikutnya, yaitu datangnya ajal.
Sebenarnya, wisuda yang sekarang sudah berusaha diupayakan secara optimal. Diri ini merasa siap untuk dijemput pulang, menghadap Ilahi Rabbi, insyaallah. Segala ujian waktu HPL yang dihadapi rasanya sudah cukup untuk membersihkan dan menggugurkan segala salah dan khilaf yang tidak sengaja dilakukan selama hidup.
Ketika selama hidup dan hamil tetap berusaha taat syariat, meski belum sempurna karena hanya manusia biasa. Ketika di waktu HPL tensi darah mencapai 218, pembukaan 5 pada jalan lahir, dan sudah pecah air ketuban. Ketika setelah bayi lahir, plasenta tetap tidak mau keluar, meski perut sudah dipijat dokter berkali-kali. Ketika tangan dokter harus masuk ke dalam rahim beberapa kali untuk mengambil plasenta sampai benar-benar bersih. Ketika jarum suntik harus berkali-kali ditusukkan ke pergelangan tangan karena obat tensi darah tidak mengalir sempurna.
Namun, takdir Allah Swt. berkata lain. Masih belum waktunya untuk pulang karena ajal belum datang. Belum waktunya untuk istirahat, masih harus terus berjuang untuk mempersiapkan waktu kepulangan yang sebenarnya. Entah kapan.
Diri ini hanya makhluk ciptaan. Tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah Swt. semata. Manusia hanya bisa berencana dan berusaha. Selebihnya, Allah Swt.-lah yang berkuasa.
Sejak hamil anak pertama sampai anak ketujuh, sering berdoa agar bisa meraih kemuliaan, berpulang setelah melahirkan. Doa yang hampir selalu dilantunkan setiap selesai salat, di hampir setiap sujud. Namun, sampai operasi steril dilakukan, doa tersebut belum terkabul.
Dalam Islam, ada banyak kemuliaan yang dapat diraih ketika seorang wanita berpulang setelah melahirkan. Di antaranya mendapatkan pahala besar menyerupai mati syahid. Ampunan dan pahala dari Allah Swt. tersebut diraih seiring dengan sakit luar biasa yang dirasakan ketika proses melahirkan bayi.
Namun, apa pun takdir yang Allah Swt. berikan tetaplah yang terbaik untuk hamba-Nya. Kita harus selalu mampu berprasangka baik (husnuzan), apa pun kondisinya. Manusia tidak mengetahui apa-apa, Allah Swt.-lah Yang Maha Mengetahui segalanya. Alhamdulillah ‘ala kulli hal. [My/Wa]
Baca juga:
0 Comments: