Relevansi Khilafah di Tengah Konflik Iran, AS, dan Isr4el
Oleh: Mimin Nursarasati, S.Pd.
(Kontributor SSCQ Media)
SSCQmedia.com—Tahun ini umat Islam menjalani Idulfitri di tengah bergolaknya situasi geopolitik global yang mengkhawatirkan. Kurang lebih satu bulan sejak AS menyerang Iran, tanda-tanda berhentinya perang belum juga tampak. Meskipun di dalam negeri AS sendiri demo besar-besaran hampir terjadi setiap hari, bahkan tidak semua orang yang ada dalam pemerintahan mendukung apa yang dilakukan Presiden Donald Trump. Massa pendukungnya pun melakukan protes, mengimbau agar presiden segera mengakhiri perang, mengecam cara presiden dalam mengembangkan kerja samanya dengan negara Iran, tetapi belum ada kepastian kapan perang akan berakhir.
Dunia berada di ambang krisis besar akibat eskalasi perang antara Iran melawan aliansi AS-Isr4el. Serangan udara yang dilancarkan AS terhadap fasilitas nuklir dan militer Iran telah memicu ancaman penutupan Selat Hormuz. Sehingga mengakibatkan terganggunya rantai pasok energi dari minyak bumi dan olahannya seperti diesel, bensin, gas alam cair, dan lainnya yang didapat dari kilang-kilang teluk yang akan diekspor ke pasar Asia, Afrika, dan Eropa. Hal ini sama dengan mengubah krisis internal menjadi krisis global.
Potensi Persatuan Umat Islam
Kondisi krisis ini membuat masyarakat dunia terbelah ke dalam dua kubu. Kubu Iran mendapat dukungan strategis dari Rusia dan Cina, sementara Isr4el didukung penuh oleh AS. Hal ini menempatkan dunia Islam di tengah tarikan dua kutub kekuatan. Negeri-negeri muslim saat ini terbelah. Sebagian netral, sebagian mendukung perjuangan Iran sebagai sesama muslim dan sebagian lagi terikat kerja sama keamanan dengan Barat.
Apa yang terjadi saat ini, perang antara Iran melawan Isr4el/AS, semestinya dapat diambil pelajaran penting. Di antaranya, begitu rapuhnya sistem kapitalisme global di bawah kepemimpinan AS serta gagalnya sistem negara bangsa (nation state) dalam mewujudkan kebangkitan. Ditambah persekongkolan AS dan Isr4el beserta sekutunya dari negara Barat sudah cukup membuat dunia penuh manipulatif. Belum lagi dengan pengkhianatan dan persekongkolan para pemimpin muslim, khususnya para pemimpin Arab kepada AS dan zionis Isr4el hanya demi langgengnya kedudukan dan kepemimpinan mereka.
Perang ini juga menunjukkan fakta bahwa umat Islam sejatinya memiliki potensi kekuatan untuk melawan hegemoni kapitalisme global dengan imperialismenya. Umat Islam mempunyai potensi ideologi, geopolitik, geostrategi, kekayaan alam, kemampuan SDM, dan kemampuan teknologi yang bisa dioptimalkan menjadi kekuatan yang setara, bahkan berpotensi mengalahkan lawan. Jika diingat saat awal AS menyerukan akan menyerang Iran, dikatakan mungkin butuh waktu sekitar dua minggu, nyatanya sudah sebulan lebih Iran masih konsisten menunjukkan perlawanannya yang tidak bisa dipandang sebelah mata, padahal Iran sendirian melawan koalisi AS-Isr4el. Bahkan terasa koalisi tersebut kewalahan menghadapi Iran. Bisa dibayangkan jika umat Islam bersatu di bawah satu kepemimpinan, tentu semua potensi yang ada akan dimobilisasi hingga dapat menggetarkan musuh-musuhnya. Kendalanya dunia Islam terpecah potensinya ke dalam batas-batas negara bangsa. Loyalitas berlebihan pada batas wilayah warisan kolonial ini membuat umat Islam lemah, kehilangan posisi tawar yang kuat dan solid di kancah internasional.
Industri militer dan teknologi mayoritas negeri-negeri muslim masih tergantung pada Barat atau Tiongkok. Dengan perang ini kita tahu bahwa negeri-negeri Islam banyak yang menjadikan wilayah negerinya menjadi pangkalan militer AS, dengan dalih menjaga keamanan mereka. Akhirnya diketahui bahwa pangkalan militer yang ada di negeri-negeri muslim tidak lebih sebagai dukungan hegemoni dan kekuatan AS, juga melindungi kepentingan AS. Sementara keamanan negara tersebut justru terancam.
Urgensi Khilafah dalam Memobilisasi Potensi Umat Islam
Konsep Khilafah dalam kajian geopolitik saat ini harusnya bukan hanya sekadar isu agama, melainkan potensi besar untuk menggabungkan elemen-elemen kekuatan atau potensi umat Islam yang terpisah dalam batas sekat negara bangsa. Jika dunia Islam bersatu, mereka akan menguasai lebih dari 60% cadangan minyak dan gas dunia. Dengan pengaturan sistem Khilafah energi dapat digunakan sebagai instrumen politik untuk menghentikan agresi dari luar.
Kekuatan demografi yang dimiliki dunia Islam, dengan total penduduk muslim hampir 2 miliar jiwa, jika ada penyatuan komando militer akan menciptakan kekuatan pertahanan terbesar di dunia yang mampu mengimbangi dominasi NATO atau poros lainnya.
Dunia Islam juga menguasai titik-titik krusial (choke points) di antaranya Selat Hormuz, Terusan Suez, Selat Bab al-Mandab, dan Selat Malaka. Apabila ini dimanfaatkan untuk kepentingan umat Islam pasti akan meningkatkan posisi penting di kancah internasional, karena mempunyai kawasan dan kedaulatan.
Dalam konteks perang saat ini, sistem khilafah akan mengubah peta konflik, di antaranya menghilangkan sekat mazhab. Salah satu kelemahan saat ini adalah rivalitas Suni-Syiah, yang dimanfaatkan oleh kekuatan asing untuk memecah belah umat Islam. Sistem Khilafah akan mampu menaungi seluruh elemen umat demi kepentingan persatuan dan pertahanan bersama.
Khilafah memiliki kemandirian dalam menerapkan kebijakan luar negerinya. Saat ini banyak negeri muslim tidak berkutik karena tergantung pada bantuan militer/ekonomi dari AS. Khilafah akan menerapkan kebijakan ekonomi secara terintegrasi sehingga memungkinkan untuk mandiri dengan menerapkan dinar/dirham sebagai mata uang bersama. Dengan demikian tidak bergantung pada dolar dan tidak bisa didikte melalui sanksi ekonomi.
Perang yang dihadapi umat Islam baik di Iran, Palestina, atau negeri-negeri yang lain tidak akan dipandang sebagai masalah internal atau regional negeri itu sendiri. Melainkan serangan terhadap seluruh kaum muslimin, karena kaum muslimin ibaratnya satu tubuh. Jika salah satu bagian tubuh sakit, maka bagian tubuh yang lain merasakan sakitnya dan bergerak untuk menolong atau membela bersama-sama.
Oleh karena itu, sudah saatnya umat Islam bersatu dalam satu komando agar kekuatan umat Islam tidak tercerai berai. Apabila masih terpisah-pisah dalam nation state atau negara bangsa seperti saat ini, umat Islam akan sulit menandingi AS dan sekutunya, apalagi mengalahkannya.
Sebaliknya, jika potensi yang ada di negeri-negeri muslim disatukan di bawah satu komando strategis (Khilafah), maka peta kekuatan dunia akan berubah dan saling berhadapan secara seimbang. Tinggal menunggu pertolongan Allah dan ingatlah bahwa pertolongan Allah itu dekat. Sebagaimana firman Allah dalam Surah As-Saff ayat 13 yang artinya, “Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” Wallahualam bissawab. [Ni/AA]
Baca juga:
0 Comments: