Headlines
Loading...

Oleh: Ratty S. Leman
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQmedia.com—Madrasatul ula itu bernama ibu. Ia adalah penjaga konsistensi pasca-Ramadan, sosok wanita yang mendedikasikan dirinya untuk mendidik keluarga. Ibu adalah guru, sedangkan para bapak adalah kepala sekolahnya. Idealnya demikian. Namun, sering kali para ibu merangkap sebagai kepala sekolah sekaligus guru.

Rumah-rumah kaum Muslim seharusnya terbentuk untuk menguatkan peran ibu sebagai ibu peradaban yang mencerdaskan generasi, karena generasi adalah ujung tombak perubahan. Ibu merupakan pendidik pertama dan utama. Inilah harapan dari sebuah masyarakat yang ideal.

Ketika negara tak lagi bisa diharapkan, dan masyarakat yang berpikiran materialistik serta kapitalistik pun tak dapat diandalkan, satu-satunya tumpuan harapan adalah para ibu. Namun, kehidupan kapitalis, materialis, sekuler, dan liberal telah menyeret kaum ibu keluar rumah dan masuk ke sektor publik. Dalam sistem kapitalisme, ibu diharapkan turut menyumbang pajak penghasilan sehingga kondisi pun mendorong mereka untuk bekerja.

Fokus ibu sebagai pendidik pertama dan utama menjadi terbelah oleh tuntutan ekonomi keluarga. Para ibu harus sibuk bekerja, baik di dalam maupun di luar rumah. Pemenuhan kebutuhan ekonomi menjadi prioritas, karena tanpa peran ibu, para bapak merasa belum cukup memenuhi kebutuhan keluarga.

Di era kapitalisme ini, muncul fenomena fatherless (kehilangan peran ayah). Ayah bekerja sejak pagi hingga larut malam. Secara fisik ada, tetapi fungsi sebagai kepala sekolah dalam institusi keluarga tergerus karena waktu habis untuk mencari nafkah.

Kewajiban mencari nafkah saat ini terasa sangat berat. Perekonomian hanya berputar pada golongan dan wilayah tertentu. Tak dapat dimungkiri, pengangguran masih banyak, bahkan dari kalangan terdidik.

Pendidikan di era kapitalisme telah bergeser menjadi lembaga profit. Ia jauh dari fungsi luhur sebagai sarana mencerdaskan umat. Seharusnya negara yang mengemban tanggung jawab tersebut. Pendidikan memang mahal, tetapi salah satu kewajiban negara adalah mencerdaskan rakyatnya.

Namun, bagaimana fakta hari ini? Pendidikan dan kesehatan bukan menjadi prioritas utama. Yang diutamakan justru program makan bergizi gratis (MBG), ketahanan pangan, ketahanan energi, perumahan, serta keamanan.

Rakyat dipersilakan untuk protes atau berbeda pendapat, tetapi program tetap berjalan sesuai janji kampanye penguasa. Sementara itu, sektor lain seperti pendidikan gratis dan layanan kesehatan terjangkau seolah hanya menjadi harapan.

Ya Allah, terasa sesak hidup dalam sistem buatan manusia yang tidak berperikemanusiaan ini. Tenaga dan pikiran diperas habis-habisan untuk sesuatu yang tak kunjung terkumpul dan tak juga menyejahterakan.

Bukan karena mereka malas. Tidak. Mereka rajin bekerja sejak subuh hingga larut malam, bahkan hingga dini hari. Mereka hanyalah bagian dari roda sistem kapitalisme. Kesejahteraan seolah tak pernah tercapai, meskipun telah bekerja keras. Hidup sekadar untuk memenuhi kebutuhan primer, jauh dari kebutuhan sekunder, apalagi tersier.

Tak terbersitkah keinginan para ibu untuk menjadi ratu di rumah tangganya masing-masing? Menjalankan kewajiban domestik dengan optimal, terutama dalam mendidik generasi. Sementara itu, kewajiban sosial pun dapat ditunaikan karena urusan rumah telah tertangani dengan baik.

Peran perempuan di sektor publik pada dasarnya mubah, bahkan bisa menjadi wajib kifayah jika belum ada yang melaksanakannya. Namun, tujuan aktivitas tersebut hendaknya untuk meraih rida Allah, bukan semata materi. Kebutuhan materi seharusnya terpenuhi melalui sistem ekonomi yang sesuai syariat Allah, bukan sistem kapitalisme yang hanya memperkaya pemodal dan memiskinkan pekerja.

Inilah renungan pasca-Ramadan kali ini. Pada bulan Syawal, urbanisasi kembali meningkat—perpindahan penduduk dari desa ke kota. Hal ini terjadi karena perputaran ekonomi terpusat di kota-kota besar. Desa ditinggalkan karena sulitnya mencari penghidupan akibat tidak meratanya pembangunan.

Tidakkah kita ingin diatur oleh sistem wahyu, sistem Ilahiah yang berlandaskan syariat Allah, yang terbukti mampu menghadirkan kesejahteraan dan kebahagiaan? Tidakkah kita menginginkan rida Allah, sehingga keberkahan turun dari langit dan keluar dari bumi?

Jika kita masih rida dengan sistem buatan manusia, baik kapitalisme maupun komunisme, maka pertanyakan pada diri sendiri: mengapa mengaku Muslim, tetapi enggan diatur dengan aturan Islam?

Padahal, seluruh manusia, alam semesta, dan kehidupan ini akan rida dengan sistem Ilahiah yang telah terbukti selama lebih dari 13 abad di dua pertiga dunia. Alhamdulillah, kabar gembira akan tegaknya khilafah ala minhaj an-nubuwwah kembali menguat. Optimisme pun menyelimuti. Kiamat tidak datang begitu saja; ada masa kejayaan Islam yang akan disambut.

Tugas kita adalah mempersiapkan diri menyongsong masa tersebut. Apa peran kita? Jangan hanya diam dan tertinggal. Semangat itu telah tumbuh di kalangan kaum Muslim, tua maupun muda. Hal inilah yang membuat Amerika, sebagai pengemban ideologi kapitalisme, merasa resah dan menjadikan Islam sebagai musuh.

Lantas, kita akan memilih berada di barisan mana? Barisan yang memusuhi Islam atau barisan kaum Muslim? Pilihan ada di tangan masing-masing.

Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Mu’minun: 1). Maka, jadilah pribadi yang benar-benar beriman.

Bogor, 9 April 2026

[MA/Iwp]

Baca juga:

0 Comments: