Oleh: Ratty S. Leman
(Kontributor SSCQ Media)
SSCQmedia.com—
ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ
Zaalikal kitaabu laa raiba fiih; hudal lil muttaqiin
"Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa."
(QS. Al-Baqarah: 2)
Alhamdulillah, hari ini kita semua telah memasuki bulan Syawal dan menunaikan salat Idulfitri, meskipun pelaksanaannya berbeda-beda—ada yang pada hari Kamis, Jumat, dan Sabtu. Bagaimana semarak Idulfitri di tempat Anda? Mari saling berbagi cerita untuk menambah wawasan dan pengalaman.
Alhamdulillah, penulis bersama si bungsu berhari raya pada hari Kamis, dengan berpedoman pada rukyatul hilal global, baik dalam memulai maupun mengakhiri Ramadan. Di dekat rumah, terdapat masjid yang memfasilitasi hal tersebut, yaitu Masjid Dakwah Imam Mahdi.
Pada pagi itu, penulis masih melaksanakan i’tikaf di masjid kompleks. Sekitar pukul 03.00 dini hari, penulis pulang untuk menyiapkan hidangan sahur keluarga. Setelah selesai memasak, sekitar pukul 03.30, penulis membuka telepon genggam dan membaca pesan dari rekan-rekan bahwa hilal telah terlihat di Afghanistan dan Mali.
Sebagai pihak yang meyakini rukyah global, penulis segera mencari informasi lokasi pelaksanaan salat Idulfitri hari itu. Ketika suami dan anak-anak pulang dari masjid, penulis menyampaikan keputusan untuk melaksanakan salat Idulfitri pada hari tersebut. Si bungsu memilih ikut, sedangkan suami serta dua anak lainnya memutuskan tetap melanjutkan puasa dan berhari raya keesokan harinya.
Menariknya, dalam satu keluarga terdapat perbedaan hari Idulfitri. Namun, hal itu tidak menjadikan kami berselisih. Justru, kami saling memahami dan menghargai keputusan masing-masing. Dalam Islam, perbedaan dalam ranah fikih merupakan hal yang wajar dan menunjukkan kekayaan khazanah keilmuan. Adapun yang tidak boleh berbeda adalah akidah, karena ia bersifat prinsipil dan tidak dapat ditawar.
Pada Kamis pagi, 19 Maret, suami mengantar penulis dan si bungsu ke masjid untuk melaksanakan salat Idulfitri, lalu menjemput kembali setelahnya. Beberapa rekan bertanya mengenai anggota keluarga lainnya, dan penulis menjelaskan bahwa mereka akan melaksanakan salat Idulfitri keesokan harinya. Suasana pun diwarnai canda ringan, yang semakin menambah hangatnya kebersamaan.
Kunci dalam menyikapi perbedaan adalah saling memahami. Perbedaan merupakan keniscayaan. Namun, di sisi lain, kondisi ini juga menjadi refleksi bahwa umat Islam belum memiliki satu kepemimpinan yang mampu menyatukan dalam satu keputusan. Perbedaan metode penentuan awal bulan—seperti rukyah global, rukyah lokal, dan hisab—memang melahirkan beragam pendapat di kalangan ulama.
Dalam sejarah, para imam mazhab memiliki pandangan masing-masing. Ada yang membolehkan perbedaan berdasarkan matla’ (wilayah), sebagaimana pendapat Imam Syafi’i, dengan mempertimbangkan keterbatasan sarana komunikasi pada masa itu. Sementara itu, perkembangan teknologi saat ini sebenarnya memungkinkan penyatuan informasi secara lebih luas.
Menyikapi perbedaan ini, hendaknya kita tidak terbawa perasaan. Akidah dan syariat dibangun atas dasar dalil yang pasti, bukan semata-mata perasaan atau preferensi pribadi.
Alhamdulillah, dalam keluarga besar penulis, Idulfitri dirayakan pada hari yang berbeda-beda—Kamis, Jumat, dan Sabtu. Namun, hal tersebut tidak mengurangi keharmonisan. Silaturahmi tetap terjalin dengan baik, sebagaimana yang telah dilaksanakan bersama pada Sabtu, 21 Maret. Tidak ada pertentangan, yang ada justru saling menghargai.
Kini kita telah berada di bulan Syawal. Perdebatan mengenai penentuan Idulfitri telah usai. Saatnya fokus pada amalan di bulan Syawal sebagai indikator diterimanya ibadah Ramadan.
Apakah kita masih menjaga qiyamul lail? Apakah kita tetap memenuhi hak-hak Al-Qur’an—membaca, memahami, mentadabburi, menghafal, mengamalkan, serta mendakwahkannya? Apakah kita telah memulai puasa sunnah, seperti Senin-Kamis, Daud, maupun Ayyamul Bidh?
Mari terus menjaga keistikamahan dalam iman dan takwa. Semoga kita semua dimudahkan dalam menjalani kehidupan dunia menuju kebahagiaan akhirat yang abadi.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Mari kita mulai puasa Syawal:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
"Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun."
(HR. Muslim)
Demikian, penulis pamit sejenak untuk berolahraga pagi dan berbelanja kebutuhan harian.
Bogor, 23 Maret 2026
[MA/UF]
Baca juga:
0 Comments: