Headlines
Loading...
Murid Keroyok Guru Cermin Kebobrokan Sistem

Murid Keroyok Guru Cermin Kebobrokan Sistem

Oleh: Verawati, S.Pd.
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com - Miris. Kasus kekerasan murid terhadap guru, dan sebaliknya, kembali terulang. Dunia pendidikan kembali tercoreng oleh peristiwa pengeroyokan guru oleh murid. Peristiwa ini menunjukkan adanya persoalan serius dan mendalam dalam sistem pendidikan kita hari ini.

Sebagaimana diberitakan Kompas.com (18 Januari 2026), MUF, salah satu siswa yang terlibat, memaparkan kronologi kejadian. Saat proses belajar mengajar berlangsung, suasana kelas mulai ribut. Salah satu siswa mengingatkan teman-temannya agar diam karena khawatir terdengar oleh guru lain yang oleh siswa dijuluki “Prince”. Guru yang dimaksud adalah Agus Saputra.

Tak lama kemudian, Agus Saputra melintas dan masuk ke kelas tanpa seizin guru yang sedang mengajar. Kejadian tersebut memicu kemarahannya hingga ia melontarkan kata-kata hinaan kepada para murid. Para siswa meminta agar Agus Saputra meminta maaf, namun permintaan itu tidak diindahkan. Situasi pun memanas hingga MUF ditonjok, yang kemudian memancing reaksi spontan siswa lain dan berujung pada pengeroyokan. “Pas saya dekat ke muka dia, saya ditinju di hidung,” ujar MUF.

Jika ditelaah dari penuturan MUF, peristiwa ini sejatinya seperti bom waktu yang akhirnya meledak. Terdapat ketegangan laten antara guru dan murid yang telah berlangsung cukup lama. Ketidakharmonisan ini sangat mungkin dipicu oleh sikap dan perilaku pendidik yang tidak mencerminkan keteladanan, sehingga memicu akumulasi emosi dan kekecewaan di kalangan siswa.

Namun, peristiwa ini juga dapat dipahami dari sudut pandang lain. Sikap pendidik yang ingin dipanggil dengan sebutan tertentu, seperti “Prince”, boleh jadi merupakan upaya menjaga wibawa. Hal ini tidak terlepas dari realitas bahwa banyak guru saat ini tidak lagi mendapatkan penghormatan yang layak dari murid. Sebagaimana kasus yang menimpa guru SD di Jambi, Ibu Tri, yang dilaporkan ke polisi setelah menertibkan rambut siswa yang dicat pirang. Sang siswa tidak terima, terjadi reaksi spontan berupa tamparan, dan berujung pada proses hukum (Kumparan.com, 21 Januari 2026).

Persoalan Sistemik dalam Pendidikan

Kasus ini, dan berbagai kasus serupa, menunjukkan bahwa problem pendidikan hari ini bukan persoalan personal semata, melainkan persoalan sistemik. Pendidikan seolah kehilangan ruh dan maknanya. Tujuan pendidikan tidak lagi diarahkan untuk membentuk manusia seutuhnya, yakni manusia yang mengenal Penciptanya, memahami tujuan hidupnya, serta memiliki martabat dan memberi manfaat bagi sesama.

Saat ini, pendidikan lebih diarahkan pada tujuan materialistik, seperti mengejar nilai tinggi, kelulusan cepat, dan menyiapkan peserta didik menjadi tenaga kerja. Dalam orientasi semacam ini, adab dan akhlak terpinggirkan. Maka, tidak mengherankan jika kita menyaksikan peserta didik yang miskin adab, bahkan pendidik yang kehilangan wibawa dan keteladanan.

Relasi guru dan murid yang seharusnya dibangun di atas penghormatan, kasih sayang, dan keteladanan justru berubah menjadi relasi yang penuh ketegangan dan konflik. Semua ini merupakan buah dari pendidikan berbasis kapitalis-sekuler, di mana pendidikan tidak diposisikan sebagai kebutuhan dasar untuk membentuk manusia berkepribadian Islam, melainkan sebagai sarana meraih keuntungan dan status ekonomi.

Pendidikan dijauhkan dari nilai agama. Pelajaran agama sering kali hanya menjadi pelengkap, bukan fondasi utama, terutama di tingkat dasar. Akibatnya, peserta didik tidak memiliki pijakan nilai yang kuat dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

Selain itu, dalam sistem kapitalisme, pendidikan diperlakukan sebagai komoditas. Negara tidak hadir sepenuhnya sebagai penanggung jawab, melainkan sebatas regulator. Berbagai persoalan pendidikan pun tidak tertangani secara tuntas, mulai dari sarana dan prasarana, kurikulum, kesejahteraan guru, hingga kualitas pembelajaran. Semua ini merupakan konsekuensi dari penerapan sistem kapitalisme dalam pendidikan.

Adab dalam Pandangan Islam

Islam memiliki pandangan yang sangat jelas tentang pendidikan. Tujuan pendidikan adalah membentuk kepribadian Islam, yakni manusia yang menjadikan akidah Islam sebagai landasan berpikir dan bersikap.

Sejarah para ulama terdahulu memberikan pelajaran berharga. Keagungan mereka sebagai ulama dan ilmuwan bukan semata karena kecerdasan, melainkan karena adab. Adab terhadap guru, adab terhadap ilmu, dan adab terhadap diri sendiri.

Para penuntut ilmu di masa lalu membiasakan diri mengosongkan hati dan pikiran sebelum belajar, seperti gelas kosong yang siap diisi. Artinya, mereka menanggalkan kesombongan dan perasaan sudah tahu.

Imam Malik, misalnya, ketika hendak mengajar hadis, terlebih dahulu berwudhu, mengenakan pakaian terbaik, dan memakai wewangian sebagai bentuk penghormatan terhadap ilmu.

Imam Syafi’i juga dikenal sangat menjaga adab kepada gurunya. Bahkan saat membuka lembaran kitab, beliau melakukannya dengan sangat pelan agar tidak mengganggu sang guru.

Abdullah bin Mubarak berkata, “Kami mempelajari adab selama tiga puluh tahun dan mempelajari ilmu selama dua puluh tahun.”

Ungkapan ini menegaskan bahwa adab merupakan fondasi ilmu. Ketika adab tertanam kuat, ilmu akan mudah diraih dan melahirkan keberkahan. Ilmu tidak melahirkan kesombongan, tetapi membawa manfaat luas bagi umat.

Dalam Islam, ilmu adalah ibadah. Ibadah tidak akan sempurna tanpa adab dan pelaksanaan yang sesuai dengan syariat. Adab sendiri dibangun di atas akidah yang lurus.

Dalam sistem Islam, negara hadir secara penuh dalam urusan pendidikan, mulai dari penetapan kurikulum, penyediaan sarana dan prasarana, hingga jaminan kesejahteraan guru. Negara memastikan pendidikan berjalan sesuai tujuan hakikinya. Dengan demikian, guru dan murid dapat fokus dalam proses pembelajaran dan lahir generasi berkepribadian Islam yang siap memimpin peradaban.

Penutup

Belajar dari sejarah para ulama, dapat disimpulkan bahwa adab harus didahulukan sebelum ilmu. Tanpa adab, pendidikan akan kehilangan ruhnya dan melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara moral.

Kasus murid mengeroyok guru ini seharusnya menjadi alarm keras bagi semua pihak. Sudah saatnya pendidikan dikembalikan pada tujuan hakikinya, yakni membentuk manusia berkepribadian Islam.

Hal tersebut tidak akan terwujud tanpa penerapan sistem Islam secara menyeluruh. Hanya sistem Islam yang mampu menghadirkan pendidikan terbaik, melahirkan generasi yang beradab, menjadi ulama dan ilmuwan, serta siap menjadi pemimpin masa depan. Oleh karena itu, sudah saatnya sistem Islam ditegakkan kembali agar pendidikan berfungsi sebagaimana mestinya.

Wallahualam bissawab. [An/Hem]

Baca juga:

0 Comments: