Headlines
Loading...
Krisis Ruh Pendidikan Agama di Era Generasi Digital

Krisis Ruh Pendidikan Agama di Era Generasi Digital

Oleh: Ummu Fahhala
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)

SSCQMedia.Com—Survei IPSOS 2025 yang menempatkan mata pelajaran agama sebagai salah satu pelajaran paling tidak diminati oleh Gen Z sejatinya bukan sekadar potret preferensi belajar. Ia merupakan sinyal krisis yang lebih dalam, yakni kegagalan sistem pendidikan dalam menghadirkan agama sebagai fondasi kehidupan, bukan sekadar kewajiban administratif (Detik.com, 17/01/2026).

Di tengah laju teknologi, kecerdasan buatan, dan arus informasi global yang membanjiri ruang hidup generasi muda, kebutuhan akan makna hidup justru kian mendesak. Namun, pendidikan agama, khususnya Pendidikan Agama Islam, belum mampu tampil sebagai jawaban eksistensial dan solusi sosial. Ia tereduksi menjadi hafalan, evaluasi kognitif, dan rutinitas kelas yang terpisah dari realitas.

Padahal Allah Swt. menegaskan bahwa Islam diturunkan bukan sebagai ritual semata, melainkan sebagai petunjuk hidup secara menyeluruh:

"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh) dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan." (QS. Al-Baqarah: 208)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam adalah sistem kehidupan yang utuh, bukan fragmen pelajaran yang berdiri sendiri di sudut kurikulum.

Secara faktual, porsi Pendidikan Agama Islam di sekolah sangat terbatas. Dalam waktu yang sempit itu, Islam dipadatkan menjadi pengetahuan normatif, bukan proses pembentukan cara berpikir dan kepribadian. Fokus pembelajaran cenderung berhenti pada aspek ibadah individual, sementara dimensi sosial, politik, ekonomi, dan peradaban Islam hampir tidak tersentuh.

Padahal Rasulullah saw. bersabda, "Aku diutus tidak lain kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad)

Hadis ini tidak hanya berbicara tentang moral pribadi, tetapi juga tentang pembentukan manusia dan masyarakat yang beradab secara menyeluruh. Akhlak dalam Islam mencakup keadilan, amanah, kepemimpinan, muamalah, serta tatanan sosial yang lurus.

Ketika pendidikan agama tidak mengaitkan ajaran Islam dengan problem nyata seperti krisis mental, hedonisme digital, ketimpangan sosial, hingga kebingungan identitas, agama pun terasa asing di tengah kehidupan.

Sekularisasi Ilmu dan Reduksi Peran Islam

Masalah mendasar terletak pada sistem pendidikan sekuler yang memisahkan agama dari seluruh aspek kehidupan. Islam diajarkan sebagai pelajaran tersendiri, sementara ilmu-ilmu lain berjalan tanpa nilai wahyu.

Padahal Allah Swt. berfirman:

"Kami turunkan kepadamu Al-Kitab sebagai penjelas atas segala sesuatu, petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri." (QS. An-Nahl: 89)

Al-Qur’an bukan hanya pedoman ibadah, tetapi juga penjelas kehidupan secara menyeluruh. Ketika kurikulum memisahkan Islam dari sains, ekonomi, dan sosial, sejatinya ia telah mencabut ruh keilmuan Islam itu sendiri.

Rasulullah saw. juga memperingatkan bahaya kehidupan tanpa petunjuk wahyu:

"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitabullah dan Sunnahku." (HR. Malik)

Namun, dalam sistem pendidikan modern, Kitabullah dan Sunnah justru dipinggirkan dari pembentukan worldview generasi muda.

Keterbatasan kompetensi sebagian pendidik agama turut memperparah kondisi. Pembelajaran sering bersifat tekstual tanpa pendalaman makna dan relevansi dengan perkembangan zaman.

Kesempurnaan Islam

Padahal Allah Swt. memuliakan ilmu dan orang yang mengajarkannya:

"Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11)

Guru agama seharusnya bukan sekadar penyampai materi, melainkan pembentuk pola pikir Islami yang mampu mengaitkan wahyu dengan realitas kontemporer.

Rendahnya minat Gen Z terhadap pelajaran agama bukan bukti kegagalan Islam, melainkan kegagalan sistem dalam menyajikan Islam secara utuh. Selama agama dipersempit menjadi ritual personal dan formalitas kurikulum, ia akan terus terasa jauh dari kehidupan nyata.

Allah Swt. menegaskan tujuan risalah Islam:

"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya: 107)

Islam adalah rahmat peradaban, solusi kehidupan, dan sistem yang membimbing manusia menuju kebaikan dunia dan akhirat.

Tanpa keberanian mengintegrasikan Islam sebagai pandangan hidup dalam pendidikan, generasi muda akan terus mencari makna di luar nilai ilahiah, pada ideologi materialistik, budaya populer, dan arus pemikiran sekuler yang kering ruhani.

Pendidikan agama hanya akan kembali dicintai ketika ia kembali menjadi cahaya kehidupan, bukan sekadar mata pelajaran yang dihafal lalu dilupakan. [My/PR]

Baca juga:

0 Comments: