Headlines
Loading...
Gangguan Mental, Gejala Kerusakan Sistem

Gangguan Mental, Gejala Kerusakan Sistem

Oleh: Ummu Fahhala
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)

SSCQMedia.Com—Di tengah ketiadaan pandemi fisik, jiwa manusia justru menghadapi krisis yang tak kalah serius. Di Indonesia, persoalan kesehatan mental bukan sekadar angka statistik, melainkan realitas yang mengguncang tatanan sosial dan spiritual. Menteri Kesehatan Republik Indonesia menyatakan bahwa sekitar 28 juta warga berpotensi mengalami masalah kesehatan mental dengan beragam gejala, seperti depresi dan kecemasan. Angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan rasio WHO dan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai ratusan juta jiwa (Detik.com, 19 Januari 2026).

Fenomena ini bukan sekadar persoalan medis. Ia merupakan refleksi tekanan batin yang merembes dari berbagai aspek kehidupan modern, mulai dari tekanan ekonomi, beban pendidikan, persaingan sosial, hingga arus informasi yang tiada henti.

Berbagai studi menunjukkan bahwa gangguan mental, terutama di kalangan remaja dan anak muda, bukan sekadar emosi sesaat. Survei nasional mengungkapkan bahwa sekitar sepertiga remaja menunjukkan gejala gangguan psikologis dalam 12 bulan terakhir, dengan gangguan kecemasan sebagai yang paling umum terjadi (Beph.fkkmk.ugm.ac.id, Maret 2023).

Namun, banyak di antara mereka kesulitan mengakses layanan kesehatan mental atau enggan mencari bantuan profesional. Ini menjadi tragedi sosial yang mencerminkan masih kuatnya stigma, kebingungan makna hidup, serta lemahnya dukungan komunitas.

Dalam konteks inilah, penyembuhan jiwa tidak cukup dipahami sebagai urusan klinis semata. Ia menuntut transformasi mendasar, baik dari dalam diri individu maupun dari struktur sosial tempat individu itu hidup.

Islam, Solusi Jiwa yang Komprehensif

Islam hadir menyentuh akar persoalan manusia, tidak hanya pada aspek ritual, tetapi juga pada makna hidup, relasi sosial, dan ketenangan batin.

Allah Swt. berfirman:

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS Ar-Ra’d [13]: 28)

Ayat ini tidak sekadar menawarkan ketenangan sebagai perasaan, tetapi sebagai fondasi eksistensial. Hati yang bersandar kepada Allah tidak mudah goyah oleh gejolak duniawi. Inilah dimensi spiritual yang kerap terabaikan dalam diskursus kesehatan mental modern.

Islam juga mengajarkan konsep qada dan qadar, bahwa segala sesuatu yang menimpa manusia merupakan bagian dari ketetapan Allah. Tugas manusia adalah berikhtiar dan bertawakal kepada-Nya. Tawakal bukanlah kepasrahan tanpa usaha, melainkan keseimbangan antara ikhtiar dan penyerahan diri.

“…dan bertawakallah kepada Allah; dan cukuplah Allah sebagai pelindung.”
(QS Al-Ahzab [33]: 3)

Dengan pemahaman ini, kesulitan hidup tidak lagi menjadi sumber keputusasaan, melainkan momentum untuk memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta.

Islam juga menekankan pentingnya komunitas atau ummah serta kerja sama atau ta’awun dalam kehidupan bermasyarakat.

“…dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa…”
(QS Al-Maidah [5]: 2)

Ayat ini memberikan arahan bahwa masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang saling menguatkan dalam kebaikan, bukan saling menjatuhkan dalam kompetisi konsumtif atau isolasi sosial. Ketika struktur sosial melemahkan kebersamaan, tekanan psikis pun semakin menguat.

Saat ini, tekanan ekonomi dan sosial, mulai dari ketidakpastian pekerjaan hingga intensitas konsumsi media sosial, menjadi bagian dari keseharian banyak orang. Tanpa pemulihan spiritual dan sosial, upaya rehabilitasi jiwa melalui psikoterapi atau pengobatan hanya bersifat sementara.

Dalam paradigma Islam, negara juga memiliki peran penting dalam menjamin kehidupan yang seimbang. Negara berkewajiban menyediakan kebutuhan dasar dan menciptakan lingkungan sosial yang mendukung ketenangan batin. Ketika kebijakan publik berpihak pada kesejahteraan manusia, bukan semata pertumbuhan ekonomi, ketenangan jiwa menjadi bagian dari tatanan yang dijaga bersama.

Negara yang amanah adalah negara yang menjamin rasa aman, keadilan, dan martabat setiap warga negara, bukan negara yang membiarkan tekanan struktural terus-menerus menjadi norma kehidupan.

Penutup

Masalah kesehatan mental adalah panggilan zaman yang menuntut penataan ulang makna hidup. Islam memberikan bekal spiritual dan sosial yang menyeluruh, mulai dari ketenangan dalam mengingat Allah, kekuatan tawakal yang aktif, hingga solidaritas komunitas yang saling meneguhkan.

Sudah saatnya kita berhenti memandang gangguan batin sebagai persoalan individu semata. Jiwa manusia tidak terpisah dari hubungannya dengan Tuhan, masyarakat, dan sistem kehidupan yang melingkupinya. Dengan pemahaman ini, respons terhadap krisis kesehatan mental dapat menjadi lebih manusiawi, tidak hanya kuratif, tetapi juga transformatif.

Wallahualam bissawab. [My/HEM]

Baca juga:

0 Comments: