File Epstein: Bukti Kekuasaan Dimonopoli Golongan Elit
Oleh: Azrina Fauziah, S.Pt.
(Aktivis Dakwah)
SSCQMedia.Com—Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DoJ) merilis kumpulan dokumen terkait kasus perdagangan seks terbesar di Amerika Serikat yang dikenal sebagai File Epstein. File Epstein merupakan kumpulan dokumen setebal ribuan halaman yang berkaitan dengan kasus perdagangan seks yang melibatkan pemodal Amerika Serikat, Jeffrey Epstein, dan Ghislaine Maxwell.
Berkas-berkas ini terbagi ke dalam sejumlah dokumen, mulai dari catatan perjalanan, rekaman komunikasi, hingga surat elektronik yang mengungkap jejaring sosial Epstein dengan tokoh-tokoh dunia (Kompas.com, 2 Februari 2026). Dalam dokumen tersebut disebutkan berbagai kejahatan, seperti perbudakan seks, pelecehan anak, kekerasan seksual, penggunaan kiswah Ka'bah sebagai alas, hingga dugaan bahwa Epstein merupakan agen Mossad.
Selain itu, disebutkan pula sejumlah tokoh penting dunia yang memiliki relasi dengan Epstein. Dilansir dari BBC.com (2 Januari 2026), tokoh-tokoh tersebut di antaranya Donald Trump, Elon Musk, Bill Gates, Prince Andrew, Sarah Ferguson, Richard Branson, Miroslav Lajčák, dan Peter Mandelson.
Bahkan, kata kunci Indonesia juga muncul berulang kali di dalam file tersebut hingga berjumlah 902 berkas. Sejumlah figur pejabat dan pengusaha Indonesia, seperti Joko Widodo, Sri Mulyani Indrawati, Hary Tanoesoedibjo, dan Eka Tjipta Widjaja, disebut-sebut memiliki keterkaitan dalam perkembangan dunia dan bisnis (3 Februari 2026).
Meski banyak tokoh dunia yang disebutkan, tidak semuanya berkaitan langsung dengan kejahatan yang dilakukan Epstein. Donald Trump, misalnya, disebut lebih dari 6.000 kali dalam dokumen tersebut. Namun, ia menolak dikaitkan secara langsung dengan Epstein dan menyatakan bahwa hubungan mereka sebatas pertemanan pada 1990-an hingga awal 2000-an, sebelum akhirnya terputus.
Sistem Kapitalisme Memfasilitasi Kekuasaan dan Kepentingan Golongan Elit
File Epstein yang dibuka ke publik hanyalah secuil fakta dari berbagai kejahatan peradaban Barat. Masih banyak sisi gelap yang diduga belum terungkap. Fakta ini seharusnya membuka mata kaum muslim dan umat manusia bahwa sistem kapitalisme yang dikampanyekan peradaban Barat tidak layak memimpin dan mengatur dunia. Sistem ini telah menimbulkan berbagai kerusakan, mulai dari pergaulan bebas hingga memfasilitasi kekuasaan dan kepentingan segelintir elit.
Bukan rahasia lagi bahwa para pemilik modal dan penguasa kerap menjalin hubungan kerja sama untuk menguatkan kekuasaan dan kepentingan masing-masing. Penguasa membutuhkan modal untuk mencalonkan diri sebagai pejabat, sedangkan pemilik modal ingin bisnisnya dimudahkan. Alhasil, terbentuklah hubungan simbiosis mutualisme di antara mereka.
Meskipun Presiden Donald Trump menepis kedekatannya dengan Epstein, fakta relasi antara elit pemodal dan pejabat tidak dapat dimungkiri. Sebagaimana hubungan Epstein dengan mantan Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, serta sejumlah tokoh penting lainnya. Mereka bahkan membahas persoalan teknologi, finansial, dan geopolitik yang berdampak luas bagi masyarakat dunia.
Politik Islam
Dalam Islam, politik atau as-siyāsah memiliki konsep ri‘āyah syu’ūn al-ummah yang berarti mengurusi urusan umat. Segala kebutuhan umat, mulai dari pendidikan, kesehatan, keamanan, sandang, pangan, papan, hingga ketakwaan, menjadi tanggung jawab negara. Hal ini berbeda dengan sistem kapitalisme yang memandang politik sebagai ajang perebutan kekuasaan berlandaskan sekularisme.
Negara sekuler cenderung berfungsi sebagai regulator kebijakan yang sering kali menguntungkan pihak pemodal. Rakyat hanya dijadikan objek untuk mengumpulkan keuntungan. Bahkan, sistem kapitalisme sekuler membiarkan individu bekerja dengan menghalalkan berbagai cara, meskipun melanggar hukum.
Berbeda dengan itu, politik Islam berdiri di atas konsep kedaulatan di tangan syarak. Hukum syariat Islam diterapkan secara menyeluruh dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, politik, hingga sistem sanksi. Penerapan ini bertujuan mewujudkan maqāṣid asy-syarī‘ah yang menjaga lima hal pokok, yaitu akidah, jiwa, akal, keturunan, dan harta, tanpa memandang status agama warga negara.
Dengan berbagai kebobrokan sosial yang terjadi di Barat, semestinya umat manusia membuka mata bahwa sistem kapitalisme bukanlah kepemimpinan yang baik dan layak dipertahankan. Sudah saatnya mencari dan menerapkan sistem alternatif. Bukan kapitalisme ataupun sosialisme, melainkan sistem Islam yang insyaallah akan membawa rahmat bagi seluruh alam. Wallahualam bissawab. [My/EKD]
Baca juga:
0 Comments: