Oleh: Najma MR
(Penggiat Literasi)
SSCQMedia.Com—Pernah nggak sih kamu denger temen kamu bilang, "Duh, nikah tuh ribet, mending pacaran aja yang bebas"? Atau mungkin kamu sering denger orang dewasa curhat soal mahalnya biaya resepsi, mahalnya harga popok bayi, sampai cicilan rumah yang bikin nyali buat nikah jadi ciut?
Ironisnya, di era sekarang, saat pernikahan dianggap sebagai beban yang berat banget, hubungan di luar nikah justru dianggap hal yang biasa atau "ringan". Inilah yang disebut sebagai krisis makna pernikahan di kalangan generasi muda. Kita kayak kehilangan arah, tentang apa sebenarnya tujuan dari sebuah ikatan suci, karena standar kebahagiaan kita sudah telanjur dikontrol oleh tren duniawi yang semu.
Saat Hubungan Bebas Menjadi Tren dan Nikah Dianggap Beban
Krisis ini bukan sekadar perasaan kita doang atau obrolan tongkrongan belaka, tapi memang ada datanya yang bikin elus dada. Berdasarkan laporan dari Detik.com, 0 Januari 2026, angka permohonan dispensasi nikah karena kehamilan di luar nikah masih menunjukkan tren yang mengkhawatirkan di berbagai daerah. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan bebas makin dianggap "enteng" tanpa memikirkan risiko jangka panjang, baik secara fisik, mental, maupun sosial. Remaja hari ini seolah kehilangan rasa takut terhadap dosa besar karena lingkungannya sudah menormalisasi hal tersebut melalui konten-konten media sosial yang tidak mendidik.
Di sisi lain, media Republika.co.id, 10 Januari 2026, merilis hasil survei yang menyebutkan bahwa mayoritas anak muda sekarang memilih menunda pernikahan atau bahkan memilih untuk tidak menikah sama sekali karena alasan ekonomi atau "takut miskin". Pernikahan seolah-olah cuma soal pesta mewah yang harus instagrammable, dekorasi estetik untuk validasi media sosial, dan tumpukan materi yang harus dipersiapkan bertahun-tahun. Akibatnya, banyak dari kita yang memandang pernikahan sebagai "penjara" ekonomi atau penghambat kesuksesan pribadi, bukan sebagai ibadah atau perjalanan membangun peradaban yang mulia.
Racun Sekuler Kapitalistik dalam Cara Pandang
Fenomena sih fenomena ini bisa terjadi secara masif? Kalau kita bedah secara psikologis dan sosiologis, semua ini nggak lepas dari cara pandang sekuler kapitalistik yang mendominasi otak kita. Sistem ini sukses banget bikin kita mikir kalau kebahagiaan itu cuma soal materi, pencapaian karier, dan kesenangan fisik semata. Kapitalisme memandang manusia hanya sebagai mesin produksi dan konsumsi, jika pernikahan dianggap menurunkan daya beli atau menambah beban finansial bagi individu, maka sistem ini akan mempromosikan gaya hidup "bebas tanggung jawab" seperti pacaran tanpa ikatan atau hubungan tanpa status (situationship).
Dalam kacamata kapitalis, pernikahan diitung untung-ruginya secara materiil dan egoistik semata. Kalau nikah bikin pengeluaran nambah atau waktu buat "me-time" berkurang, ya mending tunda dulu atau nggak usah sekalian. Sementara itu, paham sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari, bikin kita merasa kalau hubungan asmara itu urusan privat yang nggak perlu diintervensi oleh aturan Tuhan. Makanya, zina dianggap sebagai "hak asasi" atau sekadar kesalahan kecil yang bisa dimaklumi, sedangkan pernikahan yang penuh tanggung jawab syar'i justru dipandang sebagai hambatan buat mengejar kebebasan individu. Analisa kasarnya begini: sistem ini ingin kita punya nafsu setinggi langit tapi dengan tanggung jawab nol besar.
Krisis Identitas dan Hilangnya Kompas Moral
Lebih jauh lagi, krisis makna ini terjadi karena generasi muda mengalami disorientasi identitas yang cukup parah. Kita lebih sering terpapar konten media yang memuja kemewahan dan hubungan tanpa komitmen daripada konten yang membangun kesiapan mental untuk membangun keluarga yang tangguh.
Budaya populer sering kali menggambarkan pernikahan sebagai akhir dari kebebasan, bukan awal dari sebuah perjuangan yang berharga untuk masa depan. Hal ini diperparah dengan lemahnya peran keluarga sebagai sekolah pertama dalam menanamkan nilai-nilai agama. Akibatnya, saat menghadapi tantangan ekonomi, mental remaja langsung tumbang dan memilih jalan pintas yang merusak kehormatan diri demi kepuasan sesaat.
Mengembalikan Makna Suci Pernikahan
Islam hadir buat memberikan perspektif yang jauh lebih keren, berkelanjutan, dan menyeluruh untuk mengatasi krisis makna ini secara tuntas. Langkah pertama adalah dengan memahami secara mendalam bahwa pernikahan dalam Islam itu bukan sekadar urusan administrasi, tuntutan adat, atau beban materi, melainkan sebuah ibadah agung untuk menyempurnakan separuh agama dan menjaga kesucian jiwa. Islam dengan tegas melarang segala bentuk hubungan di luar nikah karena hal tersebut hanya akan merusak tatanan sosial, mengacaukan garis keturunan, dan menghancurkan martabat manusia.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an surah Al-Isra ayat 32, yang menyatakan bahwa kita tidak boleh mendekati zina karena itu adalah perbuatan keji dan jalan yang sangat buruk.
Selanjutnya, solusi Islam menuntut kita untuk membangun landasan pemahaman yang kokoh di mana pernikahan dipandang sebagai visi besar untuk mencetak generasi pemimpin masa depan, bukan sekadar urusan cinta monyet yang temporer. Islam memberikan jaminan yang luar biasa bahwa siapa pun yang berniat menikah dengan tujuan mulia untuk menjaga kesucian dirinya, maka Allah secara mutlak akan memberikan pertolongan dan membuka pintu-pintu kecukupan. Jadi, orientasi kita harus diubah dari sekadar mencari kesenangan duniawi yang terbatas menjadi upaya nyata untuk hidup bervisi surga.
Menikah menjadi sarana bagi kita dan pasangan untuk saling menguatkan dalam ketaatan, membangun rumah tangga yang menjadi miniatur surga di dunia (Baiti Jannati), sehingga hubungan tersebut nggak cuma berakhir di pelaminan atau di liang lahat, tapi berlanjut abadi sampai ke surga kelak.
Menuju Peradaban Berlandaskan Syariat
Islam juga menawarkan solusi sistemik melalui pengaturan ekonomi dan sosial yang adil dan manusiawi. Dalam sistem Islam, negara bertanggung jawab memastikan setiap laki-laki memiliki kemudahan dalam mendapatkan lapangan kerja agar bisa menafkahi keluarganya secara layak, sehingga alasan "takut miskin" tidak lagi menjadi penghalang mental untuk menikah.
Lingkungan sosial pun dikondisikan agar mendukung ketaatan, di mana pornografi dan akses menuju zina ditutup rapat melalui kebijakan yang tegas, sementara akses menuju pernikahan yang berkah dipermudah. Ini adalah bentuk perlindungan hakiki bagi generasi muda agar tidak terjebak dalam krisis moral yang berkepanjangan dan merusak.
Hijrah Cara Pandang
Sudah sudah saatnya kita berhenti memandang pernikahan hanya dari kacamata materi atau beban finansial saja. Krisis makna ini cuma bisa sembuh kalau kita berani memutus rantai pemikiran sekuler yang menyesatkan dan balik lagi ke pemahaman Islam yang kafah. Jangan sampai kita menjadi generasi yang terjebak dalam hubungan bebas yang dianggap ringan padahal dosanya menghancurkan dunia dan akhirat, sementara pernikahan yang penuh keberkahan malah kita jauhi karena ketakutan yang nggak berdasar.
Mari kita bangun visi masa depan yang lebih bermakna, berkelas, dan elegan. Hubungan yang keren itu bukan yang tanpa status atau yang cuma pamer kemesraan ilegal, tapi hubungan yang punya tujuan jelas: membangun peradaban dan meraih rida Sang Pencipta.
Jadikan pernikahan sebagai resolusi besar untuk memperbaiki diri dan berkontribusi bagi umat. Mari kita mulai hidup bervisi surga, di mana setiap pilihan hidup kita (termasuk urusan pasangan) selalu bermuara pada keinginan untuk berkumpul kembali bersama orang-orang tercinta di jannah-Nya. Sayangi masa depanmu, jaga kehormatanmu, dan kembalilah pada kemuliaan Islam. Wallahualam bissawab. [ry/HEM].
Baca juga:
0 Comments: