Headlines
Loading...
Terkabulnya Doa: Anak Ke-7 di Usia 40 Tahun

Terkabulnya Doa: Anak Ke-7 di Usia 40 Tahun

Oleh: Dhevi Firdausi, ST.
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Saya punya cita-cita yang agak melawan arus, yaitu ingin memiliki banyak anak. Di tengah sistem sekularisme yang membuat masyarakat cenderung memiliki mindset bahwa anak adalah beban kehidupan. Di tengah arus digalakkannya program KB dengan slogan terkenalnya, yaitu dua anak cukup.

Dalam Islam, rezeki tiap hamba sudah dijamin oleh Sang Pencipta. Setiap makhluk yang bernyawa pasti dipenuhi rezekinya, apalagi manusia sebagai makhluk yang paling sempurna. Pada zaman nenek dahulu, memiliki belasan anak merupakan kondisi yang biasa, dan mereka hidup sejahtera.

Awal Hamil

Dulu, tidak menyangka dikaruniai rahim sesubur ini, alhamdulillah. Dari kelahiran enam anak sebelumnya, selalu memakai KB untuk menjaga jarak usia anak agar tidak terlalu dekat, meski efeknya badan makin melebar. Alhamdulillah ‘ala kulli hal, di usia 39 tahun ini, positif hamil anak ke-7.

Dahulu kala, ada yang pernah bilang ingin punya tujuh anak. Ketika ditanya alasannya, jawabannya sangat sederhana, karena dalam satu minggu ada tujuh hari. Jawaban yang simpel, tetapi langsung nyantol di otak.

Sejak saat itu, setiap selesai salat lima waktu, hampir selalu berdoa agar bisa memiliki tujuh anak. Sempat membayangkan anak ke-7 akan lahir di usia 40 tahun. Memang, dari keluarga suami, hamil di usia 40 tahun merupakan kondisi yang sering terjadi.

Usia Lima Bulan Kandungan

Selama hamil enam anak sebelumnya, tidak pernah ada riwayat darah tinggi. Semua lahir normal dan sehat, bahkan kelahiran anak ke-6 tanpa lecet jahitan sama sekali. Rupanya, kehamilan anak ke-7 ini berbeda. Sejak usia kandungan memasuki lima bulan, tensi darah mulai merangkak naik.

Kebiasaan sejak hamil anak pertama adalah selalu konsultasi di dua fasilitas kesehatan, yaitu dokter kandungan dan bidan. Pada kehamilan ini, keduanya memberikan resep obat penurun tensi darah. Semua berharap tensi darah segera turun di trimester terakhir.

Menurut ilmu kesehatan, kehamilan ini tergolong sangat berisiko. Banyak faktor yang memengaruhi, seperti usia hampir 40 tahun, jumlah anak yang sudah banyak, jarak kehamilan yang dekat, dan lain-lain. Namun alhamdulillah, selama hamil kondisi bayi dan ibu tetap sehat, serta masih bisa beraktivitas normal seperti biasa.

Problematika pada kehamilan ini hanya satu, yaitu tensi darah yang tinggi. Selain rutin minum obat, istirahat cukup, serta mengonsumsi mentimun dan seledri, semua sudah dilakukan. Namun, semua itu seolah tidak ada artinya karena tensi darah justru cenderung terus naik.

HPL di Bulan Desember

Pada bulan kelima kandungan, tensi darah naik menjadi 150. Memasuki bulan keenam dan seterusnya, tensi tetap bertahan dan tidak mau turun. Hingga mendekati HPL pada 23 Desember, tensi mencapai puncaknya, yaitu 218.

Dengan tensi darah setinggi itu, bidan yang biasanya cekatan menangani akhirnya angkat tangan dan memberikan rujukan ke rumah sakit terdekat karena jalan lahir sudah menunjukkan pembukaan lima. RS Ubaya menjadi pilihan utama.

Sesampainya di rumah sakit, segera dilakukan observasi. Untuk menurunkan tensi darah, perawat memasang infus dan menyuntikkan obat yang menimbulkan sensasi panas menjalar ke seluruh tubuh. Anehnya, kontraksi berhenti dan bidan jaga menyatakan belum ada pembukaan sama sekali.

IGD RS dr. Soetomo

Karena ruang HCU RS Ubaya sudah penuh, akhirnya dirujuk ke RS dr. Soetomo Karang Menjangan. Untuk pertama kalinya merasakan naik mobil ambulans dengan perut yang kembali mengalami kontraksi. Alhamdulillah, ada ibu yang menemani sehingga hati terasa lebih tenang.

Upaya penurunan tensi segera dilakukan setibanya di IGD. Setelah tensi mencapai 150 dan kontraksi terus bertambah, dokter berani melakukan persalinan normal. Anggapan bahwa rumah sakit identik dengan operasi caesar pun runtuh. Dengan bantuan beberapa dokter obgyn, alhamdulillah bayi dapat lahir dengan cepat, meski disertai rasa sakit yang luar biasa.

Drama belum selesai. Ari-ari tidak mau keluar karena masih menempel di bagian atas rahim. Pijat perut oleh dokter dilakukan puluhan kali dengan rasa sakit yang luar biasa.

Langkah selanjutnya, tangan dokter dimasukkan ke dalam rahim untuk mengambil plasenta. Dua kali tindakan dilakukan dengan rasa sakit yang tak tertahankan. Alhamdulillah, akhirnya ari-ari berhasil dikeluarkan dan area tindakan segera dibersihkan.

Setelah dilakukan USG, masih terlihat sisa plasenta yang menempel. Tangan dokter kembali dimasukkan untuk membersihkannya. Rasa sakit yang luar biasa membuat beberapa dokter dan bidan harus memegangi kedua kaki agar posisi tetap terbuka.

Proses melahirkan anak ketujuh akhirnya berhasil dilakukan secara normal. Setelah itu, kembali masuk ruang observasi dengan kateter yang terus dipantau. Tensi darah masih berada di angka 160 dan terus diupayakan turun.

Operasi Steril

Setelah proses persalinan, suami meminta tindakan operasi steril dilakukan karena khawatir preeklamsia terulang jika hamil kembali. Jadwal operasi harus menunggu karena akhir Desember ruang operasi penuh oleh pasien dengan tindakan berat.

Dokter Nareswari menjelaskan bahwa operasi steril termasuk tindakan ringan dengan risiko rendah. Akhirnya puasa dibatalkan dan diminta makan makanan dari rumah sakit.

Tensi darah masih di kisaran 150. Berat badan mencapai puncaknya, yaitu 94 kg. Kondisi tubuh yang gemuk dan bengkak, terutama di telapak kaki, membuat pemasangan infus sangat sulit. Jarum infus besar harus ditusukkan hingga lima kali karena pembuluh darah tidak terlihat jelas. Rasa ngilu semakin terasa ketika obat tensi disuntikkan.

Sempat terlintas keinginan membatalkan operasi steril. Dokter dan perawat dipanggil untuk berdiskusi, namun suami tetap menginginkan tindakan tersebut dilakukan. Dokter menjelaskan bahwa luka operasi steril hanya sekitar 3 cm, jauh lebih kecil dibanding luka operasi caesar yang bisa mencapai 15 cm, sehingga pemulihannya lebih cepat dan rasa sakitnya lebih ringan.

Akhirnya, operasi steril dilakukan. Saat di ruang operasi, obat bius disuntikkan, tetapi perut masih merasakan cubitan alat medis. Karena ketakutan, meminta bius total dan alhamdulillah dikabulkan.

Saat sadar, tubuh sudah berada di ruangan lain dengan jam dinding menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Dua dokter perempuan yang melakukan operasi sudah tidak terlihat, digantikan oleh para dokter muda yang menangani pasien pascaoperasi.

Banyak pasien pascaoperasi di ruangan ini, mulai dari ibu muda hingga lansia. Perawat mengatakan bahwa operasi steril merupakan tindakan paling ringan dibanding pasien lainnya.

Ruang HCU

Pukul 06.00 pagi, alhamdulillah dipindahkan ke ruang HCU. Di ruangan ini, pasien tidak diperbolehkan ditunggu keluarga. Upaya penurunan tensi terus dilakukan karena masih berada di angka 190.

Jahitan steril sama sekali tidak terasa sakit. Yang menjadi masalah utama tetap tensi darah yang belum stabil. Pemasangan infus kembali harus dilakukan hingga lima kali karena obat tidak masuk sempurna.

Hampir tiga hari menginap di ruang HCU karena tensi belum stabil. Satu per satu pasien lain dipindahkan ke ruang rawat inap. Kesabaran mulai menipis melihat tensi meter yang tak kunjung normal.

Alhamdulillah, tensi darah akhirnya mulai stabil. Namun ujian lain muncul, lingkar perut bagian bawah membesar meski sudah buang angin. Dokter memasang alat pengukur untuk memantau kondisi otot perut.

Suatu hari, perawat sempat panik karena darah matang keluar bersama nifas. Dokter obgyn segera dihubungi. Setelah pemantauan, alhamdulillah perdarahan berhenti.

Lingkar perut sempat terus membesar. Dokter menyatakan kemungkinan perlu pemasangan selang thorax untuk mengeluarkan udara dari perut. Selang tersebut dipasang melalui mulut hingga lambung. Mendengar penjelasan itu, hati yang semula lega kembali diliputi kecemasan.

Dalam kondisi emosi yang tak tertahan, menghubungi suami dan meminta pulang paksa. Namun suami meyakinkan untuk tetap bertahan demi kesehatan.

Hari itu seharusnya Zayana, putri sulung, kembali ke pesantren di Bogor. Dengan berat hati, memohon agar ayahnya tetap tinggal di Surabaya mengurus administrasi rumah sakit. Zayana dengan ikhlas berangkat diantar pamannya.

Keputusan tetap bertahan di rumah sakit akhirnya membuahkan hasil. Perut yang sempat kembung berangsur mengecil setelah sering buang angin. Rencana pemasangan selang thorax dibatalkan, alhamdulillah.

Setelah kondisi stabil, dilakukan pengambilan darah untuk pemeriksaan laboratorium. Akhirnya bisa pindah ke ruang rawat inap dan tidur dengan nyenyak ditemani ibu dan suami.

Alhamdulillah ‘ala kulli hal, seluruh rangkaian perjuangan melahirkan telah dilewati dengan baik. Tujuh anak yang diharapkan sejak awal pernikahan pun Allah Swt. wujudkan. Demikianlah, Allah Swt. senantiasa memberikan takdir terbaik bagi hamba-Nya. [My/AA]

Baca juga:

1 komentar