Rajab: Momentum Mengingat Keruntuhan dan Penegakan Khilafah
Oleh: Nuryati
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Peringatan Isra’ Mi’raj menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk kembali merenungkan makna mendalam dari peristiwa agung yang dialami Nabi Muhammad saw. Peristiwa luar biasa ini diperingati pada Jumat, 16 Januari 2026, bertepatan dengan 27 Rajab 1447 H (Liputan6.com, 10 Januari 2026).
Waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa, umat Islam akan kembali berjumpa dengan bulan suci Ramadan 1447 H. Masyaallah. Di bulan Rajab, masjid dan musala menggema dengan doa, “Allahumma bārik lanā fī Rajaba wa Sya‘bāna wa ballighnā Ramadhān.” Alhamdulillah ‘ala kulli hal, Allah masih mempertemukan kita dengan bulan Rajab yang mulia. Karena itu, sudah sepatutnya umat Islam mempersiapkan diri menyambut bulan penuh maghfirah, yakni Ramadan.
Bulan Rajab juga mengingatkan umat Islam pada peristiwa besar dalam sejarah, yaitu runtuhnya Khilafah pada 28 Rajab 1342 H atau bertepatan dengan 3 Maret 1924 M. Telah satu abad lamanya umat Islam hidup tanpa kepemimpinan tunggal. Rasulullah saw. pernah bersabda bahwa setiap seratus tahun akan terjadi pembaruan dalam urusan agama:
“Sesungguhnya Allah akan mengutus untuk umat ini pada setiap akhir seratus tahun orang yang akan memperbarui urusan agama mereka.”
(HR Abu Dawud)
Hadis ini memberikan harapan bahwa kebangkitan Islam akan kembali terwujud. Sejak runtuhnya Khilafah, umat Islam terpecah menjadi banyak negara. Sekat nasionalisme digelorakan sehingga umat kehilangan kekuatan, laksana anak ayam kehilangan induknya. Padahal, dahulu Khilafah menguasai hingga dua pertiga dunia dan bertahan selama lebih dari 14 abad. Wilayahnya terbentang dari Jazirah Arab, Eropa, Afrika, hingga Asia, tanpa tandingan kekuatan peradaban.
Pada masa Rasulullah saw., beliau memerintahkan futuhat atau pembebasan negeri-negeri di sekitarnya. Ketika umat Islam memenangkan peperangan, keberadaan mereka diakui. Kekuatan ruhiyah umat Islam membuat berbagai bangsa merasa gentar. Negara Islam pertama berdiri di Madinah, kemudian Rasulullah saw. mengirim utusan ke luar Jazirah Arab. Jika suatu negeri menolak dakwah Islam, maka diperangi. Namun jika tunduk, negeri tersebut akan dibina dan diriayah sesuai aturan Islam. Dari sinilah Khilafah Islam kemudian terbentang luas di penjuru dunia.
Pada masa Khilafah, rakyat hidup tenteram, damai, dan sejahtera. Bahkan diceritakan bahwa rakyat menolak menerima zakat karena merasa telah tercukupi, hingga zakat digantungkan di ranting-ranting pohon. Zakat bahkan dikirim ke wilayah Afrika yang lebih membutuhkan. Dalam sistem Khilafah, rakyat adalah subjek, sedangkan pemimpin adalah pelayan umat, ra’in dan junnah atau pelindung rakyat. Pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, sehingga khalifah senantiasa berhati-hati agar tidak menzalimi rakyat. Kebijakan negara diarahkan sepenuhnya untuk kemaslahatan umat, seperti pendidikan dan kesehatan gratis, jaminan keamanan, serta penerapan hukum Islam, termasuk jinayat, hudud, dan qishas.
Hari ini, umat Islam kembali menyaksikan kezaliman di berbagai penjuru dunia, terutama di Gaza, Palestina. Umat Islam seakan kehilangan pelindungnya. Pembantaian terjadi tanpa henti, sementara dunia memilih bungkam. Demikian pula penderitaan Muslim Uighur di China yang terus menjerit meminta pertolongan akibat kebiadaban penguasa, tetapi kembali dunia membisu.
Di Indonesia, bencana alam terjadi silih berganti dan merenggut ribuan nyawa. Namun respons para pemimpin kerap terlihat lamban dan jauh dari harapan. Inilah potret buram dunia Islam tanpa kepemimpinan Khilafah. Di manakah kekuatan lebih dari satu miliar umat Islam di dunia? Seperti sapu lidi, ketika tercerai-berai, kekuatannya pun lenyap.
Sudah saatnya umat Islam bersatu dalam kepemimpinan Islam. Bukan hanya berdiam diri, tetapi bergerak dalam dakwah untuk menyadarkan umat akan kewajibannya menegakkan kembali Daulah Islamiyah dan Khilafah. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an surah An-Nur ayat 55:
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi.”
Wallahualam bissawab. [My/AA]
Baca juga:
0 Comments: