Oleh: Verawati, S.Pd
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—“Allahumma bārik lanā fī Rajaba wa Sya‘bāna wa ballighnā Ramadhān.”
Doa ini senantiasa dilantunkan kaum muslimin setiap kali memasuki bulan Rajab. Rajab bukan sekadar penanda pergantian waktu, melainkan salah satu bulan yang dimuliakan Allah Swt., bulan yang sarat keberkahan. Keberkahan, dalam makna hakikinya, adalah kebaikan yang banyak dan terus bertambah. Keberkahan inilah yang dahulu dirasakan oleh Rasulullah saw. dan generasi terbaik umat Islam. Mereka hidup dalam kemuliaan, kesejahteraan, dan kepemimpinan peradaban. Islam hadir sebagai cahaya yang menerangi dunia.
Namun, realitas umat Islam hari ini justru menunjukkan gambaran yang sangat kontras. Umat yang dahulu memimpin dunia kini berada dalam kondisi terpuruk. Penjajahan, kemiskinan, konflik, dan keterbelakangan menjadi wajah umum negeri-negeri kaum muslimin. Sekularisme kian menggerogoti cara pandang umat terhadap Islam. Kerusakan tampak di berbagai lini, mulai dari individu, masyarakat, penguasa, hingga alam semesta.
Maraknya kasus bunuh diri menjadi bukti rapuhnya jiwa manusia modern. Kehidupan yang jauh dari nilai-nilai Ilahiah membuat manusia kehilangan makna hidup. Di tingkat masyarakat, sikap individualistis, apatis, dan abai terhadap sesama semakin menguat. Sementara di kalangan penguasa, korupsi, kerakusan, dan kezaliman seolah menjadi hal yang lumrah. Banyak pemimpin negeri-negeri muslim justru berpihak pada kepentingan asing, bukan pada kepentingan umatnya sendiri. Secara global, penderitaan Palestina yang terus berlangsung tanpa solusi nyata memperlihatkan betapa lemahnya posisi umat Islam di hadapan dunia. Umat ini besar jumlahnya, tetapi tercerai-berai, laksana buih di lautan.
Seluruh fakta tersebut mengarah pada satu kesimpulan bahwa umat Islam sedang tidak baik-baik saja. Bahkan, dapat dikatakan umat ini sedang sakit parah. Akar persoalannya bukan semata-mata ekonomi atau politik, melainkan persoalan mendasar dalam cara umat memosisikan Islam. Islam hari ini direduksi sebatas ibadah ritual, seperti shalat, puasa, dan ibadah mahdhah lainnya. Sementara dalam urusan politik, ekonomi, hukum, budaya, dan keamanan, umat Islam justru tunduk pada aturan buatan manusia yang lahir dari ideologi kufur.
Di Indonesia, misalnya, hukum yang diterapkan adalah KUHP warisan kolonial Belanda, sedangkan sistem politik yang dianut adalah demokrasi sekuler. Kondisi serupa juga terjadi di banyak negeri berpenduduk mayoritas muslim. Akibatnya, Islam terpinggirkan dari ruang publik dan kehilangan perannya sebagai sistem kehidupan yang menyeluruh.
Gejala sekularisasi tampak jelas di negeri-negeri Arab. Arab Saudi yang dahulu identik dengan simbol keislaman kini membuka konser musik, bioskop, dan hiburan bebas. Banyak perempuan muslimah tampil tanpa menutup aurat. Fenomena ini bukan sekadar perubahan gaya hidup, melainkan pertanda hilangnya jati diri umat Islam. Islam tidak lagi dijadikan standar dalam mengatur kehidupan.
Jika dibandingkan dengan kondisi umat Islam terdahulu, jurangnya sungguh sangat jauh. Dahulu, umat Islam hidup di bawah kepemimpinan Islam yang melindungi dan mengayomi, yakni Khalifah. Hilangnya sosok pelindung inilah yang menjadi sebab utama tercerabutnya umat dari kemuliaannya. Khalifah adalah pemimpin umat Islam yang diangkat melalui baiat dan mengemban amanah untuk menerapkan seluruh hukum Islam secara kafah, bukan hanya dalam urusan ibadah, tetapi juga dalam pemerintahan, ekonomi, peradilan, dan hubungan internasional.
Di bawah panji Islam, umat Islam tidak hanya menjaga dirinya sendiri, tetapi juga memimpin dunia dengan keadilan. Sejarah mencatat bagaimana Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam. Sebaliknya, hari ini dunia berada di bawah dominasi ideologi kapitalisme yang diemban Amerika dan Barat. Ideologi ini melahirkan penjajahan gaya baru, merusak sendi-sendi kehidupan, dan menghancurkan Daulah Islamiyyah.
Rajab seharusnya menjadi momentum kebangkitan. Bulan mulia ini mengingatkan umat bahwa keberkahan hanya akan hadir ketika hukum-hukum Allah dibumikan kembali dalam kehidupan. Kemenangan dan kemuliaan yang pernah diraih umat Islam bukanlah mitos sejarah, melainkan buah dari ketaatan total kepada Allah Swt. Sudah saatnya umat Islam menjadikan Rajab sebagai titik tolak muhasabah dan tekad untuk kembali menjadikan Islam sebagai sistem kehidupan yang sempurna dan menyeluruh. Dengan itulah umat ini akan kembali bangkit dan memimpin dunia dengan cahaya Islam.
Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana cara mewujudkan Khilafah yang akan membumikan hukum Allah. Tegaknya kembali sistem Islam atau Khilafah adalah janji Allah Swt. Janji tersebut pasti akan terwujud, sebagaimana disampaikan Rasulullah saw. dalam hadis panjang yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:
“…kemudian akan ada Khilafah yang berjalan di atas manhaj kenabian.”
Inilah perkara pertama yang harus diyakini. Adapun kapan, di mana, dan melalui tangan siapa Khilafah itu akan tegak masih menjadi rahasia Allah. Tugas dan kewajiban kaum muslimin bukan menunggu secara pasif, melainkan melakukan ikhtiar terbaik untuk mewujudkannya.
Mewujudkan Khilafah bukanlah sesuatu yang mustahil. Di tengah umat Islam masih ada orang-orang yang mampu berpikir jernih dan ikhlas. Mereka berdakwah dan berjuang siang dan malam untuk menegakkan kembali syariat Islam secara kafah. Demikian pula umat Islam secara umum, ghirah Islamiyah itu masih tetap ada. Tugas kita adalah bersabar dan istikamah di jalan dakwah.
Satu hal yang pasti, setiap umat memiliki masa kejayaannya. Romawi, Persia, Uni Soviet, dan peradaban besar lainnya pernah berjaya, lalu runtuh. Hari ini Amerika berada di puncak kekuasaan, tetapi suatu saat akan jatuh dan digantikan oleh Islam.
Allah Swt. berfirman, “Setiap umat mempunyai batas waktu. Apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.” (TQS Al-Anfal: 34).
Wallahualam bissawab. [ry/HEM]
Baca juga:
0 Comments: