Headlines
Loading...
Isra Mikraj: Perintah Salat dan Taat

Isra Mikraj: Perintah Salat dan Taat

Oleh: Najah Ummu Salamah
(Komunitas Penulis Peduli Umat)

SSCQMedia.Com—Setiap 27 Rajab, umat Islam memperingati peristiwa Isra Mikraj. Berbagai kegiatan dilaksanakan untuk mengenang momen perjalanan istimewa Baginda Nabi Muhammad saw. tersebut, mulai dari doa bersama, tausiah, hingga lomba azan, tahfiz, dan kegiatan lainnya.

Dalam Sirah Nabawiyah, peristiwa Isra Mikraj terjadi pada tahun ke-10 kenabian. Pada tahun ini, umat Islam sedang mengalami masa-masa tersulit. Orang-orang kafir Quraisy memboikot kaum muslimin dari aktivitas perdagangan, pernikahan, dan lainnya. Akibatnya, umat Islam banyak yang mengalami kelaparan. Pada tahun ini pula wafat dua pelindung dakwah Nabi Muhammad saw., yaitu Bunda Khadijah dan Abu Thalib, paman Nabi saw. Oleh karena itu, tahun ini dikenal sebagai Amul Huzn atau tahun kesedihan.

Di tengah situasi demikian, Allah Swt. memberikan hadiah istimewa yang penuh hikmah kepada Baginda Nabi Muhammad saw., yaitu perjalanan Isra Mikraj, perjalanan dari Masjidilharam di Makkah menuju Masjidilaqsa yang penuh berkah di Palestina. Selanjutnya, bersama Malaikat Jibril, Rasulullah saw. naik ke Sidratul Muntaha. Perjalanan semalam yang sarat berkah dan mukjizat ini membawa oleh-oleh berupa kewajiban salat bagi umat Islam.

Kewajiban salat merupakan ibadah istimewa yang Allah Swt. berikan kepada umat Nabi Muhammad saw. Salat menjadi gambaran koneksi antara hamba dengan Al-Khalik. Melalui salat, seorang hamba dapat terhubung langsung dengan-Nya di mana pun berada tanpa perantara Nabi dan Rasul, sebagaimana yang terjadi pada umat nabi-nabi sebelumnya.

Salat sebagai Simbol Ketaatan

Kewajiban salat juga menjadi bukti keimanan yang nyata. Salat merupakan bentuk ketaatan hamba kepada Allah Swt. sebagai Rab, Sang Pencipta dan Pengatur, sekaligus sebagai Ilah, satu-satunya sesembahan. Manusia menyadari bahwa dirinya hanyalah makhluk ciptaan Al-Khalik. Selain itu, salat juga menjadi benteng dari perbuatan keji dan mungkar. Artinya, hakikat salat tidak hanya sarat dengan nuansa spiritual, tetapi juga mengandung dimensi sosial dan politik.

Ketaatan umat Islam tidak hanya terwujud dalam pelaksanaan salat semata. Ketaatan hamba harus tercermin dalam tiga aspek, yaitu hablum minallah yang mencakup akidah dan ibadah, hablum binafsih yang mencakup makanan, minuman, pakaian, serta akhlak, dan hablum minannas yang mencakup uqubat dan muamalah. Dengan demikian, ketaatan yang sempurna akan tampak nyata ketika syariat Allah Swt. diterapkan secara total.

Kondisi ini pernah terwujud pada masa kekhilafahan. Pelaksanaan salat dan berbagai ibadah lainnya menjadi lebih mudah karena mendapat dukungan masyarakat dan negara. Hukum-hukum syariat diterapkan secara komprehensif. Kehidupan yang sejahtera, aman, dan damai terwujud dalam peradaban mulia selama kurang lebih 14 abad. Umat Islam memimpin dunia dengan hukum Allah Swt., menghapus kezaliman dan penjajahan. Melalui institusi Khilafah, umat Islam menyeru manusia untuk menyembah Allah Swt. semata. Islam tersebar dari wilayah Timur Jauh hingga Eropa. Azan berkumandang dari Merauke hingga Maroko. Keberkahan Allah Swt. dilimpahkan dari langit dan bumi sehingga Islam benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Namun, sejak runtuhnya Khilafah pada 27 Rajab 1342 H atau 3 Maret 1924, umat hidup dalam sistem sekuler kapitalis. Umat Islam tercerai-berai dalam sekat negara bangsa. Palestina, tanah Isra Mikraj Nabi Muhammad saw., terjajah. Ribuan kaum muslimin terbunuh dan terusir di Rohingya dan Sudan. Kezaliman juga dialami umat Islam di Xinjiang. Masjid-masjid ditutup, aktivitas salat dan puasa dilarang oleh rezim Cina, serta berbagai bentuk diskriminasi menimpa umat Islam di berbagai wilayah.

Di negeri-negeri kaum muslim lainnya, penjajahan terjadi secara ekonomi, budaya, dan politik. Umat Islam pun semakin dekat dengan nilai-nilai kebebasan. Bahkan, tidak sedikit yang justru mengusung nilai-nilai Barat sebagai visi dan misi kebangkitan.

Ketika ikatan Khilafah lenyap, salat sebagai ikatan individu pun ikut melemah. Saat ini, banyak masjid berdiri megah tetapi sepi dari jamaah. Salat ditinggalkan, sementara dunia menjadi incaran. Generasi umat Islam tidak lagi bangga dengan agamanya. Keberkahan dari langit dan bumi pun sirna. Musibah yang menimpa umat Islam datang silih berganti. Bencana akidah dan ideologi tak lagi terbendung.

Khatimah

Sudah saatnya umat Islam bangkit dengan memaknai Isra Mikraj sebagai momentum kesadaran spiritual dan politik. Ketaatan kepada Allah Swt. tidak hanya diwujudkan melalui salat, tetapi juga dengan menerapkan syariat Islam dalam naungan Khilafah ala minhajin nubuwwah. Dengan itu, kewajiban salat dan ibadah lainnya akan terjaga, serta keberkahan dari penjuru langit dan bumi akan Allah Swt. anugerahkan kepada seluruh alam. Wallahualam bissawab. [Ni/PR]


Baca juga:

0 Comments: