Guru Dikeroyok, Murid Dihinakan: Alarm Keras Pendidikan Sekuler
Oleh: Resti Ummu Faeyza
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com - Dunia pendidikan kembali dipertontonkan pada wajahnya yang paling memprihatinkan. Sebuah video viral di media sosial memperlihatkan seorang guru SMK di Jambi dikeroyok oleh muridnya sendiri. Peristiwa ini bukan sekadar insiden kriminal biasa, melainkan cermin retaknya relasi mendasar dalam pendidikan, yaitu hubungan antara guru dan murid. Relasi yang seharusnya dibangun di atas adab, penghormatan, dan keteladanan justru berubah menjadi arena konflik dan kekerasan.
Menurut pengakuan guru bernama Agus, kejadian bermula saat proses belajar mengajar berlangsung. Ia menegur seorang siswa yang bersikap tidak sopan di kelas. Namun, teguran tersebut dibalas dengan teriakan kata-kata kasar dan tidak pantas.
“Dia menegur dengan tidak hormat dan tidak sopan kepada saya, dengan meneriakkan kata yang tidak pantas kepada saya saat belajar,” ujarnya, Rabu (14/1/2026), sebagaimana dilansir detikSumbagsel.
Sementara itu, versi berbeda datang dari pihak siswa. Siswa dengan inisial MUF menyatakan bahwa guru tersebut kerap berbicara kasar, menghina siswa dan orang tua mereka, bahkan melabeli murid dengan sebutan “bodoh” dan “miskin”.
Kondisi yang dipaparkan oleh kedua pihak mengerucut pada satu kesimpulan penting, yaitu dunia pendidikan Indonesia sedang mengalami krisis adab yang serius.
Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, menilai peristiwa tersebut sebagai pelanggaran hak asasi anak. Setiap anak, katanya, berhak memperoleh pendidikan yang aman, bebas dari rasa takut dan kekerasan sebagaimana dijamin Konstitusi dan Undang-Undang Perlindungan Anak. Pandangan ini menegaskan bahwa kekerasan, baik fisik maupun verbal, tidak boleh dinormalisasi di sekolah.
Namun persoalannya jauh lebih dalam. Ketika guru melukai psikologis murid dengan hinaan, dan murid melampiaskan kemarahan dengan pengeroyokan, jelas ada yang rusak dalam sistem pendidikan kita (detik.com, 15/1/2026).
Bukan Konflik Personal, tapi Krisis Sistemik
Kasus guru dikeroyok murid bukanlah sekadar luapan emosi sesaat atau konflik personal. Ia merupakan gejala dari sistem pendidikan yang kehilangan arah. Murid kehilangan adab dan batas penghormatan. Guru kehilangan wibawa dan keteladanan. Keduanya terjebak dalam relasi yang tegang, kering nilai, dan rawan kekerasan.
Di satu sisi, murid bertindak kasar dan tidak beradab. Di sisi lain, guru yang seharusnya menjadi teladan justru melukai murid dengan kata-kata merendahkan. Ketika adab hilang dari kedua belah pihak, kekerasan tinggal menunggu waktu.
Krisis ini tidak dapat dilepaskan dari sistem pendidikan sekuler kapitalistik yang menjauhkan Islam dari kehidupan. Pendidikan direduksi menjadi proses mencetak tenaga kerja dan mengejar nilai akademik. Keberhasilan diukur dengan angka, bukan akhlak. Kurikulum disusun untuk memenuhi kebutuhan pasar, bukan membentuk manusia berkepribadian lurus.
Dalam sistem semacam ini, adab bukan prioritas. Guru dibebani target administrasi dan capaian kompetensi. Murid diposisikan sebagai objek sistem, bukan manusia yang harus dibina akhlaknya. Ketika ruh Islam disingkirkan, sekolah kehilangan fungsi utamanya sebagai tempat pembentukan manusia beradab.
Pendidikan Islam: Adab Sebelum Ilmu
Islam memandang pendidikan secara utuh. Pendidikan bukan hanya soal kecerdasan intelektual, tetapi juga pembentukan akhlak. Rasulullah saw. menegaskan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Inilah fondasi pendidikan Islam.
Dalam sistem pendidikan Islam, adab didahulukan sebelum ilmu. Murid dididik untuk memuliakan guru (ta’dzim), menghormati, dan menjaga sikap. Sebaliknya, guru diwajibkan mendidik dengan kasih sayang, kesabaran, dan keteladanan, bukan hinaan dan kekerasan verbal. Guru adalah figur teladan, bukan sekadar penyampai materi.
Tanggung Jawab Negara dan Jalan Keluar Hakiki
Islam juga menegaskan peran negara sebagai penanggung jawab utama pendidikan. Negara wajib memastikan kurikulum berlandaskan akidah Islam. Setiap mata pelajaran diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam, bukan sekadar kompetensi pasar. Dengan fondasi ini, relasi guru dan murid dibangun atas dasar iman, bukan emosi.
Kasus di Jambi seharusnya menjadi alarm keras. Selama pendidikan terus berjalan dalam sistem sekuler yang menyingkirkan Islam, konflik serupa akan terus berulang. Solusi tambal sulam tidak akan menyentuh akar persoalan. Sudah saatnya pendidikan dikembalikan pada fitrahnya, yaitu mencetak manusia berilmu dan beradab dalam naungan sistem pendidikan Islam. Tanpa itu, sekolah akan terus melahirkan krisis nilai, bukan peradaban. Wallahualam. [My/Des]
Baca juga:
0 Comments: