Oleh: Ni’mah Fadeli
(Kontributor SSCQMedia.com)
SSCQMedia.com – Bagaimana keadaan generasi penerus bangsa dua bulan pascabencana akibat ulah manusia yang serakah? Hak anak untuk memperoleh rasa aman, nyaman, serta pendidikan yang layak telah terenggut. Sekolah yang menjadi tempat mereka menimba ilmu, memperoleh pengalaman, bersosialisasi, dan tumbuh bersama teman sebaya mengalami kerusakan parah.
Jamaluddin, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara sekaligus Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Aceh Utara, menyatakan bahwa sebanyak 747 sekolah dari berbagai jenjang pendidikan di Aceh Utara masih berlumpur. Ruang kelas memang telah dibersihkan, tetapi pekarangan dan akses jalan menuju sekolah masih belum kondusif. Agar kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung, para guru mendatangi lokasi pengungsian, meski perlengkapan sekolah juga sangat terbatas. Dari 7.000 perlengkapan sekolah yang dibutuhkan siswa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI baru memberikan bantuan sebanyak 900 unit saja (Kompas.com, 12 Januari 2026).
Hal serupa juga terjadi di Kabupaten Aceh Timur. Sebanyak 120 dayah atau pesantren dilaporkan rusak parah. Ruang belajar, asrama santri, dapur, hingga kitab-kitab terendam banjir. Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh Timur, Saiful Nahan, menyebutkan bahwa sebagian dayah terpaksa menghentikan sementara aktivitas belajar mengajar. Sementara itu, sebagian lainnya tetap melaksanakan proses belajar mengajar dengan segala keterbatasan (CNNIndonesia.com, 16 Januari 2026).
Tanggung Jawab Negara
Pemulihan pascabencana merupakan tanggung jawab negara dan tidak layak dibebankan kepada masyarakat. Meski banyak relawan bergerak atas dasar kemanusiaan, tanggung jawab utama pemulihan tetap berada di pundak negara. Negara seharusnya bergerak cepat dan tidak terjebak pada kerumitan birokrasi ketika rakyatnya sedang tertimpa musibah.
Namun, kenyataannya, sebagaimana dalam berbagai kebijakan lainnya, bencana pun kerap dipandang melalui kacamata ekonomi. Segala sesuatu dihitung berdasarkan untung dan rugi. Inilah cara kerja kapitalisme. Pertolongan negara diberikan dengan penuh perhitungan, sementara birokrasi yang rumit tetap diberlakukan di tengah kondisi rakyat yang sangat membutuhkan bantuan. Bahkan, tidak jarang terjadi praktik korupsi, termasuk dalam penyaluran bantuan kemanusiaan.
Kapitalisme yang berasas sekularisme telah menjauhkan agama dari kehidupan. Akibatnya, nurani manusia terkikis oleh ketamakan terhadap harta. Bencana yang terjadi tidak mampu menghadirkan kesadaran, sementara pemulihan pascabencana berjalan lambat karena dinilai tidak menguntungkan dan hanya menghabiskan anggaran negara.
Nasib generasi penerus bangsa seolah dianggap angin lalu. Padahal, pemulihan pascabencana bersifat sangat kompleks, terlebih bagi anak-anak. Pemulihan tidak hanya menyangkut perbaikan fisik bangunan, tetapi juga pemulihan mental. Trauma mendalam dapat menetap dalam waktu lama akibat hilangnya tempat tinggal dan anggota keluarga.
Islam Mengatur Semua
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. Al-A’raf: 96)
Keserakahan manusia terhadap dunia telah membutakan mata terhadap ayat-ayat Allah. Bencana yang terjadi merupakan bentuk peringatan dari Allah Swt. Bertobat dan kembali kepada Allah adalah ikhtiar agar tidak ditimpakan bencana yang lebih besar. Naudzubillah min dzalik.
Islam sebagai agama yang sempurna dengan seluruh syariatnya telah mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh. Namun, syariat Islam justru diabaikan dan Islam hanya dijadikan sebagai agama ritual semata. Padahal, Islam memiliki aturan lengkap yang mencakup individu, masyarakat, hingga negara.
Pendidikan merupakan salah satu hak dasar individu. Oleh karena itu, negara dalam sistem Islam akan memberikan fasilitas pendidikan terbaik secara gratis bagi seluruh rakyatnya. Ketika terjadi bencana, sektor pendidikan menjadi salah satu prioritas utama yang segera dipulihkan. Tidak ada birokrasi yang berbelit dan tidak ada perhitungan untung rugi. Dana negara tersedia karena sumber daya alam dikelola secara mandiri oleh negara tanpa campur tangan swasta maupun asing.
Sumber daya alam diolah sesuai peruntukannya untuk kemaslahatan umat dan tidak dieksploitasi secara serampangan. Kepedulian Islam terhadap lingkungan sangat besar, sehingga negara tidak akan membiarkan terjadinya perusakan alam.
Sejak dini, anak-anak dibekali pendidikan akidah yang benar sehingga terbentuk individu-individu yang berkepribadian Islam. Para pemimpin dan pejabat negara adalah orang-orang pilihan yang memahami bahwa jabatan merupakan amanah. Setiap kebijakan dijalankan sesuai Al-Qur’an dan as-Sunnah, sehingga tidak akan menzalimi rakyat yang dipimpinnya.
Khatimah
Bencana yang terjadi sebagai teguran dari Sang Pencipta hendaknya menyadarkan kaum Muslim untuk bertobat dan segera kembali ke jalan Allah. Sebagai sebaik-baik makhluk yang Allah ciptakan dan sebagai khalifah di muka bumi, sudah selayaknya kaum Muslim bangga dengan Islam. Hal ini dapat diwujudkan dengan terus belajar, memahami, dan mendakwahkan Islam. Keberkahan akan terwujud apabila Islam kembali memimpin dunia dengan penerapan syariat-Nya dalam seluruh aspek kehidupan.
Wallahualam bissawab. [US/UF]
Baca juga:
0 Comments: