Headlines
Loading...
Bulan Rajab: Awal Perubahan Total

Bulan Rajab: Awal Perubahan Total


Oleh: Hana Salsabila A.R
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Ada seorang ulama pernah mengatakan, "Rajab adalah waktu menanam, Syakban waktu menyiram, dan Ramadan waktu memanen". Maksudnya, bulan Rajab di sini dinilai sebagai pintu pembuka bagi setiap langkah kebaikan, sebabnya ia masuk ke dalam salah satu bulan mulia yang disebutkan dalam Al-Qur'an:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

Artinya: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.” (QS At-Taubah: 36)

Maksud dari bulan haram adalah bulan yang dalamnya diharamkan untuk berbuat zalim, baik itu dengan perang maupun maksiat kepada diri sendiri. Selain dilarang berbuat zalim, keutamaan lainnya adalah amalan yang dilipatgandakan nilainya, baik amal baik maupun buruk. Maka seharusnya ini mampu untuk menjadi celah pintu pembuka awal kebaikan bagi umat Islam sebelum memasuki bulan-bulan spesial setelahnya, yaitu Syakban dan Ramadan.

Selain memiliki keutamaan yang disebutkan dalam berbagai riwayat dan dalil, bulan Rajab juga sarat dengan peristiwa-peristiwa bersejarah dalam Islam. Yang paling masyhur adalah Isra mikraj, karena pada momen inilah Allah Swt. menetapkan kewajiban salat lima waktu bagi umat Islam. Mayoritas kaum muslimin memperingatinya, bahkan tidak sedikit yang telah hafal runtutan peristiwanya, sebab kisah Isra ikraj hampir selalu disampaikan dengan narasi yang sama dari tahun ke tahun.

Namun, hal yang patut disayangkan adalah ketika hakikat dari mengingat itu sendiri justru terlupakan, yakni menjadikannya sebagai sarana untuk kembali belajar dan memperbaiki diri. Di tengah jumlah umat Islam yang begitu besar di dunia, tidak sedikit yang masih menyepelekan kewajiban salat. Padahal, salat merupakan fondasi dan pintu masuk keislaman seorang muslim; syarat minimal keislamannya karena termasuk rukun Islam. Jika pintu saja telah rusak, maka hampir dapat dipastikan kondisi di dalamnya pun akan kacau balau.

Padahal, melalui peristiwa Isra mikraj dan kemuliaan bulan Rajab, umat Islam sejatinya diminta untuk belajar, diperintah agar tunduk dan patuh, serta diarahkan untuk berislam secara kafah. Tentu semua itu dimulai dari perkara paling mendasar, yakni meyakini dan memahami urgensi salat. Namun, salat yang dimaksud di sini bukan semata ibadah mahdah yang dikerjakan sebagai rutinitas harian. Lebih dari itu, salat mengandung makna yang lebih luas dan mendasar, yaitu ketundukan total kepada Allah dan Rasul-Nya dalam seluruh aspek kehidupan.

Jika perwujudan ketundukan total terhadap Islam diwujudkan dengan penerapan syariat-Nya secara menyeluruh, maka semestinya berbagai persoalan besar dunia tidak berlarut-larut sebagaimana yang terjadi hari ini. Salah satu persoalan global umat Islam yang berkaitan erat dengan peristiwa Rajab dan Isra mikraj adalah Masjidilaqsa. Hingga kini, Palestina tanah tempat berdirinya Masjidilaqsa masih berada dalam kondisi penjajahan oleh zionis Isr4el.

Umat Islam memiliki syariat mekanisme penyelesaian yang jelas dalam mengusir penjajah, yakni dengan jihad fi sabilillah. Namun faktanya, syariat itu belum pernah terlaksana bahkan oleh negara yang berlabel Islam sekalipun. 

Penjajahan atas Masjidilaqsa hanyalah satu dari sekian banyak contoh kerusakan nyata yang lahir akibat tidak diterapkannya syariat Islam secara kafah. Dunia yang hari ini berada dalam cengkeraman sistem kapitalisme telah memperlihatkan beragam bentuk kerusakan, mulai dari praktik imperialisme yang menindas bangsa-bangsa lemah, bencana ekologis akibat eksploitasi tanpa batas, hingga sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan.

Sementara itu, sistem Islam yang memiliki visi jelas untuk mewujudkan kebaikan dan perbaikan menyeluruh justru belum diemban oleh satu pun negara saat ini. Sebab, dalam pandangan Islam, hanya ada satu entitas politik yang kelak akan menerapkan sistem Islam secara sempurna sekaligus menaungi umat manusia, yakni Khilafah Islamiah. Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh (kafah), dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 208)

Islam adalah berkah; rahmatan lil ‘alamin, rahmat dan kebaikan bagi seluruh alam. Syariat Islam memiliki kelayakan dan kemampuan untuk diterapkan secara global, bukan sekadar diposisikan sebagai identitas atau ritual individual semata. Karena itu, momentum bulan Rajab dan peristiwa Isra mikraj semestinya dijadikan titik awal kebangkitan kesadaran umat Islam, beranjak dari penerapan syariat yang parsial menuju pengamalan syariat secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan. Wallahualam. [Ni/Wvz]

Baca juga:

0 Comments: