AS Semakin Beringas, Tabir Jahat Kapitalisme Tersingkap
Oleh: Hana Salsabila Ar Rosyidah
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Berbicara tentang Amerika Serikat (AS), tentu kita sudah tidak asing dengan negara yang selama ini menjadi pusat kendali dunia. AS kerap disimbolkan sebagai negara adidaya, kiblat kekuasaan global, paling berpengaruh, dan paling kaya. Bahkan, mata uang dan media dunia pun berada di bawah pengaruhnya. Namun, di balik kehidupan glamor tersebut, terdapat harga mahal yang harus dibayar, yakni jejak kejahatan dan kezaliman yang dilakukan AS sepanjang masa dominasinya.
Salah satu rekam jejak kezaliman AS yang kembali mencuat belakangan ini adalah peristiwa penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, yang sempat mengguncang dunia pada awal Januari lalu. Penangkapan tersebut dilakukan atas perintah Presiden AS, Donald Trump. Maduro ditangkap bersama istrinya, Cilia Flores. Pada 5 Januari, Maduro langsung dihadirkan ke pengadilan dan didakwa dengan tuduhan perdagangan narkoba, pelanggaran senjata, serta menjalankan rezim “narko-teroris”, meskipun seluruh tuduhan tersebut telah dibantah oleh Maduro (BBCIndonesia.com, 5/1/2026).
Peristiwa ini memunculkan beragam spekulasi publik mengenai pola intervensi yang kerap dilakukan AS. Banyak pihak kemudian mengaitkannya dengan peristiwa serupa di masa lalu, seperti penangkapan Presiden Irak Saddam Hussein, Manuel Noriega sebagai mantan pemimpin militer Panama, serta sejumlah kasus lainnya. Penangkapan tokoh-tokoh tersebut umumnya menggunakan alasan yang hampir sama, mulai dari tuduhan kriminal hingga dianggap sebagai ancaman global.
Catatan ini semakin menegaskan bahwa AS memang memiliki kekuasaan besar di tingkat dunia. Julukan negara adidaya bukanlah sekadar klaim, karena AS menguasai geopolitik, ekonomi, dan militer global. Secara sederhana, AS menempatkan diri sebagai pemimpin dunia. Namun, dominasi ini justru memperlihatkan wajah kediktatoran negara tersebut. Kediktatoran AS merupakan gambaran nyata dari sistem kapitalisme sekuler yang berkuasa.
Dalam sistem kapitalisme sekuler, segala cara dihalalkan demi meraih dan mempertahankan kekuasaan. Hal ini telah berulang kali dibuktikan oleh AS. Salah satu dugaan kuat publik terkait intervensi AS terhadap Venezuela adalah kepentingan minyak bumi. Venezuela diketahui menempati peringkat kesembilan sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Bukan hal yang mustahil jika AS berupaya menggulingkan suatu kekuasaan dan menggantinya dengan rezim yang mudah dikendalikan demi melancarkan kepentingannya.
Di sisi lain, kita juga menyaksikan berbagai bencana dan kezaliman yang lahir dari keserakahan sistem kapitalisme. Watak negara adidaya ini kemudian ditiru oleh banyak negara lain, termasuk Indonesia. Sepanjang tahun 2025, berbagai peristiwa memilukan terjadi, mulai dari penangkapan para demonstran, fitnah yang memuncak dengan munculnya tagar #IndonesiaGelap, hingga tragedi bencana alam di Sumatera yang menelan ribuan korban akibat penggundulan hutan demi kepentingan oligarki kapitalis.
Dengan banyaknya jejak kezaliman tersebut, dapat disimpulkan bahwa dampak kerusakan dari penerapan sistem kapitalisme sangat nyata. Kepemimpinan global yang diktator, seperti yang ditunjukkan AS, hanya akan melahirkan pemimpin dan kekuasaan serupa di berbagai belahan dunia. Akibatnya, kerusakan lingkungan dan kezaliman terhadap masyarakat lemah akan terus berlanjut.
Jika sistem kapitalisme terbukti merusak, maka dunia membutuhkan sistem alternatif yang mampu memperbaiki. Sistem tersebut tidak lain adalah sistem Islam melalui institusi negara Khilafah. Khilafah merupakan satu-satunya entitas yang menerapkan sistem Islam secara menyeluruh dalam menjalankan kekuasaan. Islam tidak mengajarkan arogansi, apalagi pemerintahan diktator. Rasulullah ï·º bersabda,
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari No. 2554 dan Muslim)
Dalam Islam, kepemimpinan adalah amanah yang sangat berat, terlebih kepemimpinan negara. Khilafah menempati posisi sebagai kepemimpinan global, namun kekuasaan dalam Islam dipandang sebagai titipan Allah, bukan sarana memperkaya diri. Seorang pemimpin Islam diwajibkan berlaku adil sebagaimana firman Allah Ta’ala:
ÙŠٰٓاَÙŠُّÙ‡َا الَّذِÙŠْÙ†َ اٰÙ…َÙ†ُÙˆْا ÙƒُÙˆْÙ†ُÙˆْا Ù‚َÙˆَّامِÙŠْÙ†َ Ù„ِÙ„ّٰÙ‡ِ Ø´ُÙ‡َدَاۤØ¡َ بِالْÙ‚ِسْØ·ِۖ ÙˆَÙ„َا ÙŠَجْرِÙ…َÙ†َّÙƒُÙ…ْ Ø´َÙ†َاٰÙ†ُ Ù‚َÙˆْÙ…ٍ عَÙ„ٰٓÙ‰ اَÙ„َّا تَعْدِÙ„ُÙˆْا ۗاِعْدِÙ„ُÙˆْاۗ Ù‡ُÙˆَ اَÙ‚ْرَبُ Ù„ِلتَّÙ‚ْÙˆٰÙ‰ۖ ÙˆَاتَّÙ‚ُوا اللّٰÙ‡َ ۗاِÙ†َّ اللّٰÙ‡َ Ø®َبِÙŠْرٌۢ بِÙ…َا تَعْÙ…َÙ„ُÙˆْÙ†َ
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah dan menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
Perbedaan antara kapitalisme dan Islam tampak sangat jelas. Dalam Islam, kezaliman dan perusakan lingkungan dilarang keras. Sebaliknya, Islam mewajibkan umatnya untuk menjaga dan melestarikan alam. Kerusakan akibat kapitalisme telah nyata terlihat, sementara kepemimpinan global Islam terbukti menawarkan solusi yang adil dan menyejahterakan. Lantas, apa lagi yang kita tunggu?
[Hz/Wvz]
Baca juga:
0 Comments: