Headlines
Loading...

Oleh: Ummu Fahhala
(Pengamat Sosial)

SSCQMedia.Com — Banyak anak muda kini menilai bahwa kestabilan ekonomi jauh lebih penting daripada menikah segera. Mereka menunda menikah karena khawatir belum mampu memenuhi kebutuhan dasar seperti hunian dan biaya hidup sehari-hari yang kian melambung. Lonjakan harga kebutuhan pokok, biaya hunian, serta persaingan kerja yang ketat menjadi alasan utama.

Selain itu, narasi “marriage is scary” yang menggambarkan pernikahan identik dengan beban dan risiko semakin kuat dan memperkuat ketakutan akan pernikahan (rri.co.id, 18 November 2025).

Fenomena ini bukan semata soal pilihan individu. Ia mencerminkan kegagalan sistem yang memaksa generasi muda menunda komitmen, meredam harapan menyongsong keluarga. Kita membutuhkan pandangan yang lebih jauh, bukan hanya tentang menikah atau tidak, tetapi tentang sistem ekonomi dan sosial yang menghambat.

Para ahli sosial dan agama telah lama menegaskan bahwa pernikahan membawa banyak manfaat, mulai dari stabilitas emosional hingga keberlanjutan generasi. Sebagai contoh, perspektif Maqasid al Syariah menekankan bahwa perkawinan berkontribusi pada pelestarian agama, jiwa, keturunan, dan kemaslahatan masyarakat.

Ketika sistem gagal menjamin kesejahteraan, ia justru menakut-nakuti cinta, komitmen, dan keberanian membangun rumah tangga.

Kapitalisme, Beban Individu, dan Budaya Materialis

Pertama, ketakutan menjadi miskin tumbuh dari sistem kapitalis yang menempatkan harga kebutuhan hidup dan hunian di luar jangkauan banyak orang. Pekerjaan sulit didapat, upah rendah, sedangkan persaingan ketat membuat generasi muda merasa tidak layak untuk menikah.

Kedua, negara sebagai regulator cenderung lepas tangan terhadap tugas menjamin kesejahteraan. Akibatnya, beban hidup sepenuhnya dipikul individu. Pernikahan pun dianggap sebagai tekanan finansial, bukan ladang kebahagiaan.

Ketiga, gaya hidup materialis dan hedon yang tumbuh dari pendidikan sekuler dan pengaruh media liberal menambah beban mental. Sikap “hidup untuk merasa” dan mengejar tampilan membuat persiapan menikah terasa seperti beban besar. Padahal pernikahan sejatinya adalah jalan melanjutkan keturunan dan hanya membutuhkan niat ikhlas, tetapi kini berubah menjadi proyek ekonomi.

Keempat, pernikahan mulai dipandang sebagai beban, bukan sebagai ladang kebaikan, kemanusiaan, dan keberlanjutan generasi.

Solusi Islam

Dalam kerangka Islam, negara memiliki tanggung jawab menjamin kebutuhan dasar rakyat serta membuka lapangan kerja luas melalui sistem ekonomi yang adil.

Konsep al milkiyyah (kepemilikan harta) dalam Islam berbeda dengan kapitalisme ataupun sosialisme. Islam mengenal milik pribadi, milik umum, dan milik negara, sehingga sumber daya dikelola untuk kemaslahatan bersama.

Negara seharusnya mengelola milkiyyah umum untuk kepentingan rakyat. Dengan demikian, biaya hidup dapat ditekan, hunian menjadi terjangkau, lapangan kerja merata, dan kebutuhan pokok tersedia. Pada kondisi ini, generasi muda tidak lagi merasa berat memulai keluarga.

Pendidikan berbasis akidah dan nilai moral juga akan membentuk generasi yang berkarakter, tidak terjebak hedonisme maupun materialisme. Mereka menjadi penyelamat umat, bukan korban sistem.

Pernikahan pun kembali pada fungsi hakiki, sebagai ibadah, sebagai upaya menjaga keturunan, membentuk keluarga sakinah, mawaddah, rahmah, serta membangun peradaban berdasarkan keadilan dan tanggung jawab.

Prinsip rumah tangga dalam Islam tidak sebatas konsumsi atau bersifat konsumtif, tetapi juga kerja sama, saling tolong, dan saling menjaga.

Penutup

Generasi muda layak berharap pada masa depan yang menjanjikan, bukan terus dibebani oleh sistem yang menjungkirkan harapan menikah dan membangun keluarga. Bila negara dan masyarakat menghidupkan kembali nilai Islam dalam ekonomi dan sosial, maka menikah tidak lagi menakutkan. Ia berubah menjadi harapan, keberanian, dan awal peradaban baru.

Semoga suara ini menggetarkan hati para penguasa serta pembuat kebijakan agar mereka mendengar, lalu bertindak.

//MA

Baca juga:

0 Comments: