Oleh: Wilda Nusva Lilasari, S.M.
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com - Di era digital saat ini, pemandangan orang bangun tidur lalu langsung meraih ponsel sudah menjadi hal yang lumrah. Bahkan sebelum tidur pun, layar masih menjadi teman terakhir. Media sosial, notifikasi, FYP, dan algoritma seolah selalu memanggil. Tanpa disadari, waktu habis, fokus hilang, dan hati terasa kosong.
Pertanyaannya, apakah digitalisasi benar-benar memudahkan hidup kita, atau justru sedang memperbudak kita secara perlahan?
Fenomena ini bukan sekadar perasaan subjektif. Sebuah laporan berita di Amerika Serikat menyebutkan bahwa rata-rata waktu yang dihabiskan orang di depan layar perangkat digital mencapai sekitar 6 jam 40 menit per hari. Angka ini jauh melebihi waktu untuk interaksi sosial langsung maupun aktivitas luring lainnya (TechNewsWorld.com, 2025).
Data tersebut menunjukkan bahwa layar telah menjadi ruang hidup utama manusia modern. Bahkan, tanpa disadari, layar telah mengambil porsi terbesar dari waktu harian mereka.
Digitalisasi memang membawa banyak kemudahan. Informasi dapat diakses dengan cepat, komunikasi menjadi tanpa batas, dan peluang dakwah terbuka luas. Namun, di sisi lain, dunia digital juga menyimpan bahaya besar jika tidak dikendalikan dengan iman dan kesadaran. Banyak dari kita merasa bebas, padahal sesungguhnya hidup sedang dikendalikan oleh algoritma.
Media sosial hari ini tidaklah netral. Ia dirancang agar penggunanya betah berlama-lama. Konten yang sering kita tonton, sukai, dan bagikan akan terus disajikan ulang. Akibatnya, otak dibanjiri standar-standar baru, mulai dari standar bahagia, standar sukses, hingga standar benar dan salah. Inilah titik rawan yang sering luput disadari.
Bahaya terbesar digitalisasi bukan sekadar kecanduan layar, melainkan ketika kebenaran mutlak dari Allah mulai tergeser oleh opini yang viral. Banyak orang merasa paling benar hanya karena semua orang di media sosial mengatakan hal yang sama.
Padahal, media sosial hanyalah kumpulan pendapat manusia yang sangat mungkin keliru, bias, dan dipengaruhi oleh hawa nafsu. Allah Swt. mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.”
(QS. Al-Isra: 36)
Ayat ini sangat relevan dengan kondisi saat ini. Kita sering menyebarkan informasi tanpa tabayun, menyerap konten tanpa saringan, dan menjadikan viralitas sebagai ukuran kebenaran. Jika dibiarkan, manusia akan kehilangan standar hidup yang hakiki.
Dalam QS. Al-Baqarah ayat 20, Allah menggambarkan manusia yang hanya berjalan ketika ada cahaya dan berhenti saat gelap. Gambaran ini serupa dengan manusia yang hidupnya mengikuti tren dan FYP. Ketika sesuai dengan keinginan, ia bergerak. Ketika tidak, ia bingung dan berhenti. Akhirnya, hidup tidak lagi berorientasi pada rida Allah, melainkan pada penilaian manusia.
Inilah yang disebut sebagai perbudakan digital. Bukan dirantai secara fisik, melainkan terikat oleh layar. Hidup dihabiskan untuk menggulir media sosial, mengejar validasi, pengikut, dan popularitas. Perbandingan hidup bukan lagi kepada ketakwaan, melainkan kepada manusia lain. Dampaknya, mental menjadi rapuh, hati mudah iri, dan hidup terasa selalu kurang.
Lalu, apakah solusinya adalah meninggalkan teknologi? Tentu tidak. Islam tidak anti terhadap teknologi. Islam justru menempatkan teknologi sebagai alat, bukan tujuan. Masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan pada siapa yang mengendalikan dan standar hidup apa yang digunakan.
Dalam Islam, teknologi harus tunduk pada akidah, bukan sebaliknya. Media dan informasi seharusnya menjadi sarana kebaikan, pendidikan, dan penjagaan iman. Negara pun memiliki peran penting sebagai pelindung ruang informasi agar masyarakat tidak dibanjiri konten sampah, pornografi, hoaks, serta penghinaan terhadap agama.
Sejarah membuktikan bahwa kecanggihan teknologi tidak menjamin keselamatan. Kaum ‘Ad dan Tsamud memiliki teknologi luar biasa pada masanya, tetapi tetap dibinasakan karena kesombongan dan pembangkangan terhadap Allah. Fir’aun pun memiliki sistem kekuasaan dan propaganda yang kuat, namun dilaknat Allah karena digunakan untuk menindas. Artinya, yang menyelamatkan bukanlah kecanggihan, melainkan ketaatan.
Di sisi lain, digitalisasi juga dapat menjadi jalan perubahan jika dikendalikan dengan iman. Banyak gerakan dakwah dan kesadaran umat yang tersebar melalui media digital. Namun, perubahan sejati tidak lahir dari viralitas semata, melainkan dari kesadaran pemikiran yang benar dan istikamah dalam ketaatan. Allah Swt. telah memberikan kunci perubahan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Perubahan dimulai dari individu yang bertakwa, masyarakat yang saling menasihati, media yang terarah, serta sistem yang melindungi akidah. Tanpa semua itu, iman akan terus diserang sendirian.
Sebagai generasi muda, ponsel di tangan kita adalah amanah. Ia bisa menjadi alat ibadah atau justru alat perbudakan. Semua kembali pada niat dan tujuan.
Menggunakan media sosial harus dengan arah, bukan sekadar pelarian. Manfaatkan untuk belajar, berdakwah, berbagi kebaikan, dan mendekatkan diri kepada Allah. Rasulullah ï·º bersabda:
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu nikmat kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)
Waktu luang yang dihabiskan untuk menggulir layar tanpa tujuan adalah bentuk kerugian nyata. Maka, mari bertanya pada diri sendiri, setelah belajar Islam, apakah kita ingin tetap menjadi budak digital atau pelopor perubahan?
Teknologi akan terus berkembang. Namun, imanlah yang harus tetap memimpin. Dengan Islam, digitalisasi dapat mengantarkan perubahan. Tanpa Islam, ia hanya akan melahirkan perbudakan gaya baru.
Wallahualam bissawab. [Hz]
Baca juga:
0 Comments: