Suara Gen Z Dibungkam, Tetapi Tak Pernah Padam
Oleh. Ummu Fahhala
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Polisi menetapkan 295 anak sebagai tersangka dalam rangkaian kerusuhan demonstrasi di berbagai wilayah. (tempo.co, 24/9/2025). Proses penyelidikan berlangsung penuh tekanan; banyak anak menghadapi ancaman dan intimidasi. Komnas HAM dan lembaga perlindungan anak mengingatkan potensi pelanggaran hak asasi dalam penetapan tersebut. Laporan terkait hal ini muncul di media massa nasional dan menjadi sorotan publik (kompas.com, 26/9/2025).
Peristiwa ini sebagai upaya yang salah arah: kesadaran politik anak muda, khususnya gen Z, berubah menjadi kriminalisasi. Kita perlu menelaah motif struktural di balik tindakan represif, dan menawarkan solusi berbasis pembinaan nilai, serta pendidikan keislaman yang produktif.
Para ahli hak anak dan praktisi pendidikan telah memberi peringatan dan analisis yang menguatkan kekhawatiran publik terhadap cara penanganan kasus ini. Saya merujuk pada pengamatan lembaga perlindungan anak dan Komnas HAM yang mengingatkan agar negara menjamin perlindungan anak selama proses hukum.
Gen Z mulai tampil peka terhadap ketidakadilan. Mereka berdiri di jalan untuk menyuarakan keresahan. Mereka menuntut perubahan. Mereka mengorganisir diri lewat media sosial, komunitas, dan aksi damai. Kesadaran ini muncul dari kecemasan atas masa depan: ekonomi yang rapuh, lingkungan yang terkikis, dan ruang publik yang sempit.
Alih-alih membuka dialog, negara memilih label “anarkis” untuk membungkam. Label itu memudarkan makna kritik dan menggiring publik pada narasi kejahatan. Tindakan seperti ini menakutkan generasi muda. Mereka takut bersuara. Demokrasi yang semestinya memberi ruang, kini menutupnya bagi suara yang mengganggu status quo.
Kapitalisme dan Pembungkaman
Sistem demokrasi kapitalistik sering kali memberikan ruang bagi suara yang bersinergi dengan kepentingan ekonomi-politik. Suara yang menantang monopoli kekuasaan atau struktur ekonomi sering kali dijegal lewat kriminalisasi. Hasilnya, reformasi substantif terhambat. Ketika kritik diganti kriminalisasi, kebijakan publik kehilangan koreksi yang hakiki.
Kita harus membentuk generasi yang peka pada realitas. Keluarga dan sekolah harus membuka ruang diskusi yang aman. Ajarkan remaja membaca fakta, menilai sumber, dan menguji argumentasi. Jangan biarkan remaja pasif menerima narasi tunggal.
Contohnya, diskusikan topik besar seperti utang negara secara kritis: jelaskan angka, mekanisme pengelolaan, dan konsekuensinya bagi rakyat. Latihan diskusi berulang akan membentuk kebiasaan analitis, bukan emosi sesaat.
Pembinaan harus mengaitkan fakta dengan pandangan Islam. Forum kajian yang rutin dapat menanamkan kerangka nilai: amar makruf nahi mungkar yang bijak, prinsip keadilan, dan etika politik.
Islam mengajarkan cara menilai dan menanggapi kebijakan publik berdasarkan prinsip-prinsip moral dan maslahat. Dengan pembinaan demikian, remaja belajar mempertahankan ketegasan moral tanpa terjebak anarkisme.
Solusi Islam: Arahkan, Bentuk, dan Lindungi
Pertama, arahkan energi politik pemuda pada perubahan substantif yang berlandas pada nilai Islam kafah. Kedua, jadikan amar makruf nahi mungkar sebagai instrumen mengoreksi penguasa secara beradab dan produktif. Rasulullah saw. dan para sahabat mencontohkan bagaimana kritik disampaikan secara terhormat namun tegas; mereka juga membangun institusi pendidikan dan diskursus yang kuat. Ketiga, bentuk pemuda lewat pendidikan akidah yang mengarahkan kesadaran politik untuk mengejar rida Allah, bukan sekadar ledakan emosi.
Pembinaan bukan sekadar retorika; ia harus rutin, berstruktur, dan berbasis komunitas. Dialog, debat, kajian, serta kegiatan sosial harus menjadi latihan sehari-hari. Remaja yang terbentuk demikian akan menularkan kesadaran politik Islam kepada teman dan lingkungan. Mereka menjadi problem solver, melahirkan solusi yang intelektual, etis, dan damai.
Penutup
Kriminalisasi kesadaran politik gen Z berarti kehilangan peluang besar. Kita butuh generasi yang kritis, beradab, dan berlandas nilai. Negara harus melindungi anak, bukan menakutinya. Keluarga, sekolah, dan komunitas harus membimbing, bukan membungkam. Dengan pembinaan yang tepat, suara gen Z akan menjadi kekuatan konstruktif bagi perbaikan bangsa, bukan ancaman yang harus ditumpas. [Ni]
Baca juga:
0 Comments: