Headlines
Loading...

Oleh: Cucu
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Adakah yang belum mengenal Baginda Rasulullah saw.?
Tak kenal maka tak sayang, tak sayang tak akan mencintai, tak mencintai tak akan berkorban. Tanda dari rasa cinta adalah adanya pengorbanan yang tulus. Mungkin ada sebagian orang yang belum mengetahui siapa Baginda Rasulullah saw. dan bagaimana kehidupannya.

Melalui peringatan Maulid Nabi setiap bulan Rabiulawal, kita, khususnya umat Islam, diingatkan kembali akan sosok agung beliau. Hampir di setiap majelis, Rasulullah saw. menjadi tema pembahasan—Baginda kita seluruh alam.

Beliau lahir untuk menyempurnakan agama sebelumnya. Beliau hadir sebagai pembawa kabar gembira sekaligus pembawa peringatan dari Sang Pencipta, Allah Swt. Kehadiran beliau ke dunia ini merupakan rahmatan lil alamin, menerangi umat menuju jalan cahaya yang diridai oleh Allah Swt.

Selawat yang sering kita lantunkan kepada Baginda Nabi merupakan wujud cinta kita kepada beliau. Banyak keutamaan yang diperoleh ketika kita senantiasa berselawat kepada Nabi Muhammad saw. Namun, selain berselawat, kita juga harus meneladani akhlak dan ajaran beliau. Mengikuti semua yang dianjurkannya, mulai dari hal kecil hingga hal besar, termasuk menjaga syariat Islam agar diterapkan dalam kehidupan pribadi hingga tatanan institusi.

Sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS Ali Imran ayat 31:

“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Bentuk cinta kepada Rasulullah saw. seharusnya dibuktikan dengan ketaatan penuh terhadap syariat yang beliau bawa. Ketaatan itu tidak cukup hanya diungkapkan melalui perayaan atau lisan semata, melainkan harus diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Kini, umat Islam kerap memaknai Maulid Nabi sebatas aspek ritual saja. Banyak yang lalai terhadap aspek moral dan sosial. Padahal, Rasulullah saw. memiliki peran besar dalam seluruh aspek kehidupan. Beliau tidak hanya mengajarkan tata cara beribadah, tetapi juga menunjukkan bagaimana menjadi pemimpin negara yang menegakkan hukum Allah, mengatur masyarakat, dan membangun peradaban Islam.

Allah Swt. mengutus Rasulullah saw. dengan Islam untuk menyempurnakan agama sebelumnya. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia—akidah, ibadah, muamalah, hingga uqubat. Rasulullah saw. memberi keteladanan yang total, mencakup seluruh sisi kehidupan: individu, keluarga, dan negara.

Perjalanan dakwah Rasulullah saw. terbagi dalam dua fase besar. Fase pertama adalah fase Makkah selama 13 tahun, di mana beliau berperan sebagai pengemban dakwah, membina sahabat, menyampaikan risalah tauhid, dan membongkar sistem jahiliah. Fase kedua adalah periode Madinah selama 10 tahun. Di sana, beliau mendirikan negara Islam pertama dan menjadi pemimpin umat, menerapkan syariat Islam secara menyeluruh (kaffah), serta mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia.

Dalam periode Madinah, Rasulullah saw. menunjukkan keteladanan kepemimpinan yang nyata. Beliau mengadili berbagai perkara dengan hukum Islam, bukan hukum buatan manusia. Beliau mengangkat para wali (gubernur), qadi (hakim), dan amil (petugas administrasi). Beliau mengutus para duta ke luar negeri untuk mengajak raja dan kabilah masuk Islam, memimpin jihad, menunjuk panglima perang, dan menyusun Piagam Madinah yang menegaskan penerapan hukum Islam bagi masyarakat.

Rasulullah saw. juga menegaskan hakikat kepemimpinan melalui sabdanya:

“Pemimpin suatu kaum hakikatnya adalah pelayan mereka.” (HR Abu Nu‘aim)

Dengan prinsip itu, beliau memimpin rakyat dengan kasih sayang, keadilan, dan amanah, baik kepada muslim maupun nonmuslim.

Kepemimpinan beliau kemudian dilanjutkan oleh para khulafaur rasyidin yang menjaga kemurnian sistem pemerintahan Islam, yakni Khilafah. Namun, jika menoleh pada kondisi umat Islam hari ini, tampak betapa jauhnya keadaan dari teladan Rasulullah saw. Kemiskinan merajalela; banyak keluarga muslim hidup dalam kesulitan meski negeri-negeri Islam kaya akan sumber daya alam. Kezaliman dan ketidakadilan meluas; hukum tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Rakyat kecil dihukum berat, sementara pejabat korup justru dilindungi, dan pajak semakin menekan rakyat.

Kriminalitas meningkat—pembunuhan, pencurian, narkoba, dan judi daring menjerat generasi muda. Demoralisasi remaja kian parah; pergaulan bebas, hedonisme, dan hilangnya adab menjadi hal biasa. Krisis kepemimpinan pun nyata, di mana para pemimpin lebih tunduk pada kepentingan asing dan kapitalis global daripada mengurus rakyatnya sendiri.

Semua ini menunjukkan bahwa ketika umat menjauh dari aturan Islam, kehidupan dipenuhi kerusakan. Teladan Rasulullah saw. dalam kepemimpinan membuktikan bahwa Islam tidak hanya mengatur ibadah, tetapi juga pemerintahan, ekonomi, sosial, dan politik. Islam adalah agama sekaligus sistem hidup yang sempurna (kaffah).

Dalam Islam, kemiskinan diatasi melalui distribusi kekayaan yang adil lewat Baitulmal. Kezaliman dicegah dengan penerapan hukum syariat yang adil. Kriminalitas ditekan dengan sistem uqubat (sanksi) yang tegas. Generasi dilindungi melalui pendidikan Islam dan lingkungan yang sehat. Kepemimpinan diarahkan pada pelayanan, bukan kekuasaan.

Karena itu, peringatan Maulid Nabi seharusnya tidak hanya menjadi ajang seremonial tahunan. Lebih dari itu, ia harus menjadi momentum memperbarui komitmen meneladani Rasulullah saw. secara total, termasuk dalam aspek kepemimpinan dan pengaturan masyarakat. Negeri-negeri muslim yang kini terpuruk hanya bisa bangkit dengan kembali pada aturan Islam sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw.

Islam adalah solusi menyeluruh, bukan parsial. Dengan penerapan Islam secara sempurna, keberkahan dan keadilan akan terwujud di tengah masyarakat. Umat wajib memperjuangkan tegaknya Islam kaffah dengan mengikuti metode dakwah Rasulullah saw., yakni secara berjamaah bersama kelompok dakwah ideologis hingga syariat Islam kembali tegak dalam institusi Khilafah.

Inilah bukti cinta sejati kepada Rasulullah saw. dan jalan menuju kebangkitan umat. [An]

Baca juga:

0 Comments: