Lipstik Politik untuk Gaza, Kecaman Tanpa Aksi Nyata
Oleh: Dhevi Firdausi, S.T.
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Jalur Gaza terus membara. Dari hari ke hari, zionis Yahudi semakin biadab memberangus wilayah Palestina tersebut. Dunia tiada henti memantau kondisi terkini di kota suci umat Islam itu. Telah tercatat bahwa terjadi pemadaman listrik, internet, dan telekomunikasi di Gaza sejak beberapa bulan terakhir.
Tidak hanya itu, dalam kondisi penuh kesulitan hidup tersebut, zionis mengerahkan ribuan tank untuk mengepung warga sipil, tanpa peduli meski di dalamnya terdapat wanita dan anak-anak. Zionis secara kontinu berupaya mengosongkan wilayah Gaza dari penduduk aslinya agar mereka dapat menguasai Palestina sepenuhnya (Okezone.com, 27/9/2025).
Masyarakat dunia yang dulunya bersikap seolah-olah acuh terhadap kondisi Palestina, secara perlahan mulai menunjukkan rasa empati mereka. Banyak negara mulai melakukan kecaman atas serangan Israel ke Jalur Gaza. Tidak hanya itu, mereka juga melakukan embargo ekonomi terhadap zionis Yahudi tersebut. Negara-negara yang menunjukkan sikap tegas terhadap Israel di antaranya Belgia, Spanyol, Norwegia, dan lain-lain.
Pemerintah Belgia menetapkan kebijakan larangan impor barang dari Israel. Sedangkan Spanyol menerapkan undang-undang tentang pelaksanaan embargo senjata terhadap Israel. Spanyol juga membuat kebijakan melarang pesawat yang membawa senjata ke Israel memasuki wilayah udaranya. Sementara itu, Norwegia akan melakukan divestasi atau penjualan aset dari perusahaan mereka yang terdaftar di Israel. Tidak ketinggalan, Uni Eropa juga menerapkan kebijakan serupa dengan negara-negara tersebut, yakni mulai memutus hubungan ekonomi dengan zionis Yahudi.
Di negara adidaya sendiri, juga terdapat gelombang masyarakat yang menyerukan boikot terhadap produk-produk Israel. Hollywood, misalnya, banyak artis dan pemain film yang menunjukkan sikap peduli pada Palestina dengan mengirimkan surat penyeruan boikot terhadap perusahaan, festival, dan media penyiaran Israel. Surat tersebut telah ditandatangani oleh hampir lima ribu orang dalam sepekan. Bahkan, Sekjen PBB juga mengecam kebiadaban Israel dengan pernyataannya yang mengingatkan agar masyarakat dunia tidak merasa terintimidasi oleh tekanan Israel.
Namun, gelombang kecaman dan boikot masyarakat internasional terhadap Israel tersebut tidak mengubah keadaan di Gaza. Zionis Yahudi tetap bersikukuh untuk meluluhlantakkan bumi Palestina. Mereka tidak memedulikan arahan PBB, meski lembaga tersebut merupakan polisi dunia. Israel melakukan segala cara, baik strategi politik maupun militer. Salah satu langkah politiknya adalah dengan mendesak warga sipil segera bermigrasi meninggalkan wilayah Gaza. Berita dibungkam dengan membunuh para jurnalis yang meliput kondisi terkini Palestina. Bantuan dari berbagai negara berupa makanan dan obat-obatan juga dihalangi agar tidak bisa masuk ke wilayah Gaza.
Protokol Zionis, Tujuan Akhir Israel
Mereka tetap bergeming meski mendapatkan tekanan boikot dari dunia internasional, karena percaya pada Protokol Zionis tersebut. Protokol Zionis merupakan misi Israel untuk mendirikan sebuah Negara Israel Raya—negara besar yang diimpikan dengan menargetkan wilayah Palestina sebagai pusat kekuasaannya.
Tidak tanggung-tanggung, untuk mewujudkan misi terakhir tersebut, Israel menggandeng negara nomor satu di dunia, yaitu Amerika Serikat. Negara adidaya itu telah menunjukkan dukungannya secara penuh kepada Israel. AS bahkan selalu memberikan dukungan secara rutin terhadap pendudukan zionis dengan mengirimkan bantuan berupa pasukan tentara dan persenjataan. Meski telah menghabiskan triliunan dana APBN negaranya, Amerika tetap menyuplai persenjataan ke Israel.
Kecaman dan Boikot Tidak Akan Mampu Membebaskan Palestina
Dunia saat ini sedang dikuasai oleh sistem kapitalisme global. Sistem kehidupan ini berasal dari negara Barat. Dasar dari sistem kapitalisme adalah pemisahan agama dari kehidupan, atau yang biasa disebut dengan sekularisme. Sistem ekonomi kapitalisme menjadikan manfaat materi sebagai tujuan atas semua aktivitas.
Dalam sistem kapitalisme, kerja sama antarnegera dibangun atas asas saling menguntungkan. Jika dikaitkan dengan kondisi Gaza, boikot yang diserukan oleh negara-negara di dunia saat ini hanya sekadar lipstik politik belaka. Hal ini karena pemerintahan dari negara-negara tersebut tetap menjalin kerja sama, baik secara ekonomi maupun politik, dengan zionis Yahudi. Mereka tidak berani dengan tegas memutuskan ikatan kerja sama karena masih melihat adanya keuntungan dari hubungan bilateral dengan Israel.
Palestina Membutuhkan Tegaknya Khilafah
Dalam sistem sekuler kapitalisme ini, kejahatan Israel bisa dipastikan akan semakin membabi buta. Oleh karena itu, sistem fasad tersebut harus diganti dengan sistem kehidupan terbaik, yaitu sistem Islam. Dalam Islam, tidak hanya sebatas kecaman, tetapi tentara Islam juga akan dikirim untuk membebaskan Palestina dari cengkeraman Israel. Tentara tersebut berada di bawah satu kepemimpinan, yaitu komando khalifah. Dengan komando sang khalifah, para pasukan tidak akan tercerai-berai dalam sekat negara. Mereka akan bersatu padu, meski berasal dari wilayah yang berbeda.
Khilafah—sistem kepemimpinan yang diwariskan oleh Rasulullah saw.—akan menjadi perisai umat. Khilafah akan melindungi umat manusia dari penjajahan, apa pun bentuknya.
Ketika kita membaca Sirah Nabawiyah, akan tergambar dengan jelas bahwa kaum Yahudi merupakan komunitas yang paling memusuhi umat Islam. Pada masa Rasulullah saw. juga terdapat kaum Yahudi, di antaranya Yahudi Qainuqo’, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah. Mereka akhirnya diusir oleh Nabi Muhammad saw. dari wilayah Daulah Islam karena berkhianat.
Bahkan, sikap kaum Yahudi yang licik ini juga terdapat dalam kitab suci Al-Qur’an. Allah Swt. telah menjelaskan dalam QS. Al-Maidah: 82, yang artinya:
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.”
Sepertinya, jiwa pengkhianat yang ada pada kaum Yahudi di masa Rasulullah saw. secara turun-temurun diwariskan sampai pada generasi mereka saat ini. Zionis bermimpi ingin mengubah Palestina menjadi Negara Israel Raya dengan mengusir penduduk muslim di dalamnya.
Alhasil, kecaman dan pemboikotan saja tidak akan mampu membebaskan Palestina. Gaza membutuhkan hal yang lebih dari itu, yaitu tegaknya Daulah Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah. Hanya dengan bersatunya umat Islam di seluruh penjuru dunia, di bawah kepemimpinan khalifah, yang akan mampu melumpuhkan Israel. Bahkan, tidak hanya bumi Palestina, Khilafah akan melindungi umat manusia dari segala bentuk penjajahan. [My]
Baca juga:
0 Comments: