Intersepsi Kapal GSF, Dunia Butuh Khilafah untuk Selamatkan Palestina
Oleh. Alfi Ummu Arifah
(Pegiat Literasi Islam Kota Medan)
SSCQMedia.Com — Tak bisa berkata-kata. Dunia bingung akan pongahnya sikap Isr4el. Juga betapa ciutnya negara-negara bangsa yang hanya diam membisu. Beberapa negara seperti Malaysia dan Turki akhirnya mengecam saat menyaksikan tindakan brutal pasukan Isr4el yang menangkap 201 orang dalam konvoi bantuan kemanusiaan untuk Jalur Gaza, Global Sumud Flotilla (GSF), Rabu (1/10).
Juru bicara GSF, Saif Abukeshek, mengatakan bahwa 201 orang tersebut berasal dari 37 negara, di antaranya 30 orang dari Spanyol, 22 dari Italia, 21 dari Turki, dan 12 dari Malaysia.
Penahanan terjadi saat rombongan kapal GSF mulai mendekati perairan Gaza. Berdasarkan unggahan GSF di media sosial, terdapat 13 kapal GSF yang dicegat dalam aksi ini. Namun, tak usah bersedih dulu, karena masih ada 30 kapal GSF yang berhasil menghindari pasukan Isr4el dan melanjutkan pelayaran ke Jalur Gaza. Dikutip dari Aljazeera, jaraknya hanya 46 mil laut (85 kilometer) dari perairan Gaza (cnnIndonesia.com, 2/10/2025).
Beberapa tanggapan kecaman dari pemimpin negara-negara di dunia pun bermunculan. Kementerian Luar Negeri Turki mengecam intersepsi yang dilakukan Isr4el terhadap kapal-kapal GSF. Kemlu Turki menyatakan bahwa tindakan militer semacam ini membahayakan warga sipil yang tidak bersalah.
Dari bumi Malaysia, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim juga mengutuk keras “intimidasi dan arogansi” pasukan Isr4el tersebut. Menurutnya, tindakan menghalangi misi kemanusiaan ini menunjukkan penghinaan total, tidak hanya terhadap hak-hak rakyat Palestina, tetapi juga terhadap hati nurani dunia. Armada tersebut merupakan wujud solidaritas, kasih sayang, dan harapan bagi mereka yang diblokade. “Mengapa masih dihalangi, padahal hanya untuk menjalankan misi kemanusiaan semata?” tulis Anwar dalam unggahan di X.
Demikianlah yang kita saksikan hari ini. Upaya melaksanakan misi kemanusiaan tidaklah mudah. Tak ada yang ditakuti oleh Isr4el. Bahkan terhadap bantuan kemanusiaan sekalipun mereka bersikap kejam. Begitu besar kebencian mereka terhadap upaya pihak lain menolong warga Palestina yang telah mereka bantai.
Perlu kita tanyakan beberapa hal ini:
Mengapa sulit sekali negara-negara di dunia untuk membebaskan Palestina? Mengapa Isr4el begitu takut dengan bantuan makanan, popok, susu, dan pakaian ketika sampai di tangan warga Gaza? Kekuatan seperti apa yang dapat menggentarkan Isr4el agar mereka berhenti membantai warga Palestina dan meninggalkan tanah Palestina? Adakah kekuatan yang mampu membuat Isr4el berhenti memusuhi Palestina dan kaum Muslimin?
Pertanyaan-pertanyaan itu berkelindan di benak siapa pun yang masih memiliki nurani. Namun, kita akan sampai pada satu jawaban saja: bahwa Palestina memiliki sejarah yang tak terpisahkan dengan Daulah Khilafah. Daulah inilah yang sejak awal membebaskan Palestina dari penjajahan Romawi pada masa Khalifah Umar bin Khaththab ra. Lalu dibebaskan kembali oleh Shalahuddin Al-Ayyubi dan dijaga oleh Daulah Khilafah hingga 1916, ketika Balfour—pimpinan Inggris—menyerahkan wilayah itu kepada entitas Zionis Yahudi. Sejak itulah Palestina dirampas sejengkal demi sejengkal hingga kini tersisa sedikit saja.
Maka dapat dikatakan, bantuan kemanusiaan adalah hal baik—niat dan kesungguhannya patut diapresiasi. Namun, untuk benar-benar membebaskan Palestina, dibutuhkan solusi yang mengikuti jejak sejarah sebelumnya.
Kita membutuhkan kapal-kapal perang dari negara-negara dunia untuk mengusir entitas itu dari bumi Palestina. Mengapa diusir? Karena mereka tidak mau hidup bersama dengan mengakui tanah yang dirampas itu sebagai milik Palestina. Jika mereka tetap menolak hidup berdampingan, maka tak ada cara lain kecuali mengusir mereka dari bumi Palestina. Tentu saja, hal ini memerlukan pemimpin yang berani melawan kekuatan dunia, menentang keputusan-keputusan PBB, dan menolak hak veto yang timpang di lembaga dunia tersebut.
Namun, jika faktanya semua negara di dunia hari ini tidak berani dan memilih bungkam demi keamanan negerinya, maka tak ada jalan lain kecuali berharap pada satu kekuatan bernama Khilafah.
Khilafah Islam memang belum berdiri hari ini. Kaum Muslim masih berjuang memperjuangkannya sesuai thariqah dakwah Rasulullah saw. Beberapa gerakan yang ada, seperti Hizbut Tahrir dan lainnya, memiliki tujuan menegakkan sistem pembebas tersebut.
Berharap pada pemimpin penakut hari ini hanya akan menimbulkan kekecewaan. Harapan sesungguhnya ada pada perjuangan menegakkan khilafah. Maka, dakwah yang harus kita serukan ke seluruh dunia adalah dakwah untuk menegakkan khilafah, agar Palestina dan negeri-negeri terjajah dapat dimerdekakan dari penjajahan. Saat Daulah Khilafah itu tegak, saat itulah kekuatan Islam yang sejati akan mengirimkan kapal-kapal perang untuk melawan Isr4el dan sekutunya. Dengan cara inilah entitas Yahudi itu akan hengkang dari Palestina. Palestina hanya bisa dimerdekakan oleh Khilafah.
Semoga kehadiran kapal-kapal kemanusiaan ini memantik kesadaran kaum muslimin sedunia akan pentingnya khilafah. Semoga mendorong negara-negara muslim untuk mewujudkan Khilafah lebih cepat, demi kemerdekaan Palestina dan negeri-negeri terjajah lainnya. Semoga tidak lama lagi. Aamiin.
Wallahu a’lam bishshawab. [My]
Baca juga:
0 Comments: