Gen Z: dari Kesadaran Politik ke Kriminalisasi
Oleh:[Al Dema
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Gelombang demonstrasi Agustus lalu meninggalkan luka yang belum sembuh. Polisi menetapkan 959 orang tersangka, termasuk 295 anak di bawah umur (metrotvnews.com, 24/09/2025). Sebuah angka mencengangkan sekaligus ironi di negeri yang mengaku menjunjung tinggi demokrasi. Komnas HAM hingga KPAI mengingatkan adanya pelanggaran hak anak, namun suara itu seolah tenggelam dalam hiruk-pikuk narasi “anarkisme” (komnasperempuan.go.id, 3/09/2025).
Fenomena ini menyingkap kenyataan pahit akan kesadaran politik generasi muda, khususnya Gen Z, yang terkena kriminalisasi. Padahal, kehadiran mereka di jalanan adalah bukti bahwa apatisme yang selama ini dituduhkan pada generasi digital tidak sepenuhnya benar. Mereka mulai peka, berani bersuara, dan menuntut perubahan atas ketidakadilan yang mereka rasakan.
Namun, apa balasannya? Label kriminal, stempel anarkis, intimidasi penyidikan. Semua ini seakan menjadi cara halus untuk menakut-nakuti agar generasi muda tidak lagi kritis terhadap penguasa. Demokrasi yang katanya menjamin kebebasan berpendapat ternyata hanya ramah bagi suara yang sejalan. Sebaliknya, suara yang mengancam status quo segera dijegal.
Inilah paradoks demokrasi-kapitalisme yang makin jelas terlihat. Kita tidak boleh lupa, sejarah bangsa ini dibangun oleh keberanian pemuda. Dari Sumpah Pemuda hingga Reformasi, suara anak muda selalu menjadi pemantik perubahan besar. Menutup ruang kritis mereka sama saja dengan mengkhianati masa depan bangsa.
Islam bahkan telah menorehkan sejarah gemilang tentang peran pemuda. Pada masa Rasulullah saw., pemuda adalah barisan terdepan dalam perjuangan. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, yang masih remaja, berani menggantikan posisi Rasulullah di ranjang saat peristiwa hijrah, mempertaruhkan nyawanya demi Islam. Usamah bin Zaid, di usia 17 tahun, dipercaya Rasulullah memimpin pasukan besar yang terdiri dari sahabat senior untuk berperang melawan Romawi Timur. Sementara Mus’ab bin Umair, pemuda yang ditugaskan Rasulullah ke Yatsrib, menjadi duta dakwah yang membuka jalan lahirnya masyarakat Islam pertama di Madinah.
Pasca wafatnya Rasulullah saw., sejarah juga mencatat peran pemuda dalam perluasan wilayah Islam. Di bawah kepemimpinan Khulafaur Rasyidin dan setelahnya, generasi muda menjadi motor penaklukan negeri-negeri besar. Islam menyebar hingga Persia, Romawi, Mesir, Syam, bahkan menyeberang ke Afrika Utara dan Andalusia. Semua itu tidak mungkin terjadi tanpa pemuda yang terbina akidahnya, terarah visinya, dan besar keberaniannya.
Rasulullah saw. bersabda:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).
Inilah bukti nyata bahwa pemuda dalam Islam bukanlah kelompok liar yang mudah diprovokasi, melainkan agen perubahan yang beradab, visioner, dan berorientasi pada rida Allah.
Di sinilah Islam menghadirkan solusi yang hakiki. Amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban, termasuk mengoreksi penguasa ketika berbuat zalim. Islam tidak melihat kritik sebagai ancaman, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab moral seorang muslim. Lebih dari itu, dalam sistem Islam, pemuda ditempa dengan pendidikan berbasis akidah Islam. Kesadaran politik mereka tidak liar dan emosional, tetapi terarah untuk memperjuangkan rida Allah, bukan sekadar meledak-ledak tanpa arah.
Kriminalisasi terhadap kesadaran politik Gen Z bukan sekadar masalah hukum. Ia adalah cermin rapuhnya demokrasi sekaligus ancaman bagi masa depan bangsa. Sudah saatnya energi kritis generasi muda diarahkan, bukan dipatahkan. Dan hanya Islam kaffah yang mampu menyalurkan semangat perubahan itu ke jalan yang benar, mulia, dan bermakna, sebagaimana sejarah Islam telah membuktikannya.
[Hz]
Baca juga:
0 Comments: