Oleh: Al Dema
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Gaza hari ini bukan sekadar berita duka, melainkan cermin nyata kegagalan moral dan politik dunia. Serangan demi serangan terus menghujani, blokade menjerat rakyat sipil, dan ribuan korban berjatuhan tanpa ada jaminan perlindungan. Di tengah situasi itu, dunia internasional kembali melontarkan solusi lama, yaitu solusi dua negara (m.tribunnews.com, 23/09/2025).
Namun, solusi ini tak lebih dari sekadar fatamorgana. Faktanya, yang disebut “negara Palestina” hanya tinggal serpihan wilayah, sementara mayoritas tanah umat Islam telah dicaplok Israel (kompas.com, 27/09/2025).
Mengapa solusi ini terus dipromosikan? Karena ia aman bagi kepentingan geopolitik, meski mengorbankan keadilan. Dengan dalih perdamaian, solusi dua negara justru mengabadikan penjajahan dan menyingkirkan hak-hak rakyat Palestina. Maka, pertanyaannya bukan lagi apakah solusi itu berhasil atau gagal, melainkan mengapa kita masih terus menelan ilusi itu?
Kenyataan ini menegaskan bahwa persoalan Palestina tidak akan selesai dengan kompromi politik parsial. Solusi hakiki hanya lahir ketika umat Islam memiliki sistem negara yang menerapkan Islam secara kaffah. Sistem itulah yang menyatukan umat di bawah satu kepemimpinan, menegakkan hukum Allah dalam seluruh aspek kehidupan, serta menempatkan keadilan dan kemanusiaan sebagai orientasi utama, bukan kepentingan pragmatis segelintir elite.
Rasulullah saw. telah memperingatkan kondisi umat yang terpecah, meski jumlahnya banyak.
“Akan datang suatu masa, bangsa-bangsa akan mengerumuni kalian sebagaimana orang-orang yang lapar mengerumuni hidangan.”
Para sahabat bertanya, “Apakah saat itu jumlah kami sedikit, ya Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Bahkan kalian saat itu banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan. Allah mencabut rasa takut dari musuh-musuh kalian dan menanamkan wahn di hati kalian.”
Mereka bertanya, “Apakah wahn itu?”
Rasul menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud).
Hadis ini relevan dengan kondisi hari ini mengenai umat Islam yang berjumlah miliaran, namun tercerai-berai tanpa arah. Mereka terjebak dalam logika negara-bangsa yang masing-masing sibuk dengan kepentingan domestik, sementara penderitaan Gaza dibiarkan tanpa perlindungan nyata. Tanpa sistem negara Islam yang kaffah, kekuatan umat hanya sebatas angka tanpa makna.
Sejarah justru membuktikan sebaliknya. Ketika Islam diterapkan secara kaffah, pemuda-pemuda muslim tampil sebagai pelopor perubahan besar. Di masa Rasulullah saw., pemuda seperti Usamah bin Zaid memimpin pasukan di usia belia. Di masa Khulafaur Rasyidin, ekspedisi Islam menyebar hingga menaklukkan dua imperium besar, Romawi dan Persia. Semua itu bukan hasil jumlah semata, melainkan keberkahan dari sistem Islam yang menumbuhkan kesadaran akidah, ketaatan syariat, dan keberanian untuk menegakkan keadilan.
Maka, jelaslah bahwa Gaza tak butuh ilusi dua negara, melainkan butuh sebuah sistem yang menegakkan Islam secara kaffah. Sistem inilah yang akan menyatukan kekuatan umat, mengakhiri dominasi zalim, dan membawa keadilan bagi seluruh manusia.
Saat umat kembali pada Islam kaffah, maka penderitaan Gaza bukan sekadar narasi duka yang berulang, melainkan awal dari babak baru peradaban. Inilah panggilan sejarah, inilah amanah akidah, dan inilah jalan menuju kemuliaan sejati.
[Hz]
Baca juga:
0 Comments: