Oleh: Ummu Ahtar
(Anggota Komunitas Setajam Pena)
SSCQMedia.Com—Penggunaan media sosial telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita. Platform-platform seperti Instagram, YouTube, TikTok, dan lainnya telah mengubah cara kita berinteraksi, berbagi, bahkan memandang diri sendiri. Namun, di balik semua kemudahan dan konektivitas itu, media sosial juga memberikan dampak buruk bagi penggunanya.
Lonely in the Crowd
Lonely in the Crowd merupakan istilah bagi seseorang yang sangat aktif di dunia maya, tetapi minim interaksi sosial di dunia nyata. Fenomena ini menarik perhatian mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY yang melakukan riset berjudul “Loneliness in the Crowd: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Fenomena Kesepian di TikTok melalui Konfigurasi Kajian Hiperrealitas Audiovisual.”
Dari hasil riset tersebut ditemukan keterkaitan antara penggunaan media sosial yang berlebihan dengan rasa kesepian, insecure, bahkan gangguan kesehatan mental. Hal ini disebabkan oleh algoritma media sosial yang menciptakan efek domino. Jika seseorang sering melihat konten bertema kesepian, maka algoritma akan menampilkan lebih banyak konten serupa di linimasa, sehingga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental (detik.com, 18/09/2025).
Bahaya Media Sosial bagi Penggunanya
Banyak masyarakat menjadikan media sosial sebagai hiburan atau sarana untuk mengisi waktu luang. Ada pula yang menjadikannya tempat pelampiasan emosi di tengah kesibukan. Sayangnya, banyak konten FYP justru memberikan dampak buruk karena tidak melalui proses penyaringan sesuai usia. Misalnya, konten yang menampilkan aurat, kriminalitas, kemewahan, dan gaya hidup hedon yang bisa menjerumuskan pengguna.
Kebanyakan dari generasi Z dan generasi Alfa cenderung merasa kesepian dan insecure. Mereka mengikuti FOMO atau tren viral demi popularitas di media sosial. Konten dari selebritas dan affiliator yang menampilkan kehidupan mewah sering kali membuat pengguna merasa hidupnya tidak sempurna. Akibatnya, muncul rasa rendah diri dan stres.
Selain itu, kebiasaan scrolling tanpa batas membuat pengguna kecanduan, lupa waktu, lelah mental, depresi, dan kehilangan produktivitas. Banyak yang menunda pekerjaan hanya karena terlalu asyik bermain media sosial.
Media sosial juga menampilkan berbagai filter yang mempercantik diri secara instan. Hal ini membuat sebagian orang kehilangan kepercayaan diri dan lebih sibuk memperindah tampilan dibanding mengembangkan kemampuan. Belum lagi maraknya cyberbullying yang menimbulkan trauma dan depresi. Banyak pula kasus penyalahgunaan data pribadi dan foto pengguna oleh pihak tak bertanggung jawab.
Penyebaran hoaks dan informasi negatif yang tidak terbendung juga sangat berbahaya. Konten-konten seperti ini memengaruhi pola pikir generasi muda, menjadikan mereka antisosial, minim kepedulian, dan kurang komunikatif.
Bahaya Arus Kapitalisme
Tanpa disadari, kita telah terseret arus kapitalisme yang menonjolkan kebebasan tanpa batas, mengesampingkan agama, dan mengagungkan materi. Di era digital ini, banyak konten yang menampilkan kesempurnaan semu—kecantikan, kemewahan, hingga gaya hidup glamor.
Kecantikan perempuan diekspos bebas, zina ditampilkan terang-terangan, riba dianggap hal biasa, dan segala sesuatu diukur dengan materi. Akibatnya, pola pikir generasi muda menjadi rusak.
Lahirnya generasi yang lemah, strawberry generation, dan insecure adalah efek dari sistem ini. Mereka dipaksa berpikir bahwa kesempurnaan dunia adalah segalanya, padahal semua itu hanyalah fatamorgana. Kesibukan scrolling yang monoton, minim literasi, dan dangkalnya pemahaman agama membuat generasi Muslim kini kurang produktif.
Padahal Allah berfirman:
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 110)
Islam dalam Menyikapi Media Sosial
Masyarakat harus menyadari bahwa penggunaan media sosial yang tidak dikelola dengan bijak akan menjadikan banyak orang makin antisosial dan merasa kesepian di tengah keramaian. Fenomena ini jelas merugikan umat karena melahirkan generasi yang tidak produktif dan kurang peduli terhadap sesama.
Seorang muslim harus menjadikan Islam sebagai identitas utama agar tidak menjadi korban sistem sekuler dan liberal. Islam mewajibkan dakwah sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama dengan cara yang baik dan penuh hikmah, sebagaimana firman Allah:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik...”
(QS. An-Nahl [16]: 125)
Media sosial seharusnya menjadi sarana dakwah kekinian untuk menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dakwah harus tetap menjaga adab sesuai syariat: tidak menjelekkan fisik orang lain, tidak bergosip (ghibah), dan tidak memfitnah.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: waktu mudamu sebelum datang masa tuamu, waktu sehatmu sebelum datang masa sakitmu, waktu luangmu sebelum datang masa sibukmu, waktu kayamu sebelum datang masa miskinmu, dan hidupmu sebelum datang matimu.”
(HR. al-Hakim)
Islam juga melarang mengumbar aurat, bertabaruj, serta menampakkan kecantikan di hadapan publik sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nur ayat 31 dan QS. Al-Ahzab ayat 59.
Peran Negara dalam Pengelolaan Media Sosial
Negara memiliki peran besar dalam menyaring konten-konten perusak moral. Negara harus bekerja sama dengan lembaga penyiaran untuk melindungi masyarakat dari konten pornografi, kekerasan, hoaks, dan segala hal yang bertentangan dengan nilai Islam.
Selain itu, negara wajib melindungi data pribadi warga agar tidak disalahgunakan oleh pihak tak bertanggung jawab. Dengan demikian, konten yang beredar di masyarakat akan berisi edukasi, literasi, dan solusi Islami terhadap berbagai permasalahan umat.
Hanya dalam sistem Islam, yaitu Khilafah, negara benar-benar menjalankan tanggung jawab ini secara menyeluruh. Khilafah menerapkan syariat Islam secara kaffah di seluruh aspek kehidupan, termasuk pengaturan media dan teknologi.
Allah berfirman:
“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?”
(QS. Al-Ma’idah [5]: 50)
Wallahualam bissawab. []
Baca juga:
0 Comments: