Headlines
Loading...
Santri Nasionalis? Santri Itu Ideologis!

Santri Nasionalis? Santri Itu Ideologis!

Oleh: Rida N. Jannah
(Aktivis Dakwah Muslimah)

SSCQMedia.com—Setiap 22 Oktober, kita memperingati Hari Santri Nasional. Jika ditarik ke akar sejarahnya, peringatan ini bukan sekadar seremoni. Hari Santri merujuk pada Resolusi Jihad yang difatwakan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari pada 1945. Resolusi tersebut bukan hanya seruan cinta tanah air, melainkan juga fatwa jihad fi sabilillah untuk melawan penjajah.

Dari sini, kita menyadari bahwa ada fakta sejarah yang kerap dikaburkan dalam buku-buku pelajaran sekuler, yaitu kemerdekaan Indonesia tidak lahir dari nasionalisme semata. Kemerdekaan juga diperjuangkan melalui semangat ideologi Islam yang diusung para santri dan ulama. Pesantren saat itu bukan lembaga pinggiran, melainkan benteng pertahanan ideologis sekaligus basis perjuangan umat.

Sayangnya, hari ini makna santri seolah dipersempit. Santri hanya identik dengan penjaga tradisi, pembaca kitab kuning, atau simbol toleransi. Padahal, potensi terbesar santri sebagai pembawa perubahan bagi umat justru perlahan-lahan disingkirkan dari panggung.

Lalu, Siapa Hakikat Santri yang Sebenarnya?

Dalam pandangan Islam, posisi santri sangat fundamental. Santri bukan sekadar label kultural. Ia merupakan perwujudan syakhshiyah islamiyah, yaitu kepribadian Islam yang utuh.

Ada dua hal yang membentuk seorang santri sejati. Pertama, aqliyah islamiyah atau pola pikir Islam. Artinya, akidah Islam dijadikan landasan berpikir, sedangkan standar halal dan haram menjadi tolok ukur dalam menilai sesuatu. Kedua, nafsiyah islamiyah atau pola sikap Islam, yaitu seluruh perilakunya terikat dengan syariat.

Di sinilah perbedaan antara santri ideologis dan sekadar pelajar agama. Seorang santri tidak memisahkan agama dari kehidupan. Baginya, Islam bukan hanya urusan ibadah ritual di pesantren, melainkan sebuah mabda' atau ideologi yang mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk urusan negara dan politik.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nizhamul Islam menjelaskan:

Al-mabda' huwa 'aqidah 'aqliyah yanbatsiqu 'anha nizham.

Artinya, ideologi adalah akidah rasional yang terpancar darinya suatu sistem kehidupan.

Dengan demikian, dalam pandangan penulis, jika seorang santri hanya mengambil akidah tanpa menerapkan sistem yang bersumber darinya, keislamannya belum sempurna. Semangat Resolusi Jihad 1945 bukan sekadar untuk mengganti penjajah Belanda dengan sistem peninggalan kolonial, melainkan juga menjadi momentum perjuangan menegakkan nilai-nilai Islam.

Dalam kitab Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah Juz I, beliau juga menegaskan:

La yakunu al-muslimu syakhshiyatan islamiyyatan illa idza kanat 'aqliyatuhu islamiyah wa nafsiyatuhu islamiyah.

Artinya, seorang Muslim tidak akan memiliki kepribadian Islam kecuali jika pola pikir dan pola sikapnya berlandaskan Islam.

Hal ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi kita pada momentum Hari Santri. Apakah pesantren hari ini sudah mencetak santri yang memiliki syakhshiyah islamiyah secara utuh? Ataukah hanya mencetak santri yang menguasai fikih ibadah, tetapi gagap ketika ditanya tentang sistem ekonomi Islam, sistem pemerintahan Islam, dan sistem pergaulan Islam?

Islam sendiri sangat memuliakan para penuntut ilmu (thalibul ilmi). Allah Swt. berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

"Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11)

Ayat ini menegaskan bahwa orang berilmu bukanlah golongan yang rendah kedudukannya. Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu selama ilmu tersebut mengantarkan mereka pada keimanan dan ketaatan.

Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

"Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)

Bahkan, Rasulullah saw. memosisikan ulama sebagai pewaris para nabi:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ

"Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka mewariskan ilmu. Oleh karena itu, tugas santri sebagai waratsatul anbiya bukan hanya menjaga masjid dan mengajarkan Al-Qur'an, tetapi juga melanjutkan estafet kepemimpinan keilmuan untuk membimbing umat keluar dari kegelapan menuju cahaya Islam.

Jangan sampai Hari Santri hanya berhenti pada upacara, lomba selawat, dan ziarah makam. Jika semangat santri hanya dirayakan secara seremonial, kita justru mengabaikan nilai perjuangan para ulama pada 1945.

Momentum ini seharusnya menjadi sarana muhasabah bersama. Sudah saatnya santri kembali pada jati dirinya sebagai pengemban ideologi Islam. Santri harus berada di garda terdepan dalam menyadarkan umat bahwa kemuliaan Islam tidak akan kembali kecuali dengan menerapkan Islam secara kaffah dalam seluruh sendi kehidupan.

Wallahualam bissawab. [An/Wa]

Baca juga:

0 Comments: