Pembunuhan Sadis Hanya Terjadi dalam Sistem Kapitalis
Oleh: Imas Sunengsih, S.E., M.E.
Aktivis Muslimah Intelektual
SSCQMedia.com — Pembunuhan sadis kembali terjadi. Seorang suami tega menghabisi nyawa istri sirinya dan anak sambungnya. Motif pembunuhan tersebut masih didalami oleh Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim).
Dilansir dari Kompas.com pada 27 Oktober 2026, Polda Jatim masih mendalami motif Dwi Bagus Martono (DBM), pria asal Kota Madiun yang tega membunuh istri sirinya, DH (34), serta anak sambungnya, AGF (4). Dugaan sementara mengarah pada dendam yang dipicu oleh persoalan rumah tangga.
Kasus pembunuhan terus terjadi di negeri ini. Bahkan, berdasarkan data Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Bareskrim Polri periode 1 Januari hingga 14 Agustus 2025, tercatat 671 kasus pembunuhan. Dari jumlah tersebut, motif kesengajaan mencapai 33,97 persen.
Meningkatnya kasus pembunuhan dengan berbagai modus dan kekerasan tidak terlepas dari sistem yang diterapkan, yaitu kapitalisme. Sistem ini dinilai telah melahirkan manusia-manusia yang jauh dari keimanan dan rentan dikuasai hawa nafsu. Aturan agama tidak lagi dijadikan pedoman dalam kehidupan, bahkan dipisahkan dari berbagai aspek kehidupan. Akibatnya, sebagian orang dapat melakukan kejahatan tanpa mempertimbangkan dosa dan akibat perbuatannya. Hawa nafsu serta ambisi untuk membalas dendam justru lebih dikedepankan.
Sangat berbahaya jika seorang muslim mengadopsi sistem kapitalisme karena sistem ini dianggap menjauhkan manusia dari agamanya. Agama dipisahkan dari tatanan kehidupan sehingga tidak lagi menjadi landasan dalam mengatur berbagai urusan. Potret buruknya dapat kita saksikan hari ini melalui berbagai kasus pembunuhan dengan cara yang mengerikan, seperti mutilasi dan pembakaran. Bahkan, ada kasus yang melibatkan tindakan di luar batas kemanusiaan. Astagfirullah.
Sistem yang rusak ini harus segera ditinggalkan dari kehidupan kaum muslim. Umat Islam harus kembali kepada tatanan kehidupan yang diatur berdasarkan sistem Islam. Keimanan kaum muslim juga harus dibangun melalui pendidikan berasaskan akidah Islam yang kokoh sehingga terbentuk kepribadian Islam.
Dengan demikian, generasi yang lahir diharapkan menjadi generasi berkualitas, tidak memelihara dendam terhadap sesama muslim, tetapi justru menumbuhkan kasih sayang dan memperkuat ukhuwah Islamiah. Allah Swt. berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati." (QS. Al-Hujurat [49]: 10).
Dalam Islam, sesama muslim adalah saudara. Ikatan persaudaraan ini dilandaskan pada akidah Islam sehingga menjadi persaudaraan yang kuat. Persaudaraan sesama muslim tidak dibatasi oleh sekat-sekat negara dan nasionalisme. Oleh karena itu, ikatan persaudaraan ini harus senantiasa dijaga dan diperkuat.
Penerapan sistem Islam secara kafah dalam negara Khilafah diyakini akan mempersaudarakan kaum muslim di seluruh dunia dalam ikatan keimanan. Bahkan, nyawa seorang muslim dipandang sangat berharga. Negara akan memberikan perlindungan terhadap jiwa manusia. Bagi pelaku pembunuhan yang disengaja, Islam menetapkan sanksi qisas sesuai ketentuan syariat.
Sanksi tegas ini diharapkan dapat memberikan efek jera kepada pelaku sekaligus menjadi pelajaran bagi orang lain agar tidak melakukan kejahatan serupa. Selama sistem Islam tidak diterapkan secara kafah, perlindungan terhadap nyawa manusia belum terwujud secara optimal. Salah satu gambaran buruknya adalah kasus seorang suami yang membunuh istrinya, padahal suami merupakan pemimpin dalam rumah tangga yang seharusnya melindungi keluarga dari berbagai bahaya dan membimbing mereka agar terhindar dari api neraka.
Fungsi kepemimpinan pun dinilai tidak berjalan sebagaimana mestinya, baik suami sebagai pemimpin rumah tangga maupun pemimpin negara yang bertanggung jawab mengurus rakyatnya. Padahal, pemimpin memiliki peran strategis dalam mengurus dan melindungi rakyat. Kepemimpinan harus dijalankan dengan amanah serta tanggung jawab penuh.
Pemimpin muslim saat ini dinilai lebih mengutamakan kepentingan pihak-pihak tertentu daripada penerapan syariat Islam secara kafah sebagaimana diperintahkan Allah Swt. Kondisi ini menjadi persoalan serius yang tidak boleh dibiarkan. Ketiadaan penerapan sistem Islam secara menyeluruh dinilai turut membuka ruang bagi lahirnya berbagai kebijakan zalim yang merugikan rakyat.
Upaya yang dapat dilakukan adalah memperjuangkan perubahan dari sistem yang dianggap rusak menuju sistem Islam secara kafah, disertai hadirnya pemimpin yang memenuhi kriteria kepemimpinan Islam. Pemimpin yang amanah akan terwujud melalui penerapan sistem Islam secara menyeluruh. Sejarah peradaban Islam selama berabad-abad menjadi salah satu rujukan untuk melihat bagaimana sistem tersebut pernah diterapkan.
Sistem Islam secara kafah diyakini akan menciptakan peradaban agung sekaligus melahirkan manusia-manusia beradab yang memiliki keimanan dan ketakwaan kokoh. Sosok muslim seperti inilah yang didambakan umat sekaligus menjadi bagian dari upaya mewujudkan umat Islam terbaik.
Mari satukan langkah dan songsong kemenangan. Sistem Islam secara kafah diharapkan kembali tegak sebagai bagian dari janji Allah Swt. dan kabar gembira Rasulullah saw. Oleh karena itu, kerahkan segala daya dan upaya untuk meraih kemenangan tersebut bersama kelompok ideologis yang senantiasa memperjuangkan tegaknya kehidupan Islam.
Wallahu a'lam bissawab. [ry/PR]
Baca juga:
0 Comments: