Oleh: Resti Ummu Faeyza
(Kontributor SSCQ Media)
SSCQMedia.com—Persoalan yang menimpa rakyat Indonesia datang silih berganti. Mulai dari sulitnya mendapatkan pekerjaan, mahalnya kebutuhan pokok, hingga dampak efisiensi anggaran pemerintah. Belum selesai persoalan tersebut, kini masyarakat juga harus menghadapi meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah. Kebakaran ini tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam keselamatan masyarakat. Bahkan, puluhan ribu anak dilaporkan mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kondisi ini tidak bisa dianggap sebagai persoalan biasa. Ada yang perlu dievaluasi secara mendasar dalam tata kelola negara dan pengurusan urusan rakyat.
Hasil survei KedaiKOPI menunjukkan bahwa 74,7% pemuda Indonesia menilai sulit mendapatkan pekerjaan (Kompas TV, 31/10/2026). Mencari pekerjaan memang semakin menjadi perjuangan tersendiri bagi banyak orang. Jutaan orang masih berstatus pengangguran. Bukan hanya lulusan sekolah menengah atas, bahkan para sarjana pun merasakan sulitnya memperoleh pekerjaan. Tidak cukup sampai di situ, mereka yang telah memiliki pekerjaan pun belum tentu mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya secara layak.
Harga kebutuhan pokok juga terus menjadi persoalan yang menghantui rumah tangga. Para ibu harus semakin cermat mengatur uang belanja. Penghasilan yang diperoleh sering kali hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hari itu. Bahkan, tidak sedikit keluarga yang harus mengurangi kualitas makanan, menunda kebutuhan pendidikan, atau mengorbankan kebutuhan kesehatan demi bertahan hidup.
Di sisi lain, kebijakan efisiensi dan penyesuaian anggaran pemerintah turut menimbulkan pertanyaan besar. Ketika anggaran daerah mengalami tekanan, bagaimana nasib pelayanan publik? Bagaimana keberlangsungan pembangunan fasilitas pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan berbagai program yang bersentuhan langsung dengan kehidupan rakyat?
Belum selesai persoalan ekonomi, negeri ini juga terus berhadapan dengan kerusakan lingkungan. Kebakaran hutan dan lahan kembali terjadi di berbagai wilayah. Hutan terbakar, udara tercemar, habitat satwa rusak, dan masyarakat harus menanggung dampaknya. Bencana yang berulang semestinya membuat kita bertanya: mengapa persoalan yang sama terus muncul dan begitu sulit dituntaskan?
Semua ini bukan sekadar deretan berita yang lewat di layar ponsel. Di balik setiap angka statistik, ada manusia yang sedang berjuang. Ada ayah yang kebingungan mencari pekerjaan. Ada ibu yang memutar otak agar uang belanja cukup sampai akhir pekan. Ada anak-anak yang masa depannya bergantung pada kualitas pendidikan yang mereka terima. Ada pula masyarakat yang harus menghirup udara tercemar akibat kebakaran hutan.
Indonesia, Sudah Saatnya Sadar!
Kita tidak boleh hanya sibuk memperdebatkan kebijakan demi kebijakan, kemudian melupakan persoalan paling mendasar yang ada di baliknya. Sebab, persoalan kehidupan tidak selalu selesai hanya dengan mengganti pejabat, mengubah program, atau mengeluarkan kebijakan baru.
Ada sesuatu yang jauh lebih mendasar untuk kita pertanyakan: dengan aturan siapa kehidupan ini diselenggarakan?
Selama ini, manusia dengan segala keterbatasan akal dan kepentingannya diberikan ruang begitu besar untuk menentukan bagaimana kehidupan harus diatur. Berbagai keputusan mengenai ekonomi, pendidikan, politik, pengelolaan sumber daya alam, hingga hubungan sosial dibangun berdasarkan pemikiran dan sistem buatan manusia.
Padahal, manusia adalah makhluk yang memiliki keterbatasan. Pengetahuannya tidak pernah mencakup seluruh hakikat kehidupan. Kepentingannya bisa berubah, pandangannya bisa keliru, bahkan kebijakannya bisa menguntungkan sebagian pihak sekaligus merugikan pihak lainnya.
Ketika aturan kehidupan tidak menjadikan petunjuk Sang Pencipta sebagai landasan, bukankah kita sedang mempertaruhkan nasib manusia dan alam kepada aturan yang memiliki keterbatasan?
Allah Swt. bukan sekadar Zat yang menciptakan alam semesta, tetapi juga Zat Yang Maha Mengetahui bagaimana seluruh ciptaan-Nya seharusnya menjalani kehidupan.
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur'an:
"Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (QS. Al-Maidah: 50).
Ayat ini seharusnya menjadi bahan renungan mendalam. Jika Allah Swt. adalah Pencipta manusia, alam semesta, dan seluruh isinya, mengapa manusia justru merasa cukup dengan aturan yang dibuat berdasarkan keterbatasannya sendiri?
Islam bukan hanya agama yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya melalui ibadah ritual. Islam memiliki seperangkat aturan kehidupan yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya, pengelolaan harta, perekonomian, pendidikan, peradilan, pemerintahan, hingga penjagaan lingkungan.
Dalam pandangan Islam, kekayaan alam bukan sekadar komoditas yang dapat dieksploitasi tanpa batas. Kekuasaan bukan alat untuk memperkaya segelintir orang. Negara memiliki tanggung jawab mengurus urusan rakyat, menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar, melindungi jiwa dan harta, serta memastikan keadilan dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat.
Demikian pula, pembangunan ekonomi tidak semestinya hanya diukur dari angka pertumbuhan, investasi, atau keuntungan. Keberhasilannya juga harus terlihat dari terpenuhinya kebutuhan hidup rakyat, terbukanya lapangan pekerjaan, terjaganya kesejahteraan, dan terlindunginya lingkungan.
Karena itu, perubahan yang dibutuhkan Indonesia bukan sekadar perubahan kosmetik. Bukan hanya pergantian pemimpin atau program kerja. Yang diperlukan adalah perubahan paradigma dan sistem pengaturan kehidupan dengan menjadikan aturan Allah Swt. sebagai landasan dalam seluruh aspek kehidupan.
Tentu, perubahan semacam ini membutuhkan kesadaran, ilmu, perjuangan, dan keterlibatan masyarakat. Tidak cukup hanya mengeluh, marah, atau menyalahkan keadaan. Kita perlu kembali mempelajari Islam secara menyeluruh, memahami bagaimana aturan-Nya mengatur kehidupan, serta memperjuangkan penerapannya melalui jalan yang benar.
Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Penduduknya pun memiliki potensi besar. Namun, semua potensi itu membutuhkan pengaturan yang benar agar benar-benar menjadi sumber kesejahteraan, bukan justru menjadi sumber persoalan yang terus berulang.
Jangan sampai kita terlalu sibuk mengobati gejala, tetapi tidak pernah berani menyentuh akar persoalannya.
Indonesia wajib sadar. Rakyat berhak hidup sejahtera, alam harus dijaga, dan kehidupan membutuhkan aturan yang berasal dari Zat Yang Maha Mengetahui. Sudah saatnya kita kembali kepada aturan Sang Pencipta, Allah Swt.
Wallahu a'lam bishawab. [Rn/En]
Baca juga:
0 Comments: