Karhutla dan Abainya Negara: Ribuan Balita Terserang ISPA
Oleh: Pudji Arijanti
Pegiat Literasi untuk Peradaban
SSCQMedia.com— Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga hari ini masih membara dan belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Belum terlihat tindakan nyata negara untuk memadamkan api hingga benar-benar padam. Korban pun berjatuhan. Jumlah penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sangat mengkhawatirkan, terutama pada balita usia 0–5 tahun yang terdampak mencapai 62.400 kasus atau 22,5 persen.
Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan RI, jumlah penderita ISPA di tujuh provinsi terdampak mencapai 277.075 kasus hingga 12 Oktober 2026.
Dari 1.691 puskesmas di wilayah terdampak, hanya 827 puskesmas yang memiliki nebulizer, 1.070 puskesmas memiliki tabung oksigen, dan 1.502 puskesmas memiliki konsentrator oksigen (oxygen concentrator). Padahal, nebulizer dan tabung oksigen menjadi sarana penunjang penanganan pasien dengan gangguan pernapasan (CNN, 14 Oktober 2026).
Kelalaian Terstruktur
Lambannya negara menangani kasus ini menunjukkan kegagalan dalam menjaga umat dan generasi. Seharusnya dipahami bahwa sistem kekebalan tubuh balita belum sepenuhnya matang. Laju pernapasan anak juga lebih cepat sehingga mereka menghirup lebih banyak udara beracun per satuan berat badan.
Ironisnya, bencana yang berkepanjangan ini belum dapat ditangani secara memadai. Bahkan, negara enggan menetapkannya sebagai bencana nasional. Negara dengan sistem politik kapitalisme tidak mau terbebani anggaran dan pengerahan sumber daya untuk rakyatnya. Kapitalisme lebih mengutamakan kepentingan ekonomi daripada keselamatan nyawa rakyat.
Dengan demikian, kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya negara belum cukup untuk melindungi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak yang menjadi tumpuan peradaban emas.
Lemahnya mitigasi yang diperparah oleh alih fungsi hutan gambut menjadi perkebunan sawit menjadikan anak-anak sebagai kelompok paling rentan menanggung dampak kesehatan jangka panjang. Gangguan paru-paru dan penurunan kualitas tumbuh kembang, misalnya, dapat berpengaruh terhadap kesehatan mereka pada masa mendatang.
Khilafah Menjaga Generasi
Miris, selama bertahun-tahun rakyat menyerahkan urusan hidupnya kepada sistem kapitalisme yang kebijakannya tidak berpihak kepada rakyat. Lahan milik umum diperjualbelikan atas nama investasi, kemudian dibakar tanpa memedulikan penderitaan rakyat akibat kabut asap karhutla.
Padahal, sebagaimana sabda Rasulullah saw., kaum muslim berserikat dalam tiga perkara, yaitu air, padang rumput (hutan atau lahan umum), dan api (HR. Abu Dawud dan Ahmad).
Lalu, apa yang dapat diharapkan dari sistem saat ini? Padahal, negara Islam, yakni Khilafah, memiliki fungsi junnah (pelindung) sekaligus ra'in (pengurus rakyat).
Jika terjadi bencana atau kebakaran, Khilafah akan bergerak cepat karena menyangkut keselamatan jiwa manusia. Negara juga akan mengerahkan sumber daya secara maksimal melalui Baitulmal. Selain itu, tanggung jawab Khilafah mencakup penjagaan ruang hidup rakyat, termasuk hutan yang menopang ketersediaan air, udara bersih, dan penghidupan mereka.
Khilafah akan melakukan mitigasi terbaik, mulai dari memetakan wilayah rawan kebakaran, mengawasi hutan dan lahan, hingga menyiagakan petugas serta sarana pemadam kebakaran. Negara juga akan memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana kesehatan, termasuk tenaga medis, obat-obatan, dan fasilitas pelayanan kesehatan agar rakyat yang terdampak asap karhutla mendapatkan penanganan secara tepat dan optimal. Seluruh upaya ini merupakan tanggung jawab Khilafah dalam menjaga keselamatan jiwa.
Khilafah secara nyata melindungi rakyat dengan menerapkan hukum-hukum Allah. Di bawah kepemimpinan seorang khalifah, rakyat merupakan amanah yang wajib dijaga. Harta, jiwa, kesehatan, dan keselamatan rakyat, termasuk perlindungan terhadap generasi penerus, menjadi tanggung jawab negara.
Lalu, mengapa masih meragukannya? Saatnya umat berhukum dengan hukum Allah agar keberkahan hidup meliputi seluruh alam.
Wallahu a'lam bishawab. [My/Des]
Baca juga:
0 Comments: