Headlines
Loading...
Tragedi di Tempat Pengungsian, Nyawa Rakyat Tak Lagi Berharga

Tragedi di Tempat Pengungsian, Nyawa Rakyat Tak Lagi Berharga

Oleh: Rara Al-Haqqi
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Masih porak-poranda lokasi setelah gempa di NTT. Akhirnya, warga harus tinggal di tempat pengungsian dengan fasilitas terbatas demi keamanan dan keselamatan. Hal ini diduga menjadi salah satu faktor banyaknya warga yang meninggal dunia di pengungsian.

Mengejutkan! Sebanyak 94 orang meninggal dunia di pengungsian. Jumlah ini lebih banyak daripada korban yang meninggal ketika gempa berlangsung, yakni 48 orang. Menurut Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, “Data dari tim medis menunjukkan, sebagian besar warga tersebut adalah kelompok lansia yang meninggal dunia karena komplikasi penyakit kronis yang sudah diderita, seperti stroke dan diabetes melitus” (news.republika.co.id, 17 September 2026).

Atas kondisi ini, Wakil Ketua Komisi IX DPR, Charles Honoris, mengaku prihatin. Karena itu, audit harus memastikan kondisi riil di lapangan, terutama yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan. Sebab, dia yakin ada yang tidak beres jika jumlah korban meninggal lebih banyak di pengungsian dibandingkan saat gempa (cnnindonesia.com, 19 September 2026).

Nasib Korban Gempa Semakin Terpuruk

Sudah jatuh tertimpa tangga, begitulah nasib pengungsi pascagempa di NTT. Setelah selamat dari bencana alam gempa, ternyata ujian masih berlanjut dengan minimnya layanan dan fasilitas medis di tempat pengungsian. Apalagi, cuaca saat ini sedang tidak bersahabat. Ketika siang hari suhu sangat panas, sedangkan malam harinya suhu begitu dingin. Maka, wajar jika pengungsi yang rentan kesehatannya tidak mampu bertahan.

Akan tetapi, minimnya fasilitas kesehatan bagi pengungsi merupakan bukti ketidaksiapan, kelemahan, dan kelalaian negara dalam menghadapi kondisi pascabencana. Sebab, bencana alam yang terjadi di Indonesia bukan sekali atau dua kali, tetapi sudah sering terjadi. Tentu, kondisi ini bisa menjadi pelajaran bagi negara agar lebih siap dan sungguh-sungguh meriayah rakyatnya.

Sayangnya, peran negara saat ini tidaklah demikian. Negara lebih memilih menangani korban bencana secara apa adanya dan seminimal mungkin. Mereka tidak peduli apakah rakyatnya kelaparan, kedinginan, kepanasan, sehat, atau sakit. Nyawa rakyat seolah tidak lagi berharga di benak negara. Yang terpenting, negara sudah mengeluarkan anggaran untuk membantu korban bencana alam, meskipun jauh dari cukup.

Begitulah watak negara dalam sistem kapitalisme sekuler. Negara hanya bergerak sesuai dengan keuntungan yang didapat. Sementara itu, nasib rakyat menjadi tanggungan masing-masing individu. Akibatnya, fungsi negara sebagai pelayan rakyat tidak berjalan optimal. Di benak mereka, rakyat adalah beban. Termasuk rakyat yang tertimpa bencana dianggap menambah beban negara. Maka, wajar jika nasib rakyat sering dikorbankan dan tidak mendapatkan hak-haknya.

Kesehatan Terjamin dalam Islam

Lain halnya dalam sistem Islam. Setiap jiwa wajib dilindungi dan mendapatkan hak dasar berupa kesehatan, keamanan, dan keselamatan yang dijamin oleh negara. Sebab, nyawa rakyat itu berharga dan menjadi tanggung jawab negara. Otomatis, negara akan mengupayakan semaksimal mungkin agar rakyatnya sejahtera dan terjamin kehidupannya. Negara juga tidak main-main dalam urusan yang berhubungan dengan rakyatnya.

Sebab, negara dalam sistem Islam berfungsi sebagai ra'in yang meriayah dan junnah (pelindung) rakyat. Dengan demikian, rakyat akan hidup dalam ketenangan dan kedamaian karena nasib mereka ada yang menjamin. Sehingga, tidak akan ada rakyat yang terbengkalai atau terkatung-katung nasibnya. Secara tidak langsung, kehidupan dunia sudah terpenuhi sehingga rakyat akan lebih fokus mempersiapkan kehidupan di akhirat.

Begitu pula ketika terjadi bencana alam. Negara akan menjadi garda terdepan untuk menyelamatkan dan memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya, seperti menyediakan tempat pengungsian yang aman, memadai, dan memiliki fasilitas lengkap, termasuk fasilitas kesehatan.

Sistem kesehatan dalam Islam ditopang oleh sistem ekonomi dan keuangan Islam. Dengan demikian, negara akan menjamin pemenuhan kebutuhan kesehatan individu rakyat secara optimal dan maksimal, baik dalam kondisi normal maupun darurat, termasuk ketika terjadi bencana alam.

Negara wajib menyediakan sarana kesehatan, rumah sakit, obat-obatan, tenaga medis, dan sebagainya secara mandiri. Sebagaimana dalam hadis:

“Hilangnya dunia lebih ringan bagi Allah daripada terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. An-Nasa'i, At-Tirmidzi, dan disahihkan Al-Albani)

Artinya, negara akan selalu menjaga hak-hak rakyatnya. Jadi, tidak ada rakyat yang hidup dalam kesia-siaan dalam sistem Islam.

Wallahu a'lam bisshawab.[MA/IWP]

Baca juga:

0 Comments: