Tiga Tahun Thufan al-Aqsha: 20.748 Pelajar Palestina Gugur
Oleh: Setyorini
Komunitas Ibu Peduli Negeri
SSCQMedia.com—Pada Oktober 2026, peristiwa Thufan al-Aqsha telah memasuki tahun ketiga sejak pecah pada 7 Oktober 2023. Peristiwa tersebut menjadi simbol kuatnya tekad sebuah bangsa yang telah terlalu lama menderita akibat penjajahan. Berlandaskan keimanan, bangsa Palestina berani melakukan perlawanan dan tetap tegak berdiri demi meraih kemerdekaan.
Meskipun harus mengorbankan nyawa, harta, dan keluarga, puluhan ribu korban yang berjatuhan tidak menyurutkan semangat perlawanan mereka.
Menurut Kementerian Pendidikan Palestina, sebanyak 20.748 pelajar Palestina dan 1.058 tenaga pendidikan serta tenaga administrasi meninggal dunia di Jalur Gaza dan Tepi Barat selama tiga tahun konflik berlangsung (MetroTV News, 7 Oktober 2026).
Dalam periode yang sama, pasukan Israel juga meningkatkan serangan di Tepi Barat. Akibatnya, sebanyak 1.210 warga Palestina meninggal dunia, 13.350 orang terluka, dan tidak kurang dari 24.600 orang ditahan.
Kebrutalan Zionis sungguh tak terkendali. Mereka begitu jumawa, seolah-olah tidak ada kekuatan yang mampu menghentikan tindakan mereka dalam membumihanguskan Palestina.
Kebrutalan Zionis
Serangan brutal Zionis Israel merupakan tindakan yang dinilai sengaja dilakukan untuk mewujudkan tujuan utamanya, yakni genosida dan perampasan wilayah Palestina. Mereka menganggap perang sebagai satu-satunya cara untuk memperoleh dan memperluas wilayah jajahan. Oleh karena itu, mereka tidak segan-segan menghilangkan keberadaan penduduk setempat.
Hal ini menjadi bukti kebiadaban yang dapat disaksikan secara nyata. Kebiadaban terhadap warga Palestina terlihat dari perlakuan Zionis terhadap penduduk sipil yang menjadi sasaran serangan, tidak terkecuali para pelajar dan fasilitas pendidikan. Padahal, para pelajar dan fasilitas umum seperti sekolah seharusnya mendapatkan perlindungan. Kejahatan perang yang mereka lakukan seolah tidak terkendali.
Sikap yang Ditunjukkan
Dalam menyikapi penjajahan ini, para pemimpin negara adidaya justru bersatu dan bergandengan tangan dalam melanggengkan penjajahan Zionis. Mereka bahkan menyuplai senjata kepada Zionis, seperti yang dilakukan Inggris, Prancis, Jerman, dan negara-negara lainnya.
Dukungan Barat kepada Zionis merupakan hal yang dianggap wajar dalam kerangka kepentingan mereka karena keberadaan Zionis di tanah Palestina dipandang sebagai sesuatu yang penting demi menjaga kepentingan Barat. Inggris menjadi pihak yang membidani kelahirannya, sedangkan Amerika Serikat merupakan pendukung utama Zionis selama puluhan tahun. Bahkan, AS secara terang-terangan menjadi pemasok senjata yang digunakan dalam serangan terhadap Palestina.
Begitu pula lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Perannya dinilai mandul dan seolah kehabisan cara dalam mewujudkan kemerdekaan ataupun sekadar memberikan rasa aman bagi warga Palestina. PBB membingkai penjajahan di Palestina sebagai isu kemanusiaan yang justru dikhawatirkan dapat memadamkan perlawanan dan mengukuhkan dominasi penjajah Zionis.
Demikian pula para penguasa Muslim. Sejatinya, mereka dinilai sedang melakukan pengkhianatan terhadap nasib saudara-saudara mereka sendiri. Terutama para penguasa Arab yang secara geografis lebih dekat dengan Palestina, maupun penguasa dunia Islam secara keseluruhan. Kemampuan yang mereka tunjukkan sebatas kecaman belaka. Mata mereka seolah buta, telinga mereka tuli, dan hati mereka mati terhadap kebiadaban yang dilakukan penjajah Zionis. Mereka dinilai tidak memiliki daya dan upaya serius untuk menghentikannya.
Lihatlah, para penguasa negeri-negeri Muslim tanpa banyak pertimbangan membolehkan sebagian wilayahnya dijadikan pangkalan militer AS. Mereka pun menerima solusi dua negara yang ditawarkan Barat untuk menyelesaikan konflik. Bahkan, sebagian penguasa Muslim, termasuk Indonesia, bergabung dengan BOP meskipun sejak awal mengetahui struktur, penggagas, dan pemimpin BOP tersebut tidak lain adalah Amerika Serikat.
Padahal, bukan rahasia lagi bahwa AS memiliki rekam jejak panjang dalam berbagai tindakan intervensi terhadap negara lain. Sejumlah invasi, kudeta, dan penghancuran terjadi di negeri-negeri Muslim, seperti Afganistan, Libya, Irak, Iran, Suriah, Sudan, dan masih banyak lagi.
Butuh Kekuatan Global
Melihat akar persoalan Palestina, yakni bercokolnya penjajah yang didukung negara-negara Barat, terutama Inggris dan Amerika Serikat, sikap yang harus dilakukan menurut pandangan penulis adalah mengusir penjajah tersebut. Salah satu jalan yang ditawarkan adalah pengerahan kekuatan militer negeri-negeri Muslim melalui perjuangan jihad fi sabilillah.
Oleh karena itu, kesempatan ini seharusnya dimanfaatkan oleh para penguasa negeri-negeri Muslim. Ini juga menjadi momentum bagi para pemimpin militer untuk mengambil tanggung jawab dalam upaya membela Palestina demi meraih rida Allah Swt. dan Rasul-Nya.
Dalam konflik ini, umat Islam sejatinya tidak hanya menghadapi Zionis yang memiliki sekitar sembilan juta penduduk dan 600 ribu personel militernya, tetapi juga kekuatan global yang bersatu dan saling mendukung. Kekuatan global tersebut siap mengerahkan kemampuan militernya. Oleh karena itu, dibutuhkan kekuatan global baru yang mampu memperjuangkan pembebasan Palestina.
Paradigma Jihad
Jihad merupakan ajaran Islam yang memiliki ketentuan dan aturan syariat. Jihad dalam pengertian perang dilakukan untuk menegakkan agama Allah. Ajaran ini akan senantiasa ada dalam kehidupan umat Islam sebagai bagian dari ketentuan agama.
Rasulullah saw. telah memberikan teladan perjuangan dalam menegakkan Islam di Madinah. Bahkan, ketika beliau dalam keadaan sakit menjelang wafat, beliau masih mempersiapkan pengiriman pasukan menuju wilayah Romawi dengan mengutus Usamah bin Zaid sebagai pemimpinnya.
Ketika saudara-saudara kita di Palestina diperangi, umat Islam memiliki kewajiban untuk membela dan menolong mereka. Perlawanan terhadap penjajahan merupakan bagian dari upaya mempertahankan hak dan kemerdekaan. Sebagaimana firman Allah Swt.:
"Perangilah mereka di mana saja kamu temui dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu." (QS. Al-Baqarah: 191).
Dalam sistem pemerintahan Islam (Khilafah), jihad ditujukan untuk membebaskan manusia dari kekufuran, bukan menjadi alat penjajahan atau sarana menghilangkan nyawa manusia secara keji seperti genosida demi memperoleh wilayah.
Jihad juga menjadi bagian dari upaya melawan penjajahan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan keadilan. Dengan demikian, kesadaran umat Islam perlu dibangun agar senantiasa menjaga kehormatan dan kewibawaan kaum Muslimin sesuai dengan petunjuk syariat.
Namun, syariat Islam dalam peperangan juga memiliki aturan yang jelas. Islam melarang tindakan perusakan wilayah dan permukiman warga sipil. Perlindungan terhadap perempuan, anak-anak, dan lanjut usia harus senantiasa diperhatikan. Fasilitas umum pun tidak boleh dijadikan sasaran serangan. Semua ini menunjukkan kemuliaan ajaran Islam.
Khatimah
Apa yang terjadi di Palestina menyadarkan kita betapa pentingnya persatuan umat Islam. Umat ini juga membutuhkan pelindung dan pemimpin yang satu agar dapat berjuang bersama dalam satu komando. Sekat-sekat negara (nasionalisme) dinilai telah melemahkan dan membuat negeri-negeri Muslim tercerai-berai.
Sementara itu, berharap kepada PBB dan negara-negara Barat untuk menyelesaikan persoalan Palestina dianggap sebagai ilusi yang sulit terwujud karena mereka dinilai turut menjadi bagian dari persoalan tersebut.
Karena itu, umat Islam membutuhkan kehadiran seorang khalifah sebagai pemimpin kaum Muslim sedunia. Rasulullah saw. bersabda:
"Sesungguhnya imam (khalifah) itu adalah perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Keberadaan institusi Khilafah diyakini dapat menghentikan kolonialisme, dominasi, dan hegemoni Barat saat ini. Khilafah merupakan kepemimpinan global kaum Muslim untuk menerapkan syariat Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia.
Hanya dengan sistem kehidupan Islam dan persatuan yang berlandaskan akidah Islam, nyawa, harta, dan jiwa manusia dapat terjaga serta terlindungi sehingga peradaban dunia dapat memancarkan keadilan dan kedamaian.
Wallahu a'lam bish-shawab. [Rn/AA]
Baca juga:
0 Comments: