Oleh: Wilda Nusva Lilasari
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—
Jika di langit ada matahari yang cahayanya menerangi bumi, sebagai manusia yang hidup di tengah sistem kehidupan yang suram ini, kita membutuhkan cahaya untuk menuntun langkah menuju masa depan.
Meski cahaya itu kadang seperti kilatan petir yang singkat, ia mampu menyentak kesadaran, asalkan kita tidak enggan melanjutkan pencarian. Sebagaimana firman Allah Swt.:
اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يُزْجِيْ سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهٗ ثُمَّ يَجْعَلُهٗ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلٰلِهٖۚ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ جِبَالٍ فِيْهَا مِنْۢ بَرَدٍ فَيُصِيْبُ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَصْرِفُهٗ عَنْ مَّنْ يَّشَاۤءُۗ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهٖ يَذْهَبُ بِالْاَبْصَارِۗ ٤٣
“Tidakkah engkau melihat bahwa sesungguhnya Allah Swt. mengarahkan awan secara perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu menjadikannya bertumpuk-tumpuk. Maka, engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Dia (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung. Maka, Dia menimpakannya (butiran-butiran es itu) kepada siapa yang Dia kehendaki dan memalingkannya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan.”
(QS. An-Nur: 43)
Kita membutuhkan cahaya sebagai petunjuk arah dalam hidup. Di situlah aku menemukan gurunda. Dalam perjalanan menuntut ilmu, kita tidak bisa berjalan sendiri. Kita membutuhkan guru, seseorang yang membawa cahaya dalam hidup kita: cahaya ilmu, cahaya kebenaran, dan cahaya Islam sebagai pedoman kehidupan.
Ia mengenalkan Allah Swt. sebagai Pencipta sekaligus Pengatur. Ia menjelaskan kondisi dunia hari ini sekaligus menghadirkan solusi Islam dengan penuh kesabaran.
Perjuangan ini bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dalam satu atau dua hari. Ini adalah proses panjang yang melelahkan, yang hasilnya tidak selalu tampak oleh mata. Waktu, harta, kedudukan, tenaga, dan pikiran dicurahkan demi sebuah cita-cita yang besar.
Gurunda, atau yang dalam bahasa Sanskerta disebut guru, dimaknai sebagai penghapus kegelapan. Maka, benar adanya, guru adalah cahaya dalam kehidupan. Ilmu adalah karunia dari Allah Swt. Dialah yang memberikan keberkahan dan pemahaman.
Hal yang paling kuingat adalah bahwa ilmu perlu dimurojaah, yaitu dengan terus mengulang dan menguatkan pemahaman, menjadikannya sebagai tolok ukur dalam mengamalkan, serta menumbuhkan qanaah agar kita merasa cukup atas apa yang dimiliki sehingga ringan untuk terus berbagi.
Darinya, aku melihat sosok manusia yang ikhlas, sabar, teguh, dan berani dalam kebenaran. Ia bersungguh-sungguh dalam membela iman. Ketika lelah, ia selalu kembali kepada-Mu, Sang Maha Cinta.
Diajarkan pula mengenai cinta dan benci karena Allah Swt. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan, “Al-mar’u ma’a man ahabba” yang berarti seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya. Dari beliau, aku belajar bahwa kehidupan tanpa aturan Allah Swt. akan terasa hampa dan melelahkan. Ia memberiku arah serta menghadirkan solusi, bukan sekadar ilusi.
Sebagai seorang pelajar Gen Z yang menyayangi gurunda, sering kali terlintas pertanyaan: apa yang bisa aku lakukan untuk menghargainya?
Karena sejatinya, persembahan terbaik bukanlah hadiah atau pujian. Semua itu terasa kecil dibandingkan dengan pengorbanan beliau. Waktu, tenaga, dan pemikiran yang telah dicurahkan tidak akan pernah bisa dibalas dengan materi.
Dari challenge ini, aku tersadar kembali bahwa yang beliau inginkan bukanlah balasan duniawi. Yang beliau harapkan adalah perubahan dalam diri ini, menjadi pribadi yang lebih baik dalam Islam. Mengamalkan ilmu yang telah diajarkan, menjaga akhlak, dan yang terpenting, meneruskan kebaikan yang telah ditanamkan. Inilah yang disebut sebagai amal jariah.
Ilmu yang diajarkan akan terus mengalir pahalanya selama ilmu itu diamalkan dan disebarkan. Sebagaimana yang sering beliau sampaikan, “Mulailah, lakukan, dan istiqamahlah.”
Seperti peristiwa Iduladha yang segera tiba, kita diingatkan tentang pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. dan keteguhan Nabi Ismail a.s. dalam ketaatan.
Allah Swt. berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ
“Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”
(QS. Al-Kautsar: 2)
Di hari itu, kita belajar bahwa salat dan kurban dilaksanakan semata-mata hanya untuk Allah Swt., bukan untuk selain-Nya, sebagai wujud rasa syukur atas nikmat yang banyak. Cinta kepada Allah Swt. harus lebih besar daripada apa pun. Kita belajar bahwa pengorbanan adalah bukti keimanan.
Allah Swt. juga mengingatkan:
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ
“Daging dan darah (hewan kurban) itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Maka, persembahan terbaik untuk gurunda bukanlah sesuatu yang tampak oleh mata, tetapi ketakwaan yang tumbuh dalam diri ini. Kesungguhan untuk berubah, menjaga akhlak, melaksanakan amanah, dan meneruskan perjuangan dakwah yang telah diajarkan.
Iduladha menjadi momen introspeksi: sejauh mana ilmu telah diamalkan dan sejauh mana kita siap berkorban di jalan ketaatan. Sebesar apa pun tantangan Gen Z hari ini, dengan beragam arus distraksi, gaya hidup hedonis, hingga tekanan dunia digital, aku ingin membuktikan bahwa pribadi yang dibentuk dengan keimanan Islam tidak akan mudah menyerah.
Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 3:
“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu …”
Maka, yang kupilih dengan penuh kesadaran adalah berjalan dalam cahaya Islam dengan tujuan yang jelas, yakni melanjutkan kembali kehidupan Islam.
Saatnya membawa generasiku bangkit dan siap menyalakan api kemenangan untuk menghapus kesuraman.
Takbir! Takbir! Takbir!
Wallahu a’lam bissawab.
[Ni/HEM]
Baca juga:
0 Comments: