Headlines
Loading...
Mahar Kesabaran: Kurban Terbaik untuk Guru Hidupku

Mahar Kesabaran: Kurban Terbaik untuk Guru Hidupku

Oleh: Yanti Fariidah
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Orang bilang, guru adalah mereka yang berdiri di depan kelas dengan kapur atau spidol di tangan. Namun, bagiku, guru terbaikku justru duduk tepat di meja makan yang sama setiap pagi atau yang punggungnya sering kulihat basah oleh peluh saat ia pulang bekerja. Guru itu adalah suamiku.

Tahun ini, suasana menjelang Iduladha terasa berbeda di rumah kami. Ada sebuah kerinduan yang membuncah di mata suamiku setiap kali kami melewati deretan penjual hewan kurban di pinggir jalan. Aku tahu apa yang ia pikirkan. Aku tahu ada nama yang ingin ia titipkan di atas seekor domba atau sapi. Namun, aku juga tahu bahwa tabungan yang kami kumpulkan dengan susah payah telah luruh, habis tak bersisa demi sebuah ketenangan hidup.

Beberapa waktu lalu, kami harus mengambil keputusan besar untuk berpindah rumah. Bukan karena ingin mengejar kemewahan, melainkan demi menjaga marwah dan menghindari gesekan yang lebih dalam dengan kakak kandungnya. Masalah keluarga adalah ujian yang menguras energi sekaligus materi. Biaya pindah rumah dan segala perintilannya menelan habis simpanan yang rencananya akan kami gunakan untuk berkurban tahun ini.

Di titik itulah, suamiku kembali mengajarkan sebuah pelajaran yang tidak ada di buku teks mana pun: pelajaran tentang ikhlas.

Belajar Sabar dari Diamnya

Suamiku mungkin belum berada dalam barisan dakwah yang sama denganku secara struktural. Ia belum ikut dalam lingkaran-lingkaran diskusi yang sering kuhadiri. Namun, dalam diamnya, ia mempraktikkan "militansi" yang sesungguhnya. Ia mengajarkanku bahwa berdakwah bukan hanya tentang retorika di atas mimbar, melainkan tentang bagaimana seorang laki-laki tetap berdiri tegak melindungi keluarganya meski hatinya mungkin sedang remuk.

Ia mengajarkanku tentang ayat yang begitu agung dalam Surah Al-Hajj ayat 34:

"Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)."

Ia sering berbisik, "Nduk, kurban itu simbol kepatuhan. Kalau tahun ini kita belum bisa menyembelih hewan, jangan sampai kita menyembelih harapan kita kepada Allah."

Kalimat itu memukulku telak. Ia adalah guru yang mengajarkan bahwa "tunduk patuh" yang dimaksud dalam ayat tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk penerimaan terhadap takdir yang belum sesuai dengan keinginan.

Militansi dalam Perjuangan Hidup

Meski kami harus memulai lagi dari nol di rumah yang baru, aku melihat perjuangannya tidak luntur. Ia bekerja lebih keras, pulang lebih larut, dan tetap memastikan bahwa aku serta anak-anak tidak kekurangan rasa aman. Inilah dakwahnya. Ia mendakwahiku lewat perbuatan bahwa menjadi muslim yang kuat berarti tidak mudah menyerah saat ujian menghantam.

Kesabarannya menghadapi masalah dengan saudara kandungnya adalah kelas "manajemen konflik" terbaik yang pernah kuikuti. Ia memilih mengalah, memilih menjauh untuk menjaga silaturahmi agar tidak benar-benar putus, meski itu harus dibayar dengan tabungan kurban yang ludes. Di mataku, ia sedang melakukan pengorbanan yang lebih besar. Ia mengorbankan egonya, perasaannya, dan hartanya demi sebuah kedamaian.

Persembahan Terbaik

Suamiku tercinta, engkau mungkin merasa sedih karena tahun ini tidak ada hewan yang kau sembelih atas namamu. Namun, tahukah engkau? Bagiku, engkau telah menyembelih sifat kikir, memotong urat amarahmu, dan menguliti rasa putus asamu.

Bukankah Allah berfirman:

"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya."
(QS. Al-Hajj: 37)

Ketakwaanmu dalam menjaga keutuhan keluarga kita, kegigihanmu mencari nafkah yang halal, dan keikhlasanmu melepas harta demi menghindari perselisihan adalah "hewan kurban" yang aroma kebaikannya sudah sampai ke langit.

Engkau adalah guru militansi dalam hidupku. Engkau mengajarkan bahwa dakwah adalah tentang memberi, bahkan saat kita merasa kekurangan. Engkau mengajarkan bahwa ikhlas adalah saat kita mampu tersenyum melihat orang lain bahagia, meski kita sendiri sedang bertarung dengan duka.

Sebuah Doa untuk Sang Guru

Terima kasih telah menjadi teman perjalanan yang luar biasa. Terima kasih telah mengajarkanku bahwa hidup adalah tentang berpindah dari satu ujian ke ujian lain dengan kepala tegak. Jika hari ini tabungan kita kosong, aku yakin Allah sedang menyiapkan "domba pengganti", sebagaimana Dia mengganti Nabi Ismail a.s. dengan seekor domba untuk Nabi Ibrahim a.s.

Domba itu mungkin berupa kesehatanmu, keberkahan anak-anak kita, atau ketenangan di rumah baru kita ini.

Tahun depan, atau kapan pun Allah mengizinkan, kita akan berdiri bersama di samping hewan kurban kita. Namun, hingga saat itu tiba, biarlah kurban terbaik kita adalah ketaatan kepada skenario-Nya yang Mahahindah.

Terima kasih, suamiku. Terima kasih, guruku. Selamat Hari Raya Iduladha. Semoga Allah menerima setiap tetes keringatmu sebagai amal jariah yang tak terputus.

[Ni/HEM]

Baca juga:

0 Comments: