Oleh: Naila Dhofarina Noor, S.Pd.
(Kontributor SSCQMedia.com)
SSCQMedia.com — Jalur Gaza ternyata memiliki peran penting dalam pendidikan di Palestina. Proses dan hasil pendidikannya patut diacungi jempol. Angka melek huruf di wilayah ini sangat tinggi. Hal tersebut merupakan implikasi dari baiknya sistem pendidikan di Gaza, mulai dari jenjang dasar, menengah, hingga pendidikan tinggi.
Namun, konflik yang pecah pada Oktober 2023 telah mengoyak sistem pendidikan yang tengah berjalan. Sebagaimana diberitakan melalui liputan6.com, tanggal 9 Oktober 2026, hampir 98 persen bangunan sekolah di sana mengalami kerusakan, bahkan hancur luluh lantak. Pendidikan formal tatap muka selama tiga tahun terakhir pun terhenti. Akibatnya, sekitar 700.000 anak usia sekolah, yakni 4–17 tahun, tidak dapat mengenyam pendidikan sebagaimana mestinya. Bahkan, 420.000 di antaranya sama sekali tidak mendapatkan pendidikan. Lebih parah lagi, tercatat 20.000 pelajar dan guru meninggal akibat serangan Zionis yang membabi buta.
Semestinya, perang tidak menargetkan bangunan sekolah, anak-anak, maupun perempuan. Para penuntut ilmu dan pejuang pendidikan seharusnya dilindungi. Sungguh, tentara Zionis tidak memedulikan nilai-nilai kemanusiaan dan kemuliaan pendidikan. Jelaslah ini adalah kejahatan yang tidak bisa diselesaikan dengan diplomasi dan hanya bisa diselesaikan dengan bahasa perang.
Sebagaimana diketahui, Zionis Israel terus melancarkan serangan brutal yang mengakibatkan penderitaan besar bagi rakyat Palestina, disertai penghancuran berbagai fasilitas umum dan perampasan wilayah. Konflik ini tidak dapat dilepaskan dari persoalan penjajahan yang telah berlangsung lama.
Berbeda dengan itu, Islam memiliki aturan tersendiri mengenai peperangan dalam konteks negara yang menerapkan sistem Khilafah. Perang dalam Islam berkaitan dengan jihad yang memiliki ketentuan syariat. Jihad bukanlah sarana untuk melakukan penjajahan, melainkan memiliki tujuan yang diatur oleh syariat. paradigma jihad adalah membebaskan manusia dari kekufuran. Pelaksanaannya pun terikat oleh batasan-batasan yang memperhatikan nilai kemanusiaan dan kelestarian alam.
Kewajiban jihad telah banyak dibahas oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka. Al-Qur'an juga menjelaskan ketentuan mengenai peperangan, salah satunya dalam surah Al-Baqarah ayat 216:
Ùƒُتِبَ عَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ُ الْÙ‚ِتَالُ ÙˆَÙ‡ُÙˆَ ÙƒُرْÙ‡ٌ Ù„َّÙƒُÙ…ْ ۚ ÙˆَعَسٰٓÙ‰ اَÙ†ْ تَÙƒْرَÙ‡ُÙˆْا Ø´َÙŠْÙ€ًٔا ÙˆَّÙ‡ُÙˆَ Ø®َÙŠْرٌ Ù„َّÙƒُÙ…ْ ۚ ÙˆَعَسٰٓÙ‰ اَÙ†ْ تُØِبُّÙˆْا Ø´َÙŠْÙ€ًٔا ÙˆَّÙ‡ُÙˆَ Ø´َرٌّ Ù„َّÙƒُÙ…ْ ۗ ÙˆَاللّٰÙ‡ُ ÙŠَعْÙ„َÙ…ُ ÙˆَاَÙ†ْتُÙ…ْ Ù„َا تَعْÙ„َÙ…ُÙˆْÙ†َ ٢١٦
“Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Terlebih dalam situasi saat ini di Gaza, maka kewajiban jihad mencakup seluruh umat Islam di seluruh penjuru dunia. Ibarat satu anggota badan sakit, semua ikut sakit, maka umat Islam terpanggil untuk menolong saudaranya di sana. Jihad adalah cara untuk menolong agar terbebas dari penjajahan zionis Israel dan anteknya sekaligus membela kehormatan kaum muslim.
Hanya saja, upaya menggerakkan kekuatan militer untuk menghadapi agresi membutuhkan kepemimpinan dan kesatuan politik. Dalam pandangan Islam, kepemimpinan tersebut harus berlandaskan Al-Qur'an dan sunah serta menjalankan ketentuan syariat. Kekuatan politik ini adalah khilafah yang di dalamnya terdapat imam sebagai junnah (perisai) umat untuk tegas mengirim pasukan-pasukan menghadapi kebrutalan zionis Israel. Insyaallah, jika tentara muslim semua bersatu, maka kemenangan akan kita peroleh atas pertolongan dari Allah.
Dengan demikian, sistem pendidikan di Gaza diharapkan dapat kembali berjalan sebagaimana mestinya. Generasi muda dapat memperoleh pendidikan yang membentuk kepribadian mulia berlandaskan Al-Qur'an sekaligus membekali mereka dengan kecakapan hidup dan penguasaan teknologi untuk menjadi mercusuar dunia. Para guru pun dapat kembali menjalankan peran mulia dalam mendidik generasi dengan dukungan fasilitas yang memadai.
Inilah buah dari keberadaan khilafah saat semua sistem berjalan sesuai dengan panduan ilahi yang penuh berkah. [Hz/Wa]
Baca juga:
0 Comments: