Oleh: Ismayanti
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Saya ingin menulis cerita tentang persembahan kurban untuk guru tercinta. Namun, keinginan itu terasa berat karena pada kenyataannya tahun ini saya belum mampu berkurban. Dengan segala kerendahan hati, saya memohon maaf kepada Ustazah Lilik Yani dan teman-teman semua. Sebagai bagian dari program ODOJ Plus, saya merasa belum bisa memberikan yang terbaik. Perasaan bersalah itu hadir bukan karena ingin dibandingkan dengan orang lain, melainkan karena saya menyadari masih banyak kekurangan dalam diri sebagai seorang hamba.
Keadaan ekonomi keluarga kami sedang tidak baik. Sudah hampir tujuh bulan suami tidak bekerja. Qadarullah, semua yang terjadi adalah ketetapan Allah. Dalam kondisi seperti ini, saya berusaha menerima dengan ikhlas dan terus berserah diri. Sebagai seorang istri, saya harus tetap setia, memberikan semangat, motivasi, dan dukungan kepada suami serta anak-anak. Kami belajar untuk bersabar, terus bersabar, dan kembali bersabar. Terutama untuk diri saya sendiri agar tidak lelah berikhtiar dan berdoa. Saya yakin Allah pasti akan memberikan jalan keluar pada waktu yang terbaik.
Tabungan yang kami miliki perlahan habis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah anak-anak, hingga kebutuhan penunjang seperti internet. Kondisi ini membuat saya harus menerima kenyataan bahwa tahun ini belum bisa berkurban. Ada rasa malu dan sedih, bahkan terkadang muncul perasaan bahwa saya belum menjadi hamba yang baik. Saya menyadari masih banyak kelalaian dan kekurangan dalam menjalankan perintah Allah. Dalam doa, saya memohon ampun atas segala dosa dan berharap Allah tetap membimbing langkah saya.
Padahal, keinginan untuk berkurban begitu besar. Saya memahami bahwa kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi merupakan simbol ketaatan, keikhlasan, dan kepedulian. Kurban mengajarkan bahwa segala yang kita miliki sejatinya adalah titipan dari Allah dan sebagian darinya harus kita kembalikan di jalan-Nya. Nilai inilah yang membuat saya terus merindukan kesempatan untuk bisa melaksanakannya.
Ketika melihat orang-orang di sekitar yang setiap tahun mampu berkurban, terkadang muncul rasa sedih dalam hati. Saya bertanya dalam diam, betapa Allah begitu melapangkan rezeki mereka. Namun, saya mencoba menguatkan diri dengan berhusnuzan kepada Allah. Mungkin saat ini Allah belum memberikan kelapangan rezeki kepada saya. Apa yang kita inginkan memang tidak selalu sesuai dengan harapan, tetapi saya percaya bahwa di balik setiap ketetapan-Nya pasti ada kebaikan.
Dalam kondisi seperti ini, saya justru merasakan nikmat yang berbeda. Allah memberikan kesempatan untuk lebih dekat kepada-Nya, lebih banyak beribadah, bersujud, menangis, bertafakur, dan bermuhasabah. Saya belajar untuk lebih jujur melihat diri sendiri, memperbaiki kesalahan, dan menyadari betapa seringnya lalai. Saya berharap keikutsertaan dalam program ODOJ Plus ini membawa keberkahan, rahmat, dan hidayah, sehingga saya dan keluarga bisa menjadi hamba yang lebih taat dan patuh kepada Allah.
Dalam doa, saya memohon agar tahun depan menjadi waktu yang lebih baik bagi keluarga kami. Saya berharap Allah memudahkan segala urusan dan melapangkan rezeki sehingga kami bisa menunaikan ibadah kurban. Terlebih lagi, saya ingin mempersembahkan kurban untuk guru tercinta, Ustazah Lilik Yani, sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih. Sosok guru yang selama ini memberikan ilmu, nasihat, dan motivasi telah membuka wawasan kami tentang makna pengorbanan yang sesungguhnya.
Dari beliau, saya belajar bahwa cinta kepada Allah tidak cukup diucapkan, tetapi harus dibuktikan dengan ketaatan. Pengorbanan bukan sekadar kata-kata, melainkan tindakan nyata dalam menjalankan perintah-Nya. Teladan terbesar adalah kisah Nabi Ibrahim yang dengan penuh keikhlasan menunjukkan cinta kepada Allah, bahkan ketika harus menghadapi ujian yang sangat berat. Dari kisah itu, saya belajar bahwa keikhlasan dan ketulusan adalah kunci dalam mendekatkan diri kepada Allah.
Saat ini, untuk bertahan hidup, saya mencoba berdagang. Alhamdulillah, masih ada beras yang bisa saya jual dari hasil panen yang diberikan oleh ibu mertua. Beliau dengan tulus membantu kami di tengah kesulitan ini. Saya sangat bersyukur memiliki keluarga yang saling mendukung dan tolong-menolong. Anak-anak juga berusaha saling membantu, bahkan ada yang sudah mulai bekerja untuk meringankan beban keluarga.
Saya semakin yakin bahwa Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki. Rezeki bisa datang dari arah yang tidak disangka-sangka, bahkan di saat kita sangat membutuhkannya. Allah mungkin tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tetapi Dia selalu memberikan apa yang kita butuhkan. Untuk itu, saya ingin terus bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan. Saya percaya, dengan kesabaran, usaha, dan doa, Allah akan memberikan yang terbaik pada waktunya.
[Ni/HEM]
Baca juga:
0 Comments: